Homowo: Kelaparan Yang Dirayakan Tawa

Mahasiswa universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ibrahim Miarnold Qurnia Suwardewaditto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap musim panen tiba di Ghana, suasananya mirip Lebaran di kampung — ramai, penuh tawa, dan aroma makanan khas yang semerbak. Tapi Homowo bukan perayaan biasa. Dalam bahasa suku Ga, “Homowo” berarti mengejek kelaparan. Dulu, perayaan ini lahir dari masa paceklik panjang yang pernah menimpa rakyat Ghana.

Awalnya, Homowo muncul sebagai bentuk rasa syukur setelah masa sulit. Saat panen pertama datang, masyarakat memasak bubur jagung tradisional bernama Kpokpoi lalu menyebarkannya ke tanah sebagai tanda terima kasih kepada leluhur. Dari situlah tradisi ini berkembang jadi pesta besar — dengan drum, tarian, dan tawa yang memadati desa.
Perayaan ini biasanya dipusatkan di sekitar kota Accra. Warga memasak Kpokpoi, bubur jagung tradisional, lalu menaburkannya ke tanah sebagai bentuk syukur kepada leluhur. Di jalanan, orang menari, menabuh drum, dan menyanyikan lagu kebersamaan. Suasananya riuh, tapi hangat — mirip suasana Sedekah Bumi atau Pesta Panen di Indonesia.
Homowo bukan hanya pesta panen. Ia adalah simbol ketahanan dan semangat untuk bersyukur bahkan setelah masa sulit. Lewat tawa dan musik, masyarakat Ghana mengingat bahwa kelaparan mungkin datang, tapi rasa syukur dan kebersamaan selalu lebih kuat.
Intinya: Homowo bukan sekadar festival makanan. Ia adalah cara rakyat Ghana mengubah luka menjadi tawa, dan kesulitan menjadi alasan untuk bersyukur.
