Konten dari Pengguna

Homowo: Kelaparan Yang Dirayakan Tawa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ibrahim Miarnold Qurnia Suwardewaditto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap musim panen tiba di Ghana, suasananya mirip Lebaran di kampung — ramai, penuh tawa, dan aroma makanan khas yang semerbak. Tapi Homowo bukan perayaan biasa. Dalam bahasa suku Ga, “Homowo” berarti mengejek kelaparan. Dulu, perayaan ini lahir dari masa paceklik panjang yang pernah menimpa rakyat Ghana.

Sumber : Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Pixabay

Awalnya, Homowo muncul sebagai bentuk rasa syukur setelah masa sulit. Saat panen pertama datang, masyarakat memasak bubur jagung tradisional bernama Kpokpoi lalu menyebarkannya ke tanah sebagai tanda terima kasih kepada leluhur. Dari situlah tradisi ini berkembang jadi pesta besar — dengan drum, tarian, dan tawa yang memadati desa.

Perayaan ini biasanya dipusatkan di sekitar kota Accra. Warga memasak Kpokpoi, bubur jagung tradisional, lalu menaburkannya ke tanah sebagai bentuk syukur kepada leluhur. Di jalanan, orang menari, menabuh drum, dan menyanyikan lagu kebersamaan. Suasananya riuh, tapi hangat — mirip suasana Sedekah Bumi atau Pesta Panen di Indonesia.

Sumber : Pixabay

Homowo bukan hanya pesta panen. Ia adalah simbol ketahanan dan semangat untuk bersyukur bahkan setelah masa sulit. Lewat tawa dan musik, masyarakat Ghana mengingat bahwa kelaparan mungkin datang, tapi rasa syukur dan kebersamaan selalu lebih kuat.

Intinya: Homowo bukan sekadar festival makanan. Ia adalah cara rakyat Ghana mengubah luka menjadi tawa, dan kesulitan menjadi alasan untuk bersyukur.