Tekno & Sains
·
15 Desember 2020 12:57

Misteri Bunga Bangkai Raksasa

Konten ini diproduksi oleh Dasar Binatang
Misteri Bunga Bangkai Raksasa (259536)
Amorphophallus titanum yang sedang mekar di Kebun Raya Edinburgh. Foto: Youtube .dok/Duncan Reddish
Pada Juli 2016, ribuan penduduk New York membanjiri rumah kaca yang terik di Bronx. Mereka bertekad untuk melihat sekuntum bunga berbau busuk yang kemudian disebut Amorphophallus titanum. Tanaman itu memegang rekor sebagai flora yang memiliki struktur berbunga terbesar di dunia yang tidak bercabang.
ADVERTISEMENT
Bunga raksasa ini diketahui tidak dibudidaya. Uniknya lagi waktu mekar bunga sangat langka dan tidak dapat diprediksi. Siklus mekar rata-rata terjadi setiap lima hingga 10 tahun. Dilansir dari BBC Earth, berikut cerita bunga bangkai raksasa yang membuat penasaran banyak orang.
Penduduk sekitar kota berbondong-bondong ke Kebun Raya New York pada hari Jumat di akhir bulan Juli 2016. Mereka ingin merasakan sensasi bau tak sedap, seperti bau daging yang telah membusuk yang dihasilkan oleh bunga raksasa. Bau dikeluarkan bunga selama puncak mekar dalam kurun waktu 24 sampai 36 jam.
Pada saat pertunjukan berakhir, 25.000 pengunjung dengan gembira berpose selfie dengan bunga langka itu. Sementara lainnya, jutaan orang menonton secara daring. Sebelumnya, A. titanum diketahui mekar di tempat yang sama pada tahun 1939.
ADVERTISEMENT
Anehnya, beberapa hari kemudian, bunga bangkai bermekaran di Indiana, Florida, Carolina Utara, Wisconsin, dan Distrik Columbia. Tiga hari setelah itu, sebuah tanaman di Colorado bergabung untuk mekar, diikuti runtutan mekar di Missouri, Hawaii, negara bagian Washington, New Hampshire dan Massachusetts.
Analisis kimiawi dari aroma bau berasal dari beberapa senyawa, termasuk asam isovaleric (keju, keringat), dimetil disulfida (bawang putih), dimetil trisulfida (daging membusuk), indol (kotoran) dan trimetilamina (ikan busuk). Aroma foetid muncul di larut malam dan akan berangsur-angsur berkurang menjelang pagi.
Menurut ahli Amorphophallus, Wilbert Hetterscheid dari Von Gimborn Arboretum di Doorn, Belanda, interior merah yang mencolok dan bau busuk bunga dirancang untuk memikat penyerbuk. Kandidat utama hewan penyerbuk adalah kumbang bangkai kecil. Hewan nokturnal itu mencari daging yang baru saja mati untuk bertelur.
ADVERTISEMENT
Selain menimbulkan bau tak sedap, bahan kimia juga dapat meningkatkan suhunya hingga lebih dari 36 derajat Celcius, setara dengan suhu tubuh manusia. Kondisi tersebut membantu bunga menyebarkan senyawa volatil melalui hutan tropis yang lebat. Tumbuhan raksasa itu hanya dapat berkembang biak jika kumbang dan serangga lain membawa serbuk sari di antara individu yang sedang mekar.
Energi pada bunga disediakan oleh umbinya atau akar penyimpanan dengan berat hingga 100 kilogram. Saat tidak berbunga, umbi mengirimkan satu daun bercabang besar setinggi 3 hingga 4 meter. Fotosintesis secara berkala dilakukan selama beberapa tahun untuk mengumpulkan energi yang besar hingga mekar. Bahkan ketika tiba saatnya bunga mekar, periode langka itu tidak sampai lebih dari 36 jam.
ADVERTISEMENT
Sedangkan untuk merespons pemekaran secara massal yang terjadi, Mark Hachadourian dari Kebun Raya New York, mengatakan bahwa musim panas yang sangat hangat, kering, dan panjang di timur laut Amerika Serikat dapat memicu fenomena mekar massal. Banyak spesies tanaman, dari bambu hingga anggrek, mengalami peristiwa pembungaan massal secara bersamaan.
"Setiap spesies memiliki faktor berbeda yang mengendalikan peristiwa ini. Beberapa mungkin karena perubahan iklim, lingkungan, siklus bulan, respons terhadap suhu, atau dalam beberapa kasus pembungaan massal terjadi setelah kebakaran," kata Hachadourian.
Namun penelitian tentang bunga bangkai masih dalam tahap awal. Banyak catatan yang diperlukan untuk membuktikan berbagai hipotesis secara mendalam. Dalam praktiknya, data-data berguna untuk mencari korelasi dan hubungan sebab akibat antara iklim dan mekarnya bunga bangkai.
ADVERTISEMENT