Konten dari Pengguna

Pandemi Membuat Burung Mendengar Nyanyian Satu Sama Lain

Dasar Binatang

Dasar Binatang

Menyajikan sisi unik dunia binatang, menjelajah ke semesta eksotisme lain margasatwa

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dasar Binatang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Burung Pipit Mahkota Putih. Foto: karaskye from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Burung Pipit Mahkota Putih. Foto: karaskye from Pixabay

Liz Derryberry, seorang ahli ekologi dari University of Tennessee mempelajari burung pipit mahkota putih dan bagaimana kebisingan kota menurunkan kemampuan spesies untuk berkomunikasi. Tetapi tahun ini kemunculan pandemi COVID-19 memaksa sebagian besar warga San Fransisco tinggal di rumah.

Derryberry memanfaatkan kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mempelajari bagaimana burung penyanyi yang suka berkelahi ini merespons ketika suara aktivitas manusia jauh menurun bahkan menghilang.

(Baca juga: Hewan Juga Melakukan Pembatasan Sosial Ketika Anggotanya Sakit)

Derryberry dan rekannya melaporkan kepada National Geographic bahwa pembatasan sosial secara dramatis meningkatkan panggilan burung, baik secara kualitas maupun efisiensi. Burung jantan secara khusus mengandalkan nyanyian untuk mempertahankan wilayah dan menemukan pasangan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science itu merupakan salah satu yang pertama dalam mengevaluasi secara ilmiah efek pandemi pada satwa liar perkotaan. Meskipun, banyak beberapa orang yang juga melakukan studi serupa dan belum dipublikasikan secara resmi.

Laporan Derryberry bersama rekannya menambah bidang penelitian yang sedang berkembang tentang bagaimana rentetan kebisingan buatan manusia telah mengganggu alam. Seperti, kapal yang menenggelamkan nyanyian ikan paus, hingga lalu lintas mobil yang mengganggu sonar kelelawar.

(Baca juga: Menjaga Hewan dan Lingkungan sebagai Mitigasi Pandemi di Masa Depan)

“Saya sangat senang sekelompok peneliti mampu mengumpulkan informasi pada kejadian langka seperti ini” kata Sue Anne Zollinger, ahli fisiologi perilaku dari Manchester Metropolitan University di Inggris Raya.

Burung di Perkotaan. Foto: wal_172619 from Pixabay

Derryberry kemudian menganalisis hasil rekaman dengan membandingkan kondisi sebelum dan saat pandemi. Sebelum wabah melanda, burung bernyanyi dengan volume lebih keras. Derryberry menganggap bahwa burung ingin memaksa suaranya untuk didengar di tengah kebisingan kota.

Sementara itu, suara burung menjadi lebih berkualitas selama pandemi. Berkurangnya suara aktivitas manusia juga memungkinkan suara burung perkotaan menempuh jarak dua kali lebih jauh. Burung dapat berkomunikasi lebih baik dan bernyanyi satu sama lain dengan ketenangan kota.

Megan McKenna, pakar polusi suara dan komunikasi hewan di Stanford University's Hopkins Marine Station, menyebutnya bahwa penelitian terbaru tersebut sangat menarik untuk dilihat. McKenna juga menunjukkan bahwa para peneliti mempelajari spesies yang cukup fleksibel untuk bertahan hidup di daerah perkotaan. Meskipun demikian, dampak pandemi pada spesies burung pemalu yang lebih sensitif masih belum diketahui.

(Baca juga: Ternyata Beberapa Jenis Pohon Melakukan 'Pembatasan Sosial')

Pada akhirnya, kecepatan pemulihan burung pipit merupakan tanda yang menjanjikan bagi kemampuan spesies untuk bertahan hidup. Dia menambahkan bahwa penduduk kota pada umumnya mulai menghargai hewan di halaman belakang mereka sendiri selama pandemi.

"Menemukan cara untuk mengurangi kebisingan, seperti membuat zona atau waktu bebas lalu lintas di dalam kota mungkin merupakan cara sederhana dan untuk membantu kehidupan hewan liar perkotaan" Derryberry mengakhiri.

Sepasang Burung di Perkotaan. Foto: mucahityildiz from Pixabay