Di Balik Kurikulum Merdeka: Antara Inovasi Pendidikan dan Tekanan Akademik
Tulisan dari Defrisza Shandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pendidikan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dan berperan sebagai sarana utama dalam pengembangan sumber daya manusia. Dalam upaya menjalankan pendidikan yang berkualitas, sangat diperlukan komponen-komponen yang mendukung. Sistem pendidikan menempatkan kurikulum sebagai salah satu sistem yang paling penting. Di Indonesia, pemerintah telah beberapa kali melakukan perubahan dan penyempurnaan kurikulum sebagai upaya untuk menyesuaikan sistem pendidikan dengan perkembangan zaman, kebutuhan masyarakat, serta tuntutan dunia kerja. Salah satu bentuk pembaruan tersebut adalah penerapan Kurikulum Merdeka yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan nasional melalui pembelajaran yang lebih fleksibel, relevan, dan berpusat pada peserta didik. Dimana siswa dapat dengan bebas untuk mengembangkan potensi dengan minat dan bakat yang mereka miliki.
Meskipun dapat dikatakan kurikulum merdeka mampu meningkatkan motivasi siswa untuk belajar, karena dirancang memberikan pembelajaran yang lebih menyengkan dan bermakna. Namun, dalam praktinya selalu dipertanyakan dampak nyata dari kurikulum merdeka terhadap beban belajar yang ditanggung oleh siswa. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka belum sepenuhnya mampu mengoptimalkan pengembangan potensi siswa karena adanya berbagai kendala dalam pelaksanaannya. Peserta didik secara signifikan kehilangan keinginan untuk belajar, yang menyebabkan mereka tidak tahu bagaimana mereka berproses. Meskipun kurikulum ini dirancang untuk mengembangkan kreativitas dan minat bakat siswa, sebagian siswa merasa adanya tekanan akademik yang diakibatkan oleh banyaknya tugas yang diberikan. Oleh karena itu, pergantian kurikulum menjadi Kurikulum Merdeka harus menjadi perhatian besar apakah kurikulum ini efektif dalam memberikan pembelajaran yang menyenangkan atau bahkan memberikan tekanan akademik baru untuk siswa di sekolah. Adanya sistem pembelajaran yang baru, harus menuntut siswa atau bahkan guru dalam pembelajaran berbasis proyek dan adanya peningkatan dalam tutuntan untuk siswa belajar mandiri.

Kurikulum Merdeka sebagai Harapan Baru Pendidikan Sejahtera
Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan yang berkeadilan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 12 Tahun 2024 tentang "Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah" sebagai payung hukum untuk kebijakan belajar bebas dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang adil. Kurikulum ini mulai diberlakukan sebagai upaya pemulihan minat belajar siswa (learning recovery) setelah adanya wabah COVID-19, agar siswa tidak merasakan kehilangan minat dalam melakukan pembelajaran normal (learning loss). Pemerintah berpendapat bahwa materi pelajaran harus disederhanakan agar siswa lebih fokus memahami konsep penting daripada sekadar menghafal. Dengan pembelajaran yang berfokus ke siswa (student-centered learning), Kurikulum Merdeka mencoba untuk menguatkan karakter dari peserta didik melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). P5 adalah kegiatan pembelajaran kokurikuler berbasis proyek yang bertujuan untuk meningkatkan kepribadian dan kemampuan siswa sesuai dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. P5 membedakan pembelajaran intrakurikuler yang berpusat pada pencapaian mata pelajaran. P5 memberi siswa kesempatan untuk mempelajari berbagai masalah nyata yang terjadi di lingkungan sekitar mereka melalui kegiatan yang kontekstual, kolaboratif, dan berfokus pada pemecahan masalah. Pendekatan ini diharapkan akan meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi, bekerja sama, dan memecahkan masalah yang sesuai dengan kebutuhan abad ke-21.
Pembelajaran yang Menyenangkan atau Membebankan?
Meskipun tujuan Kurikulum Merdeka sangat positif, masih ada banyak tantangan yang menghalangi implementasinya di lapangan. Siswa merasakan adanya peningkatan beban tugas berbasis proyek yang menjadi tantangan utama mereka dalam menjalankan Kurikulum Merdeka di sekolah. Banyaknya tugas berbasis proyek yang diberikan membuat siswa tidak dapat mengelolah tugasnya dengan baik. Karena, dalam praktiknya, pembelajaran berbasis proyek dirasa lebih memerlukan waktu yang lebih panjang dan memerlukan koordinasi antarsiswa itu sendiri. Selain itu, kurikulum merdeka juga mendorong siswa untuk menjadi pembelajar yang lebih mandiri. Ini berarti siswa harus memiliki tanggung jawab belajar yang lebih besar, mengatur waktu mereka sendiri, dan mencari informasi secara mandiri. Pada kenyataannya, beberapa siswa mungkin masih belum siap dengan adanya perubahan ini. Sebaliknya, siswa menghadapi tekanan akademik, termasuk memenuhi ekspektasi orang tua, mengikuti berbagai kegiatan sekolah, dan memperoleh nilai yang baik. Apabila tidak diimbangi dengan dukungan psikologis dan pengelolaan beban belajar yang proporsional, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan stres akademik (academic stress) dan juga kelelahan belajar (academic burnout).
Dalam kurikulum merdeka, peran orang tua menjadi semakin penting karena pembelajaran mendorong siswa untuk berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran di rumah dan mengerjakan proyek yang melibatkan keluarga. Sering kali ditemukan, siswa yang meminta bantuan orang tua mereka untuk mengerjakan tugas proyek yang diberikan sekolah. Dalam hal ini, orang tua juga dituntut untuk lebih kreatif dalam membantu tugas anak-anak mereka.
Guru juga menjadi aktor utama yang menjalankan keberhasilan dari kurikulum merdeka di sekolah. Dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, guru harus lebih inovatif dalam menyusun modul ajar, melakukan asesmen diagnostik, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, dan mendampingi proyek P5. Guru di sekolah juga harus menyiapkan strategi pembelajaran yang menyenangkan dan menyesuaikan karakteristik dari siswa.
Kurikulum adalah alat sosial yang tidak hanya mengatur proses belajar mengajar tetapi juga membentuk nilai, norma, dan kompetensi yang dibutuhkan masyarakat. Perubahan kurikulum merupakan hasil dari upaya negara untuk menyesuaikan sistem pendidikan dengan perkembangan sosial, ekonomi, dan teknologi. Keberhasilan perubahan kurikulum sangat bergantung pada kesiapan semua elemen pendidikan: pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan siswa. Tujuan mengurangi beban belajar siswa akan sulit dicapai jika perubahan kurikulum tidak diikuti oleh peningkatan kemampuan guru dan kesetaraan fasilitas pendidikan. Oleh karena itu, implementasi Kurikulum Merdeka perlu disertai dengan pengelolaan beban belajar yang proporsional, peningkatan kompetensi guru, penyediaan fasilitas pendidikan yang merata, serta pendampingan psikologis bagi siswa.

