kumparan
29 Mei 2017 14:15 WIB

Tertinggal Salat Karena Perubahan Jam

New York (Foto: Denny Armandhanu/kumparan)
Bagi umat Islam salat itu wajib. Tidak ada kompromi. Di mana pun berada, dalam kondisi apa pun, salat mesti ditegakkan.
ADVERTISEMENT
Tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika akan salat, apalagi di daerah yang asing bagi kita, yaitu: waktu dan tempat.
Kiranya pengalaman saya ketika bertugas di New York, Amerika Serikat, menegaskan hal ini.
Saat itu November 2016, saya di Kota New York untuk meliput pemilihan presiden Amerika Serikat. Di mana pun berada, di belahan bumi mana pun, saya berusaha untuk menegakkan salat. Itu harga mati.
Berada di negara orang, saya dalam kondisi safar. Artinya, saya berhak menggabungkan (menjamak) dua waktu salat menjadi satu. Zuhur dengan Asar, dan Magrib dengan Isya.
Jamak bisa dilakukan di waktu salat yang pertama (jamak takdim) atau waktu salat yang kedua (jamak takhir). Ini adalah bagian dari syariat Islam yang sangat memudahkan saya dalam beribadah di tengah tugas.
ADVERTISEMENT
Biasanya saya berkeliling untuk peliputan pada pagi hingga sore hari, lalu kembali ke apartemen di Harlem untuk salat jamak takhir di waktu Ashar. Lalu melanjutkan menulis dan jamak takhir lagi di waktu Isya.
Jadwal salat juga tidak jauh beda dengan di Indonesia, hanya saja subuh pukul 6 pagi. Magrib pukul 6 kurang beberapa menit.
Saya pilih salat di apartemen karena masjid di New York sedikit dan letaknya jauh dari lokasi peliputan. Selain itu, masjid di Big Apple tidak buka setiap saat, hanya buka di jam tertentu. Saya pernah terpaksa menunggu setengah jam di luar masjid, padahal sudah masuk Zuhur.
ADVERTISEMENT
New York (Foto: Denny Armadhanu/kumparan)
Keanehan di Pagi Hari
Ada sebuah keanehan di suatu pagi. Waktu yang ditunjukkan jam tangan saya berbeda dengan jam di handphone dan laptop. Saya berpikir, mungkin baterai jam saya mau habis. Setelah saya sesuaikan, lalu keluar apartemen untuk bekerja.
Hari itu pekerjaan saya cukup padat, meliput hingga sore menjelang. Seperti hari sebelumnya, saya telah memperhitungkan pukul 17.00 tiba di apartemen untuk jamak takhir. Santai saja.
Namun tiba-tiba, alarm salat berbunyi di HP saya dalam perjalanan pulang ke apartemen. Pukul 16.30, dan alarm Magrib sudah berbunyi. Apa-apaan?
Saya langsung panik. Saya cek kembali jam saya, benar pukul 16.30, tapi kok sudah Magrib. Saya googling soal jadwal salat, ya Allah, ternyata benar sudah masuk Magrib.
ADVERTISEMENT
Kok bisa?
Bulan November di AS merupakan peralihan menuju musim dingin. Di pertengahan November, terjadi penyesuaian waktu terbit dan tenggelam matahari. Artinya, waktu mundur satu jam! Saya terlewat Zuhur dan Asar!
Bertahun-tahun saya tidak pernah meninggalkan salat, Alhamdulillah. Kemudahan diberikan Allah untuk menegakkan salat, bisa berdiri atau duduk jika berada di pesawat. Tapi saat itu saya sedang bebas, salat saya lewatkan. Keringat dingin.
Sempat terpikir untuk menggelar sajadah di mana saja untuk salat. Saya kebetulan sedang berada di Central Park. Tapi saya khawatir pandangan miring warga lokal melihat saya salat. Apalagi di tengah gelombang Islamofobia yang kental saat itu.
ADVERTISEMENT
Ditambah lagi, terlalu banyak anjing di Central Park, khawatir ada najis yang menempel di rumput.
New York (Foto: Denny Armandhanu/kumparan)
Menggabungkan Semua Salat
Akhirnya saya mempercepat langkah ke apartemen. Sesampainya di kamar, saya langsung melakukan empat waktu salat sekaligus. Zuhur digabung dengan Asar (jamak takhir), dan Magrib digabung dengan Isya (jamak takdim). Lima belas rakaat.
Saya salat Asar dan Zuhur meski telah lewat waktunya dengan mengambil uzur "lupa" atau "tidak tahu". Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Barangsiapa yang lupa salat, atau terlewat karena tertidur, maka kafarahnya adalah ia kerjakan ketika ia ingat” (HR. Muslim no. 684).
Mengutip pendapat ulama Arab Saudi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, salat yang terlupa harus segera dilakukan (diqadha) tanpa ditunda-tunda. Jika ada beberapa waktu salat yang terlewat, maka semuanya dikerjakan sekaligus.
ADVERTISEMENT
“Dikerjakan semuanya sekaligus. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika terlewat beberapa salat pada saat perang Khandaq beliau mengerjakan semuanya sebelum Magrib. Dan demikianlah yang semestinya dilakukan setiap orang yang terlewat salatnya, yaitu mengerjakan semuanya sekaligus tanpa menundanya,” kata Syaikh Utsaimin seperti dikutip dari situs Muslim.or.id.
Maka saran saya, selalu cek waktu salat di mana pun berada. Karena kondisi cuaca sangat mempengaruhi waktu.
Satu lagi, saya menyarankan untuk selalu membawa sajadah untuk salat di mana pun jika sudah mepet waktunya. Terinspirasi oleh akun Instagram placesyoullpray, salat bisa di mana saja, tidak perlu takut dan malu.
New York (Foto: Denny Armandhanu/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·