Gotong Royong di Hari Raya Idul Adha, Lebih dari sekedar hanya Ibadah

Mahasiswa Pendidikan IPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Devi Susanti Presilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia dikenal sebagai negara beragama sesuai dengan nilai Pancasila yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”, di mana setiap warga negaranya diwajibkan untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya. Keberagaman agama di Indonesia sangat kaya, di antaranya ada Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Mayoritas penduduk Indonesia merupakan penganut agama Islam.
Agama Islam memiliki beberapa hari besar yang biasa diperingati oleh umatnya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu hari besar tersebut yaitu IdulAdha. Idul Adha merupakan hari raya untuk memperingati peristiwa Nabi Ibrahim mengkorbankan anaknya atas perintah Allah SWT. Namun karena keikhlasan keduanya (Ibrahim dan anaknya), Allah langsung menggantinya dengan kambing qibas. Dalam peringatan ini masyarakat yang beragama Islam melaksanakan ibadah qurban sebagai bentuk pengorbanan dan ketaatannya.
Tahun ini, pada hari Jumat, 6 Juni 2025 kemarin bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah. Masyarakat muslim di segala penjuru dunia, termasuk di lingkungan Desa Tembokrejo Kabupaten Jember merayakan Idul Adha dengan penuh ketaatan. Suasana pagi di hari ini terasa begitu tenang dan sejuk. Kegiatan dimulai dengan sholat Idul Adha terlebih dahulu di masjid yang telah diperuntukkan.
Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi. Masyarakat beramai-ramai menuju masjid, ada yang berjalan kaki, dan ada juga yang mengendarai motor atau mobil. Seperti biasa setelah berlangsungnya kegiatan sholat Ied, masyarakat bersalaman untuk saling memaafkan. Kemudian berlanjut kegiatan inti yaitu proses penyembelihan hewan qurban.
Semangat kebersamaan sangat terlihat dalam seluruh rangkaian kegiatan. Masyarakat berkumpul untuk bersama-sama mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam penyembelihan hewan qurban, termasuk tempat penyembelihan, pisau yang tajam untuk memudahkan penyembelihan, dan beberapa alat lainnya yang dibutuhkan. Sebelum penyembelihan dimulai, masyarakat sarapan bersama untuk menambah keakraban masyarakat.
Proses penyembelihan berlangsung, dilanjutkan dengan pembersihan hewan qurban dari bulu-bulu (rambut) di kulitnya dan pembersihan kotoran yang ada di bagian dalam perut. Proses pembersihan ini berlangsung paling menguras waktu dari keseluruhan proses. Meskipun butuh waktu yang lama, tapi semangat masyarakat semakin terlihat ketika kegiatan dibumbui dengan canda tawa yang terdengar begitu hangat di telinga. Semua bekerja secara bersama-sama tanpa adanya rasa keberatan atau sikap iri satu sama lain.
Ketika proses pembersihan sudah selesai dilanjutkan dengan pembagian daging dengan ditimbang. Penimbangan menggunakan timbangan analog milik salah satu warga dengan tujuan daging yang nanti dibagikan beratnya sama rata. Pembagian daging ke warga sekitar dilakukan setelah proses penimbangan selesai. Pembagian tersebut dilakukan secara langsung sehingga kebahagian benar-benar terasa baik bagi yang berbagi ataupun yang menerima.
Kegiatan kebersamaan dalam perayaan hari besar Islam ini bukan hanya tentang sebuah perwujudan dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Namun, juga bagian dari bentuk nyata pengamalan beretika dalam kehidupan bermasyarakat yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila.
Dapat kita perhatikan bahwa kegiatan ini berasal dari masyarakat yang memiliki latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi yang berbeda-beda. Perbedaan tidak menghalangi mereka untuk bisa berkumpul, bersilaturahmi, bekerja sama, saling tolong menolong dari mulai mempersiapkan semua yang diperlukan dalan penyembelihan hingga dalam hal pembagian daging qurban kepada masyarakat sekitar.
Semangat kebersamaan ini menggambarkan begitu besarnya peran setiap lapisan masyarakat untuk menciptakan dan mewujudkan nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila yang dimaksud, khususnya pada sila kedua “Kemanusiaan yang adil dan beradab” dan sila ketiga “Persatuan Indonesia”. Setiap masyarakat yang terlibat dalam kegiatan bermasyarakat juga berperan menjunjung tinggi kebersamaan, persatuan, keadilan, sikap saling menghormati, menghargai, dan tolong menolong.
“Kegiatan seperti ini selalu menjadi pengingat kami sebagai bangsa yang satu, dengan perbedaan yang tidak kami anggap beda tapi justru kami anggap sebagai kekuatan dan kebersamaan yang selalu mempersatukan,” ujar bapak Zainul Arifin, ketua panitia qurban pada hari itu. Dengan semangat kebersamaan dan persatuan yang terus menggelora, masyarakat diharapkan mampu menjadi semakin peduli satu sama lain dan dapat memperkokoh semangat hidup ber-Pancasila.
