LGBT di Negeri Islam

Mahasiswa Hub.Internasional. Malang, Jawa Timur.
Konten dari Pengguna
9 Desember 2022 12:06
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Divara Azzahra De Larezi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bendera LGBT (kanan) yang ingin mengibar di Qatar. Foto : design pribadi (canva).
zoom-in-whitePerbesar
Bendera LGBT (kanan) yang ingin mengibar di Qatar. Foto : design pribadi (canva).
ADVERTISEMENT
Telah dilaksanakan pembukaan acara pesta 4 tahunan pada Minggu (20/11/22) di Al Bayt Stadium, Qatar dengan sangat meriah dan seru, berbagai penampilan diperlihatkan yaitu dibukanya dengan dialog yang berpesan tentang persatuan dan keberagamaan yang disampaikan oleh Morgan Freeman kemudian dilanjut dengan Ayat suci Alquran surah Al-hujurat ayat 13 yang dibacakan oleh Duta Piala Dunia Qatar 2022 yaitu Ghanim Al Muftah. Selain dibuka dengan dialog dari kedua tokoh berpengaruh pada bidangnya. Dalam gelaran Piala Dunia pihak tuan rumah juga menyiapkan banyak penampilan seperti nostalgia official soundtrack Piala Dunia dan juga maskot dari masing-masing tuan rumah edisi sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Pada edisi sekarang menjadikan Qatar negara Timur Tengah dan Muslim pertama yang menjadi tuan rumah dari perhelatan Piala Dunia. Event sepak bola internasional terbesar ini biasanya dilaksanakan pada pertengahan tahun yaitu sekitar Juni-Juli, namun untuk edisi sekarang dilaksakannya pada akhir tahun karena dipengaruhi oleh kondisi cuaca di Qatar. Piala Dunia akan digelar sekitar 29 hari dimulai dari tanggal 20 November 2022 yaitu babak grup kemudian babak penyisihan lalu dilanjut dengan final pada tanggal 18 Desember 2022.
Dengan berjalannya meriah acara pembukaan Piala Dunia kali ini banyak mengundang polemik dan kontroversi dari berbagai arah yang menyudutkan sang tuan rumah karena membuat peraturan yang cukup ketat dan membuat mereka yang dari barat sulit untuk menerima itu semua. Larangan seperti penggunaan pakaian seksi, meminum atau membawa alkohol di dalam stadion, hingga mengibarkan atau menggunakan atribut pelangi guna mengkampanyekan LGBT.
ADVERTISEMENT
Warna yang ingin disuarakan
Panitia pelaksanaan Piala Dunia Qatar 2022 mengeluarkan beberapa aturan dan larangan untuk dipatuhi oleh para supporter yang akan menyaksikan pertandingan Negara kesayangannya. Peraturan yang dibuat ini ternyata memberatkan bagi mereka yang berasal dari Negara barat, nyatanya gelaran event besar ini berada pada negara yang mayoritasnya beragama Muslim dan berada pada Semenanjung Arab yang mana menjunjung tinggi nilai keagamaan. Presiden Qatar meminta para supporter dan Negara yang mengikuti event ini untuk menghargai budaya tuan rumah, namun negara-negara barat terutama Inggris, Jerman, Belgia, Denmark, Wales, Swiss, dan Kanada merasa Qatar melakukan diskriminatif karena tidak membiarkan mereka untuk bebas berekspresi dan bertindak.
Selaku kepala keamanan Piala Dunia Qatar 2022 Abdullah Nasari mengatakan “ jika anda ingin mengungkapkan pandangan anda tentang LGBT, lakukanlah di masyarakat yang akan menerimanya. Jangan datang dan menghina seluruh masyarakat kami. Kami tidak akan mengubah agama hanya untuk event 28 hari”. Tidak hanya itu saja sang kepala keamanan juga membuat peraturan jika ada dari pemain menggunakan ban berunsurkan pelangi maka saat peluit kick off dibunyikan yang bersangkutan akan diberikan teguran berupa kartu kuning. Ban pelangi ini merupakan bentuk kampanye dari One Love atau menyuarakan hak-hak LGBT. Tentu dengan peraturan tersebut membuat mereka merasa Hak Asasi Manusia nya dalam berekspresi dan bertindak direngut.
ADVERTISEMENT
Timnas Jerman melakukan protes terhadap kebijakan Qatar dengan melakukan pose menutup mulut saat laga pembuka grup E melawan Timnas Jepang.
Tidak ingin diam begitu saja, pada putaran pertama kontra Jerman vs Jepang Rabu (23/11/22) saat sesi foto Timnas Jerman melakukan protes dengan cara menutupkan mulut mereka masing-masing sebagai bentuk kekecewaan terhadap tuan rumah. Tidak hanya itu saja Timnas Inggris pun melakukan protes tetapi dengan cara yang berbeda yaitu kapten kesebelasan menggunakan ban bertuliskan “NoDiscriminative”. Protes yang dilakukan tidak menemukan jalan yang baik bagi mereka karena panitia event tetap pada pendirian atas aturan yang telah ditetapkan.
Qatar dan FIFA melemah?
Presiden FIFA Gianni Infantino sangat menghargai dengan segala peraturan dan sangat mendukung keputusan yang telah dibuat oleh tuan rumah. Ia pun mengatakan “sekarang kita fokus pada sepak bola” disusul dengan Sekretaris Jenderal FIFA “tidak peduli ras, agama, sosial, dan orientasi seksual anda akan diterima di sini” menandakan Qatar adalah Negara yang ramah tetapi bukan berarti mengizinkan adanya kampanye One Love LGBT. Namun justru ini membuat Inggris, Jerman, dan Denmark mengancam akan meninggalkan FIFA karena melarang berkampanye LGBT di Piala Dunia Qatar 2022.
ADVERTISEMENT
Ketidakpercayaan atas kepimpinan yang dipimpin oleh Gianni Infantino Denmark akan mengadakan pertemuan dengan negara-negara UEFA guna meninggalkan FIFA. Mereka yang menuntut diberikan ruang untuk menyuarakan hak-hak LGBT dan dihargai guna menjunjung tinggi keadilan ini tidak berkaca bahwasanya mereka pun menginjak-injak budaya Qatar yang di mana sebagai tuan rumah.
Entah bagaimana pada hari ini Jum’at (25/11/22) FIFA mengizinkan penonton dapat menggunakan atribut berwarna pelangi ke dalam stadion dan para kapten pun diizinkan untuk memakai ban One Love LGBT pada putaran kedua nanti, pernyataan ini dilaporkan oleh The Independent. Pihak Qatar pun telah mengonfirmasikan dan menjamin akan hal tersebut. Mungkin ini adalah kekalahan yang sesungguhnya bagi Qatar.
Nyatanya kutipan “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” tidak berlaku bagi Qatar. Aturan yang telah dibuat untuk memperkenalkan budaya Timur Tengah tidak berjalan dengan baik dan semestinya, karena tercoreng oleh mereka yang haus akan pengakuan sehingga tidak mau menghargai keputusan tuan rumah. Merasa hak nya terbungkam padahal nyatanya merekalah yang membungkam, dan menganggap pandangan merekalah yang baik dari yang terbaik.
ADVERTISEMENT
Ini merupakan bentuk penjajahan secara modern, menguasai yang bukan wilayahnya dan menjadikan pemilik wilayah tersebut sebagai orang asing. Memaksakan budaya yang semestinya tidak perlu dilestarikan, karena sejatinya penyimpangan seksual itu bukanlah hal yang perlu diakui melainkan harus dicegah. Mari kita sama-sama untuk saling menghargai satu sama lain tanpa adanya pihak yang melakukan diskriminatif.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020