Bioekologi dan Pengendalian Hama Penggerek Tongkol Jagung
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Serangan hama penggerek tongkol jagung merupakan masalah besar bagi petani tanaman pangan, khususnya jagung. Hama ini tidak hanya menurunkan hasil panen, tetapi juga memengaruhi kualitas tongkol melalui faktor biologis yang merusak. Memahami bioekologi dan strategi pengendalian yang tepat sangat penting agar produksi jagung dapat berjalan optimal.
Mengenal Penggerek Tongkol Jagung
Jagung adalah komoditas penting kedua setelah padi yang digunakan untuk pangan dan pakan ternak. Namun, rendahnya hasil sering disebabkan oleh gangguan hama seperti penggerek tongkol. Penggerek tongkol jagung merujuk pada spesies Helicoverpa armigera.
Dampak Serangan
Hama H. armigera bersifat polifag dan menyerang tongkol sehingga mengganggu pembentukan biji. Serangan ini menjadi kendala serius karena belum tersedianya varietas yang benar-benar tahan.
Bioekologi Penggerek Tongkol Jagung
Siklus Hidup: Berdasarkan mekanisme infeksinya, larva merupakan fase paling merusak. Larva yang terinfeksi agen hayati biasanya mengalami perubahan warna menjadi kehitaman, jaringan tubuhnya rusak, dan cairan tubuhnya terserap hingga mengering.
Faktor Lingkungan: Rendahnya hasil jagung dipengaruhi oleh faktor fisik seperti iklim, jenis tanah, dan lahan, serta faktor biologis termasuk keberadaan hama dan penyakit.
Interaksi dengan Tanaman: Hama ini aktif menyerang pada pertanaman jagung, di mana larva H. armigera menjadi ancaman utama yang dapat menurunkan intensitas produksi jika tidak dikendalikan.
Pengendalian Penggerek Tongkol Jagung
Pengendalian memerlukan pendekatan ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan pada insektisida kimia.
Peran Jamur Entomopatogen
Jamur seperti Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae merupakan bioinsektisida yang efektif. Jamur ini menginfeksi serangga melalui kutikula, masuk ke tubuh, dan berkembang biak di dalam jaringan inang hingga serangga mati.
Keefektifan B. bassiana
Menurut penelitian Wizni Fadhillah dkk. dalam jurnal Agroteknosains Vol. 5 No. 2 berjudul Pengendalian Hama Tongkol Jagung (Helicoverpa armigera Hubner) dan Penggerek Batang (Spodoptera frugiferda) dengan Menggunakan Jamur Entomopatogen pada Tanaman Jagung Manis di Desa Banjaran Deliserdang, menunjukkan bahwa penggunaan B. bassiana memberikan hasil terbaik dengan menekan intensitas serangan H. armigera hingga 9,08% dan S. frugiferda hingga 9,28%. Populasi larva dapat ditekan secara signifikan dibandingkan tanpa perlakuan.
Pengendalian Terpadu
Strategi PHT (Pengendalian Hama Terpadu) adalah pengendalian yang mengombinasikan agensia hayati sebagai komponen utama yang selektif dan ramah lingkungan. Penggunaan jamur entomopatogen dapat diperbanyak secara mandiri oleh petani untuk keberlanjutan lahan.
Kesimpulan
Hama H. armigera adalah tantangan utama produksi jagung. Pemanfaatan jamur entomopatogen, khususnya B. bassiana, terbukti efektif menurunkan populasi dan intensitas serangan secara signifikan. Pengendalian hayati ini menjadi solusi berkelanjutan yang lebih aman bagi ekosistem dibandingkan bahan kimia.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian