Konten dari Pengguna

Mengenal Hama Ulat Jengkal Kedelai dan Solusi Pengendaliannya

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hama ulat jengkal. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hama ulat jengkal. Foto: Pixabay

Ulat jengkal kerap menjadi perhatian dalam budi daya tanaman pangan, khususnya kedelai. Serangga ini dikenal merusak daun dan dapat menurunkan hasil panen. Memahami ciri ulat jengkal dan strategi pengendaliannya membantu petani menjaga produktivitas lahan.

Mengenal Ulat Jengkal pada Tanaman Kedelai

Menurut Alfi Inayati dan Marwoto dalam Buletin Palawija No. 22, 2011 berjudul Ulat Jengkal pada Kedelai dan Cara Pengendaliannya, ulat jengkal (looper) tergolong hama utama pemakan daun pada tanaman kedelai di Indonesia. Keberadaannya perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kehilangan hasil panen yang signifikan.

Apa Itu Ulat Jengkal?

Ulat jengkal adalah larva dari ordo Lepidoptera, famili Noctuidae. Di Indonesia, jenis yang paling dominan adalah Plusia chalcites (sering disebut green semi looper), sedangkan di wilayah sub-tropis lebih banyak ditemukan jenis Pseudoplusia includens dan Thysanoplusia orichalcea.

Siklus Hidup Ulat Jengkal

Daur hidup ulat jengkal dari telur hingga ngengat bertelur kembali berlangsung sekitar 30 hari. Rincian fasenya meliputi:

  • Telur: berlangsung 3–4 hari, diletakkan secara individual di permukaan bawah daun.

  • Larva (Ulat): terdiri dari 5 instar selama 14–19 hari. Ini adalah fase yang paling merusak.

  • Pupa (Kepompong): berlangsung 6–11 hari, biasanya dibentuk di dalam gulungan daun yang ditutupi kokon.

  • Imago (Ngengat): berlangsung 5–12 hari, dengan kemampuan produksi telur mencapai 1.250 butir per betina.

Ciri-Ciri Ulat Jengkal

Bentuk dan Warna Tubuh

Ulat Plusia chalcites berwarna hijau dengan garis putih atau cerah di sepanjang sisi tubuhnya. Larva dewasa dapat mencapai panjang 3 cm. Tubuhnya cenderung menyempit di bagian ujung dengan ukuran kepala yang kecil.

Pola Gerakan dan Kebiasaan

Karakteristik unik ulat ini adalah hanya memiliki dua pasang tungkai palsu pada abdomen bagian depan dan sepasang di bagian belakang. Keterbatasan jumlah tungkai ini menyebabkan mereka bergerak dengan cara melengkungkan punggung menyerupai jengkal tangan manusia.

Tanda Serangan pada Tanaman

Larva kecil awalnya memakan jaringan daun hingga menyisakan lapisan transparan atau lubang jendela. Namun, ulat besar (instar lanjut) dapat memakan seluruh bagian daun hingga hanya tersisa tulang daunnya saja, sebuah proses yang disebut defoliasi.

Dampak Serangan Ulat Jengkal

Kerusakan pada Daun dan Tanaman

Serangan terjadi sepanjang masa vegetatif hingga generatif. Lebih dari 90% kerusakan daun disebabkan oleh aktivitas makan larva pada fase instar lanjut. Kerusakan ini paling berisiko jika terjadi pada fase pembungaan hingga pengisian polong.

Penurunan Hasil Panen

Kerusakan daun akibat ulat jengkal di Indonesia dilaporkan dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 18%. Di wilayah lain, kerusakan daun total pada fase pengisian biji bahkan dapat menurunkan hasil hingga 80% atau setara $1.200~kg/ha$.

Cara Pengendalian Ulat Jengkal

Sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), pengendalian harus dilakukan secara cermat, hemat ekonomi, dan aman bagi lingkungan.

Pengendalian Secara Mekanis dan Budi Daya

  • Mekanis: dilakukan dengan memungut dan memusnahkan ulat secara langsung, terutama pada populasi yang belum memencar.

  • Pola Tanam: mengatur waktu tanam, pergiliran tanaman (rotasi) untuk memutus rantai pakan, serta tanam serentak untuk menghindari tumpang tindih generasi hama.

Pengendalian Secara Hayati

Memanfaatkan musuh alami yang terdiri dari:

  • Parasitoid: seperti Copidosoma floridanum dan Apanteles sp. yang menyerang larva.

  • Predator: serangga pemangsa seperti genus Lebia, Geocoris, dan Calosoma.

  • Patogen: pemanfaatan jamur Nomuraea rileyi atau Nuclear Polyhedrosis Virus (NPV) yang mampu mematikan larva pada semua stadium.

Pengendalian Secara Kimia

Insektisida digunakan sebagai alternatif terakhir berdasarkan ambang kendali. Ambang kendali empiris untuk ulat jengkal adalah jika ditemukan 3 ekor per 30 tanaman. Insektisida efektif yang bisa digunakan berbahan aktif methoxyfenozide, thiodicarb, atau spinosad.

Tips Pencegahan Serangan Ulat Jengkal

  1. Rajin memonitor tingkat kerusakan daun: ambang ekonomi tercapai jika kerusakan daun mencapai 30% sebelum berbunga atau 15% setelah berbunga.

  2. Gunakan varietas tahan, seperti kedelai transgenik yang disisipi gen cry1Ac dari Bacillus thuringiensis.

  3. Jaga sanitasi lahan untuk mengurangi tempat berlindung hama.

Kesimpulan

Ulat jengkal adalah hama utama kedelai yang memerlukan perhatian khusus karena sifatnya yang dinamis dan destruktif. Melalui pendekatan PHT yang mengintegrasikan aspek bioekologi, pemanfaatan musuh alami, dan penggunaan insektisida yang bijak, risiko kerugian ekonomi dapat ditekan tanpa merusak ekosistem pertanian.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian