Nematoda Puru Akar: Ciri Serangan dan Pengendalian Efektif
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nematoda puru akar (NPA) menjadi salah satu ancaman utama bagi berbagai tanaman budidaya di Indonesia. Serangannya kerap menurunkan hasil panen, terutama pada tanaman pangan, hortikultura, hingga perkebunan seperti kenaf yang dapat mengalami penurunan kualitas serat secara signifikan. Untuk mencegah kerugian, penting mengenali ciri serangan dan memahami strategi pengendaliannya secara terpadu.
Apa Itu Nematoda Puru Akar?
Menurut Nadiyatus dalam skripsinya yang berjudul Pengendalian Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.) Hama Tanaman Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) dengan Rotasi Tanaman dan Penggunaan Bakteri Antagonis, nematoda puru akar adalah parasit obligat endoparasit yang menyerang jaringan akar tanaman. Parasit ini mengeluarkan enzim yang menguraikan dinding sel tumbuhan untuk menembus jaringan, kemudian menetap dan berkembang biak di dalamnya.
Definisi Nematoda Puru Akar
Nematoda puru akar (Meloidogyne spp.) merupakan hama mikroskopis dari Filum Nematoda yang menyebabkan penyakit bengkak akar. Hama ini sangat menyukai habitat tanah berpasir karena kondisi aerasi dan drainasenya yang mendukung mobilitas larva.
Siklus Hidup dan Penyebaran
Siklus hidup NPA tergolong pendek, berkisar antara 14 hingga 21 hari, dimulai dari fase telur, larva (stadia I-IV), hingga dewasa. Larva stadia II adalah fase paling aktif dan infektif yang masuk ke ujung akar menggunakan stilet. Penyebarannya meluas melalui tanah, air irigasi, serta alat pertanian yang terkontaminasi.
Tanaman Inang yang Rentan
Nematoda ini bersifat polifag (memiliki banyak inang). Selain tanaman perkebunan seperti kenaf, kopi, dan tembakau, NPA juga menyerang sayuran (tomat, cabai) serta kacang-kacangan. Bahkan, beberapa gulma seperti rumput teki dan krokot dapat menjadi inang alternatif bagi hama ini.
Ciri-Ciri Serangan Nematoda Puru Akar pada Tanaman
Serangan NPA dapat dikenali dari perubahan fisik yang khas, baik di bawah maupun di atas permukaan tanah.
Gejala pada Akar
Akar yang terserang mengalami pembengkakan membentuk puru atau benjolan tidak beraturan akibat pelepasan hormon IAA (Indol Asam Asetat) oleh nematoda yang merangsang pembesaran sel tanaman. Hal ini menyebabkan jaringan xilem menjadi kerdil dan struktur akar menjadi rusak.
Gejala pada Bagian Atas Tanaman
Tanaman menunjukkan pertumbuhan tidak normal seperti kerdil (dwarf), daun menguning (klorosis), dan mudah layu terutama saat suhu lingkungan tinggi atau siang hari karena terganggunya translokasi air.
Dampak Serangan terhadap Pertumbuhan
Nematoda ini menghambat penyerapan hara dan air, serta menurunkan laju fotosintesis. Selain itu, luka bekas tusukan nematoda memudahkan patogen lain (seperti bakteri atau jamur) masuk dan menyerang tanaman, yang sering kali berujung pada kematian tanaman.
Cara Pengendalian Nematoda Puru Akar
Pengendalian memerlukan pendekatan terpadu (PHT) untuk menekan populasi nematoda di bawah ambang ekonomi.
Pengendalian Secara Kultur Teknis (Rotasi Tanaman)
Rotasi tanaman dengan jenis non-inang seperti kenikir (Tagetes sp.) terbukti efektif menurunkan populasi NPA secara signifikan. Selain itu, penggunaan tanaman wijen dalam rotasi sangat disarankan karena eksudat akarnya bersifat toksik terhadap nematoda.
Pengendalian Biologis (Bakteri Antagonis)
Penggunaan agen pengendali hayati (APH) seperti bakteri Bacillus spp. mampu menekan populasi nematoda melalui mekanisme kompetisi ruang, nutrisi, dan produksi metabolit sekunder. Bakteri ini juga menghasilkan enzim kitinase dan selulase yang dapat mendegradasi lapisan telur nematoda.
Pengendalian Kimiawi
Aplikasi nematisida sintetik merupakan pilihan terakhir. Meskipun cepat, penggunaannya harus dibatasi karena risiko resistensi hama dan dampak negatif berupa pencemaran lingkungan serta residu pada tanah.
Rekomendasi Langkah Preventif
Langkah pencegahan meliputi penggunaan bibit sehat, sanitasi lahan dari sisa-sisa akar tanaman sebelumnya, serta perbaikan drainase tanah. Penambahan bahan organik juga sangat membantu meningkatkan populasi mikroba rizosfer yang menguntungkan bagi ketahanan tanaman.
Kesimpulan
Nematoda puru akar adalah ancaman serius yang mengganggu metabolisme dan penyerapan nutrisi tanaman. Strategi pengendalian yang paling efektif dan ramah lingkungan adalah kombinasi rotasi tanaman (khususnya dengan kenikir atau wijen) dan pemanfaatan bakteri antagonis seperti Bacillus spp.. Petani disarankan untuk konsisten melakukan pemantauan lahan dan menghindari penanaman terus-menerus dengan jenis inang yang sama guna memutus siklus hidup nematoda.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian