Strategi Terpadu Melawan Hawar Pelepah Daun Padi di Lahan Rawa
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyakit hawar pelepah sering menjadi tantangan utama dalam budi daya padi, salah satu tanaman pangan penting di Indonesia. Serangan penyakit ini tak hanya mengurangi hasil panen, tetapi juga memengaruhi kualitas gabah yang dihasilkan. Oleh karena itu, memahami gejala serta strategi pengendalian penyakit hawar pelepah menjadi hal yang sangat dibutuhkan petani padi.
Mengenal Penyakit Hawar Pelepah pada Padi
Penyakit hawar pelepah pada padi disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani, yang berkembang pesat di lahan dengan kelembapan tinggi. Menurut Bambang Prayudi dalam artikel berjudul Penyakit Hawar Pelepah Daun (Rhizoctonia solani) di Lahan Rawa Pasang Surut, penyakit ini terutama menyerang padi tipe unggul di lahan rawa pasang surut bergambut. Selain kelembapan di atas 85%, kandungan bahan organik yang tinggi pada lahan gambut memungkinkan patogen bertahan lama dalam tanah melalui pembentukan sklerotium.
Penyebab dan Faktor Risiko
Penyebab utamanya adalah jamur Rhizoctonia solani yang bersifat polifag, sehingga sumber inokulum selalu tersedia pada berbagai inang. Faktor risiko meliputi penanaman varietas unggul yang tanggap nitrogen, populasi tanaman yang terlalu rapat, serta kondisi lingkungan mikro yang panas (28-32° C) dan lembap. Penggunaan varietas unggul berbatang pendek dan beranakan banyak juga meningkatkan risiko karena pelepah daunnya saling bersentuhan, memudahkan penyebaran jamur.
Siklus Hidup Patogen
Jamur ini bertahan di sisa tanaman atau gulma dalam bentuk miselia dan sklerotium. Sklerotium yang berwarna cokelat tua hingga kehitaman ini merupakan bentuk bertahan patogen yang sangat stabil di tanah bergambut. Infeksi dapat dimulai sejak fase persemaian hingga tanaman dewasa, menyebar melalui kontak antarpelepah atau terbawa aliran air di sawah.
Gejala Penyakit Hawar Pelepah
Gejala penyakit hawar pelepah sering kali muncul secara bertahap, umumnya saat tanaman memasuki fase anakan maksimum. Petani perlu mengenali tanda-tanda serangan sejak dini agar penanganan bisa segera dilakukan.
Ciri-ciri Awal Serangan
Awalnya, tampak bercak-bercak besar berbentuk oval dengan tepi tidak teratur pada pelepah daun bagian bawah dekat permukaan air. Pusat bercak biasanya berwarna putih keabu-abuan dengan tepi cokelat kemerahan. Dalam kondisi sangat lembap, miselium berwarna putih hingga cokelat muda akan tumbuh di atas bercak tersebut.
Perkembangan dan Penyebaran Gejala
Jika dibiarkan, bercak menyebar dan menjalar ke pelepah daun bagian atas. Pada varietas unggul, gejala dapat mencapai daun bendera karena posisi pelepah yang saling tertutup dan bersambungan. Sebaliknya, pada varietas lokal seperti Bayar Pahit atau Lemo, perkembangan gejala sering terhenti di pelepah bawah karena struktur batang yang lebih terbuka.
Dampak Terhadap Tanaman Padi
Tanaman yang terserang berat akan mengalami penurunan intensitas pengisian malai. Prayudi dan Budiman dalam Prosiding Seminar Pengembangan Lahan Gambut berjudul Pengendalian Penyakit Hawar Pelepah Daun Padi dengan Trichoderma spp., melaporkan kerugian hasil berkisar antara 1-16%, namun jika infeksi mencapai daun bendera, kerugian dapat melonjak hingga lebih dari 20%. Selain itu, rumpun yang terinfeksi parah dapat hancur, meskipun beberapa varietas lokal memiliki kemampuan regenerasi yang baik setelah serangan.
Pengendalian Penyakit Hawar Pelepah
Pendekatan pengendalian sebaiknya mengacu pada strategi Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) agar risiko infeksi bisa ditekan secara berkelanjutan.
Pengendalian Secara Budi Daya
Langkah utama meliputi penggunaan varietas yang memiliki toleransi tinggi, seperti padi lokal (Lemo, Bayar Pahit, Karang Dukuh) yang secara morfologi kurang mendukung perkembangan jamur. Selain itu, pengaturan jarak tanam agar tidak terlalu rapat, pemupukan N, P, dan K yang berimbang, serta sanitasi lahan dari gulma inang sangat efektif memperkecil sumber inokulum awal.
Pengendalian Kimia dan Biologi
Secara biologi, penggunaan jamur antagonis Trichoderma harzianum isolat Kalimantan Selatan terbukti efektif. Dosis anjuran adalah 22,5 kg formulasi/ha yang disemprotkan ke pangkal rumpun pada sore hari. Untuk pengendalian kimia sebagai alternatif terakhir, fungisida berbahan aktif seperti heksakonazol, difenokonazol, validamisin A, atau iprodion dapat digunakan secara bijak.
Rekomendasi Pencegahan Terintegrasi
Strategi terbaik adalah mengombinasikan budi daya tanaman sehat dengan pembersihan seresah gulma yang dikomposkan hingga matang agar patogen mati. Pengaturan sirkulasi air di petakan sawah juga penting untuk menjaga agar lingkungan mikro tidak terlalu lembap bagi perkembangan jamur.
Kesimpulan
Penyakit hawar pelepah merupakan ancaman nyata dalam budidaya padi, khususnya di lahan rawa pasang surut, yang bisa menurunkan produktivitas secara signifikan. Pemahaman gejala serta strategi pengendalian yang terintegrasi, mulai dari pemilihan varietas toleran hingga pemanfaatan agen hayati Trichoderma, sangat penting agar tanaman tetap produktif. Dengan siasat yang tepat, petani dapat menjaga keberlanjutan hasil panen dan meminimalkan ketergantungan pada bahan kimia sintetis.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian