Konten dari Pengguna

Waspada Invasi Ulat Grayak Frugiperda: Mengenal Ciri dan Cara Ampuh Kendalikan

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ulat grayak Spodoptera frugiperda. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ulat grayak Spodoptera frugiperda. Foto: Pixabay

Ulat grayak frugiperda (UGF) merupakan hama invasif yang menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan, terutama pada komoditas jagung. Serangan hama ini dilaporkan sangat masif dan dapat menyebabkan kerusakan hingga 100% jika menyerang tanaman pada fase vegetatif. Pemahaman mengenai karakteristik biologis dan metode pengendalian yang tepat menjadi kunci utama bagi petani untuk meminimalkan kerugian ekonomi.

Mengenal Ulat Grayak Frugiperda

Ulat grayak frugiperda (UGF) dengan nama spesies Spodoptera frugiperda, atau dikenal sebagai Fall Armyworm (FAW), adalah hama asal benua Amerika yang mulai menginvasi Indonesia sejak awal tahun 2019. Menurut Dewi Sartiami dkk. dalam jurnal Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 1 berjudul Pengenalan dan Pengendalian Hama Ulat Grayak Frugiperda (Spodoptera frugiperda) di Desa Bonjor, Kabupaten Rembang, hama ini bersifat polifag dengan lebih dari 350 jenis tanaman inang, namun di Indonesia kerusakan paling parah ditemukan pada tanaman jagung.

Karakteristik dan Gejala Serangan

Morfologi Ulat Grayak Frugiperda

Berdasarkan identifikasi visual, ulat grayak frugiperda memiliki ciri khas utama berupa garis berwarna terang yang membentuk huruf "Y" terbalik pada bagian kepalanya. Selain itu, terdapat satu garis dorsal (punggung) dan dua garis sub-dorsal di sepanjang tubuhnya. Ciri pembeda lainnya adalah adanya empat titik hitam (pinakula) yang membentuk pola persegi pada segmen tubuh bagian belakang.

Siklus Hidup Ulat Grayak Frugiperda

Siklus hidup hama ini dimulai dari telur yang diletakkan secara berkelompok (55–888 butir) di permukaan daun dan ditutupi oleh sisik-sisik halus dari induk betina sehingga tampak seperti bulu kapas atau jamur. Masa inkubasi telur berlangsung singkat, yaitu sekitar 2–3 hari. Setelah menetas, larva akan melewati beberapa instar sebelum menjadi pupa dan akhirnya menjadi imago (ngengat) yang memiliki kemampuan jelajah tinggi.

Gejala Serangan pada Tanaman

Gejala serangan UGF sangat khas, yaitu adanya lubang-lubang gerekan pada daun yang tidak beraturan. Hama ini sering meninggalkan jejak berupa kotoran yang menyerupai serbuk gergaji berwarna cokelat di sekitar pucuk tanaman atau permukaan daun. Pada tingkat serangan yang parah, titik tumbuh tanaman dapat rusak sehingga jagung gagal tumbuh.

Pengendalian Ulat Grayak Frugiperda

Pengendalian Secara Mekanis

Metode mekanis dilakukan dengan mengumpulkan larva secara manual atau mengambil kelompok telur yang ditemukan di lapangan untuk dimusnahkan. Selain itu, pembersihan gulma dan sisa tanaman di sekitar lahan sangat penting untuk menghilangkan tempat persembunyian imago.

Pengendalian Secara Hayati

Strategi ini mengutamakan penggunaan musuh alami seperti parasitoid telur Telenomus sp.. Salah satu teknik yang diperkenalkan oleh Dewi Sartiami dkk. adalah penggunaan bumbung parasitoid. Alat sederhana ini berfungsi sebagai wadah telur yang ditemukan di lahan; jika telur terinfeksi parasitoid, maka imago parasitoid akan keluar untuk menyerang telur hama lainnya di lapangan, sementara larva ulat yang menetas akan mati terjebak di dalam bumbung karena lapisan oli.

Pengendalian Secara Kimia

Penggunaan insektisida kimia merupakan pilihan terakhir dan harus dilakukan secara bijaksana. Keberhasilan pengendalian kimia sangat dipengaruhi oleh ketepatan dosis, waktu aplikasi, dan teknik penyemprotan yang harus menyasar bagian pucuk tanaman tempat larva sering bersembunyi.

Kesimpulan

Ulat grayak frugiperda memiliki karakteristik biologis yang unik, seperti tanda "Y" terbalik di kepala dan siklus hidup yang sangat cepat. Keberhasilan petani dalam mengamankan panen sangat bergantung pada pengenalan gejala serangan sejak dini dan penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) yang menggabungkan metode mekanis dan hayati melalui bumbung parasitoid guna menjaga keseimbangan ekosistem lahan.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian