Lolos atau Gagal SNBT, Apa yang Sebenarnya Anak Butuhkan dari Orang Tua?
·waktu baca 4 menit

Video-video pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) yang viral selalu berhasil bikin ikut terharu. Ada anak yang menangis haru karena berhasil masuk kampus impian, ada pula yang menahan kecewa karena hasilnya belum sesuai harapan.
Menurut Psikolog Pendidikan, Madeline Jessica, M.Psi, Psikolog, yang paling penting bukan sekadar bagaimana orang tua merayakan keberhasilan anak, melainkan bagaimana mendampingi anak dalam menghadapi hasil apa pun yang diterima.
Saat Anak Lolos, Orang Tua Perlu Menyiapkan Lebih dari Sekadar Perayaan
Diterima di perguruan tinggi impian tentu menjadi pencapaian yang layak dirayakan. Namun, setelah euforia tersebut berlalu, ada bekal lain yang tak kalah penting untuk dipersiapkan, terutama jika anak akan memasuki dunia perkuliahan.
Menurut Madeline, orang tua dapat mulai membantu anak mengembangkan self-regulated learning atau kemampuan mengatur diri dalam proses belajar. Berdasarkan penelitian Becoming a Self-Regulated Learner, kemampuan ini mencakup menetapkan tujuan, mengelola waktu, memantau perkembangan belajar, hingga melakukan evaluasi diri tanpa harus terus-menerus diawasi.
“Hal ini menjadi semakin penting jika anak akan kuliah di luar kota dan tinggal sendiri di kos atau asrama. Ketika jauh dari rumah, tantangan yang dihadapi bukan hanya akademik, tetapi juga kemandirian dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Madeline kepada kumparanMOM, Senin (1/6).
Jadi, orang tua dapat mulai membekali anak dengan berbagai keterampilan dasar, seperti:
1. Mengatur jadwal kuliah, tugas, organisasi, dan waktu istirahat. Termasuk menjaga pola makan dan kesehatan.
2. Tidak hanya sekedar memberikan uang bulanan, tapi orang tua perlu mengajarkan anak untuk mengelola keuangan bulanan.
3. Mengajarkan anak life-skill aktivitas rumah tangga seperti mencuci pakaian sendiri, membersihkan kamar, memasak, dan lain sebagainya.
“Dalam konteks perkembangan dewasa awal dan penelitian "Emerging adulthood: The winding road from the late teens through the twenties", kemampuan-kemampuan tersebut merupakan bagian dari life skills yang berperan penting dalam keberhasilan adaptasi mahasiswa di tahun pertama perkuliahan,” sambung Madeline.
Ketika Anak Tidak Lolos Kampus Impian
Di sisi lain, tidak semua anak mendapatkan hasil yang diharapkan. Saat menghadapi kondisi ini, Madeline mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru memberikan nasihat atau mencari sisi positif dari kegagalan tersebut.
- Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengakui dan menerima emosi yang sedang dirasakan anak. Rasa sedih, kecewa, marah, atau frustrasi merupakan respons yang wajar setelah melalui proses persiapan yang panjang.
- Lalu, memberikan ruang bagi anak untuk merasakan emosinya justru dapat membantu mereka memproses kekecewaan dengan lebih sehat. Sebaliknya, kalimat seperti "sudah, jangan sedih" atau "masih banyak jalan lain" terkadang membuat anak merasa perasaannya tidak dipahami.
- Setelah kondisi emosinya mulai lebih stabil, orang tua dapat mulai mengajak anak berbicara mengenai langkah berikutnya.
Membantu Anak Bangkit Setelah Kegagalan
Menurut Madeline, fase setelah kegagalan menjadi kesempatan penting untuk membangun resiliensi akademik, yaitu kemampuan untuk bangkit dan belajar dari pengalaman yang tidak sesuai harapan.
Orang tua dapat membantu anak melakukan refleksi melalui pertanyaan sederhana, seperti:
"Menurutmu apa yang sudah berjalan baik selama persiapan?"
"Apa yang bisa dipelajari dari pengalaman ini?"
"Langkah apa yang ingin kamu ambil selanjutnya?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu anak mengembangkan academic coping, yaitu kemampuan menghadapi tantangan akademik secara sehat melalui evaluasi diri, pemecahan masalah, dan perencanaan ke depan.
“Dengan begitu, anak belajar bahwa satu hasil seleksi tidak menentukan nilai dirinya dan yang terpenting bukan apakah ia pernah gagal, tetapi bagaimana ia merespons kegagalan tersebut dan melangkah maju setelahnya,” ujarnya.
Temuan ini juga sejalan dengan penelitian An Attributional Theory of Achievement Motivation and Emotion yang menunjukkan bahwa remaja dengan kemampuan coping dan pola pikir yang lebih adaptif cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi serta lebih mampu bangkit setelah mengalami kegagalan.
Pada akhirnya, baik ketika anak berhasil masuk kampus impian maupun ketika harus menghadapi kenyataan yang berbeda dari harapan, kehadiran orang tua tetap menjadi faktor penting. Sebab yang paling dibutuhkan anak bukan hanya tepuk tangan saat berhasil, tetapi juga dukungan ketika mereka sedang belajar untuk bangkit, Moms.
