Berhenti Menyalahkan Keadaan: Mengapa Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah?
Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Betapa mudahnya kita mencari kambing hitam ketika rencana hidup berantakan. Saat karier mandek, kita menyalahkan iklim ekonomi; saat relasi hancur, kita menunjuk watak pasangan. Saat merasa gagal, kita berlindung di balik dalih nasib buruk atau latar belakang keluarga yang tidak berpihak. Menyalahkan situasi di luar diri seolah menjadi bantalan empuk paling nyaman untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa ada ruang ikhtiar yang kita abaikan.
Kecenderungan untuk pasrah secara buta dan bersikap fatalistik ini bukanlah fenomena baru. Dalam diskursus pemikiran Islam, sikap menyandarkan kelemahan, dosa, atau kemalasan diri semata-mata kepada takdir merupakan penyimpangan nalar beragama yang dikenal sebagai paham Jabariyah—sebuah cara pandang keliru yang menganggap manusia laksana wayang tak bernyawa tanpa daya sama sekali.
Di era modern, kegelisahan serupa juga disuarakan oleh filsuf eksistensialis asal Prancis, Jean-Paul Sartre, yang mengkritik keras orang-orang yang gemar berlindung di balik dalih determinisme lingkungan demi menghindari tanggung jawab.
Bagi teologi Asy’ariyah manusia bukanlah sosok berdaulat mutlak tanpa batas. Namun jelas, bukan pula bidak catur pasif yang bergerak tanpa kesadaran moral. Islam mendudukkan manusia di titik tengah yang presisi. Sebagai hamba yang dibekali akal, kehendak memilih (ikhtiyār), serta daya usaha (kasb) yang wajib dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta.
Makna Hakiki Eksistensi dan Fitrah Manusia
Dalam diskursus filsafat barat, diktum "eksistensi mendahului esensi" kerap dipahami sebagai kebebasan tanpa arah, seolah manusia tidak memiliki cetak biru moral sama sekali. Namun, jika ditarik ke dalam kerangka etika Islam, konsep ini dapat dimaknai secara transformatif. Manusia tidak dinilai dari kondisi awal ketika ia lahir ke bumi, melainkan dari bagaimana ia menempuh jalan hidupnya melalui amal saleh dan pilihan moral yang nyata.
Berbeda dengan benda mati—seperti cangkir yang fungsinya telah selesai begitu selesai dicetak oleh pengrajin—manusia diberikan dinamika kehidupan. Manusia dibekali fitrah ketuhanan, tetapi apakah fitrah itu akan terpelihara atau tercoreng bergantung pada bagaimana ia mengarahkan kehendaknya di tengah benturan kenyataan.
Ketika seseorang berdalih bahwa ia pemarah karena watak turunan takdir. Atau memilih gagal karena lingkungan yang buruk. Ia sejatinya sedang menyamakan dirinya dengan benda mati: pasif, kaku, dan membiarkan diri disetir oleh keadaan luar. Padahal, Allah SWT tidak pernah membebankan hisab atas rupa fisik atau asal-usul keluarga kita, melainkan atas apa yang kita usahakan secara sadar melalui instrumen kehendak yang telah dianugerahkan.
Paradoks Amanah Memilih dan Beban Tanggung Jawab
Jika manusia memiliki ruang untuk berikhtiar, mengapa begitu banyak orang justru memilih untuk pasrah secara fatalistik dan menyalahkan keadaan? Jawabannya bermuara pada beban berat di balik amanah memilih itu sendiri.
Dalam Al-Qur'an, amanah kekhalifahan ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun, mereka enggan memikulnya karena takut. Manusialah yang akhirnya bersedia mengembannya. Konsekuensi dari memikul amanah ini adalah keharusan untuk senantiasa mengambil keputusan di setiap persimpangan hidup.
Keharusan memilih inilah yang acap kali memicu rasa cemas. Berada di ruang ikhtiar menuntut keberanian menghadapi kegagalan; dan saat keputusan yang diambil berbuah pahit, konsekuensinya harus ditanggung oleh diri sendiri.
Demi menghindari beban kecemasan moral inilah, sebagian orang memilih berpura-pura tidak berdaya. Mereka lebih suka menyalahkan takdir Ilahi atau mengkambinghitamkan situasi sosial. Padahal, Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari menegaskan bahwa meskipun Allah adalah Pencipta hakiki atas segala sesuatu, manusia tetap memiliki kasb—yakni perolehan atas usaha yang diniatkan.
Dari titik kasb inilah lahir konsep taklīf (beban kewajiban syariat) dan pahala serta dosa. Memilih untuk diam dan tidak berusaha sejatinya tetaplah sebuah pilihan tindakan yang memiliki konsekuensi moral di hadapan Allah.
Merdeka dalam Bingkai Qada dan Qadar
Sering kali muncul pertanyaan skeptis: bagaimana mungkin kita dituntut bertanggung jawab jika kenyataannya kita lahir dalam kondisi fisik yang lemah, di tengah kemiskinan struktural, atau di lingkungan yang penuh ketidakadilan? Bukankah situasi objektif nyata-nyata membatasi kebebasan kita?
Di sinilah letak kematangan nalar Asy’ariyah dalam membedakan antara Qadar (ketetapan takdir yang berada di luar kendali manusia) dan Ikhtiyār (ruang gerak manusia dalam merespons ketetapan tersebut).
Keterbatasan fisik, tempat lahir, dan situasi sosial adalah wilayah ketetapan Ilahi yang tidak dihisab. Namun, sikap batin dan ikhtiar kita dalam menghadapi data faktual tersebut sepenuhnya berada di dalam wilayah pertanggungjawaban manusia.
Seseorang yang ditakdirkan sakit mungkin tidak bisa serta-merta memilih kesembuhan dengan tangannya sendiri, tetapi ia memiliki kebebasan mutlak untuk memilih sikap batinnya. Apakah akan berputus asa dan mengutuk takdir, ataukah bersabar, berikhtiar mencari pengobatan, dan memetik hikmah di balik ujian tersebut.
Menyalahkan keadaan tidak pernah mengubah realitas objektif; ia hanya melumpuhkan daya juang batin dan mengikis rasa tawakal yang benar.
Ikhtiar Maksimal, Pertanggungjawaban Mutlak
Prinsip penutup dari kesadaran etis ini adalah pertanggungjawaban personal di hadapan Allah dan sesama manusia. Menjadi hamba yang beriman berarti menyadari bahwa setiap amal perbuatan yang kita usahakan memiliki dampak resonansi, baik bagi timbangan amal di akhirat maupun teladan sosial di muka bumi.
Pilihan kita adalah manifesto nilai. Ketika kita memilih untuk bersikap jujur, gigih, dan menolak tunduk pada keputusasaan, kita sedang mengamalkan sabda Rasulullah SAW untuk bersungguh-sungguh mengejar apa yang bermanfaat bagi kita seraya memohon pertolongan Allah (Iḥriṣ ‘alā mā yanfa‘uka wasta‘in billāh).
Sebaliknya, ketika kita memilih untuk menyerah lalu mengkambinghitamkan takdir demi membenarkan kemalasan diri, kita sedang menzalimi diri sendiri dan melegitimasi keputusasaan bagi orang lain.
Mengakhiri kebiasaan menyalahkan keadaan berarti berani mengoperasikan ikhtiar dan tawakal pada porsinya masing-masing. Kita memang tidak bisa memilih badai apa yang menerpa bahtera hidup kita, tetapi Allah telah membekali kita kompas nurani, akal budi, dan daya usaha untuk mengarungi gelombang tersebut.
Berhentilah berdalih di balik alasan keadaan! Maksimalkan ikhtiar, sucikan niat, ambil keputusan dengan berani, dan sandarkan hasilnya sepenuhnya kepada takdir Allah dengan lapang dada dan jiwa yang bermartabat.

