Konten dari Pengguna

Bukan Sekadar Ritual: Arti Awal Kata Salat Era Jahiliyah yang Jarang Diketahui

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang salat. Foto: Mohamed Alim/pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang salat. Foto: Mohamed Alim/pexels.

Di benak miliaran umat Islam saat ini, kata "salat" adalah ritual sakral yang merujuk pada ibadah formal. Diawali takbiratul ihram, diisi dengan rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud menghadap Ka'bah, serta ditutup dengan salam.

Formula fikih ini sudah begitu melekat sehingga sulit membayangkan bahwa kata yang sama pernah memiliki sejarah semantik yang sangat berbeda.

Namun, jika kita memutar kembali jarum sejarah ke Semenanjung Arab pra-Islam, sebuah fakta mencengangkan akan terkuak. Jauh sebelum Nabi Muhammad saw. diutus membawa risalah syariat, kata al-șalāh sudah beredar luas di lidah bangsa Arab Jahiliyah.

Bukan sebagai ritual lima waktu, melainkan sebagai gumaman mantra pemburu upahan, manuver politik ketundukan kepada kaisar tiran, hingga istilah pertukangan tentang meluruskan kayu bengkok di atas kobaran api!

Dari Mantra Dukun hingga Tunduk pada Kaisar

Masyarakat pedalaman Arab pra-Islam sama sekali belum mengenal ritual salat yang tertib dan berjadwal rapi seperti yang kita jalani sekarang. Di tengah kerasnya alam gurun, ritme hidup mereka sangat pragmatis. Bergerak mengikuti loyalitas suku dan berpusat pada pemenuhan kebutuhan materi harian.

Realitas sosial ini terekam jelas dalam syair-syair Jahiliyah, yang berfungsi bagaikan ensiklopedia hidup kebahasaan mereka. Salah satu penyair kenamaan masa itu, al-A‘sya Maimun bin Qais, mendokumentasikan bagaimana kata ṣallā digunakan dalam keseharian melalui baitnya:

لَهَا حَارِسٌ لَا يَبْرَحُ الدَّهْرَ بَيْتَهَا # وَإِنْ ذَبَحَتْ صَلَّى عَلَيْهَا وَزَمْزَمَا

"Wanita itu memiliki penjaga yang setia menunggu di rumahnya sepanjang waktu; dan tiap kali sang wanita menyembelih kurban, penjaga itu merapalkan doa dengan gumaman suara yang samar."

Dalam konteks budaya saat itu, frasa ṣallā ‘alaihā sama sekali tidak merujuk pada ibadah suci menghadap Tuhan semesta alam. Diksi tersebut murni menggambarkan komat-kamit mantra seorang penjaga sewaan yang sedang mengambil hati sang juragan—berharap kecipratan upah uang atau sekadar jatah daging sembelihan. Kata salat kala itu masih terjebak sebagai urusan dapur yang serba duniawi.

Lebih jauh lagi, ksatria legendaris ‘Antarah bin Syaddad merangkai bait pujian politik kepada Kaisar Persia Anushirwan dengan berkata:

مُلُوكُ الْأَرْضِ يَوْمَ الْوَغَى إِمَامٌ # تُصَلِّي نَحْوَهُ مِنْ كُلِّ فَجِّ

"Para raja di muka bumi pada hari pertempuran menjadikannya pemimpin; mereka merunduk hormat menghadap ke arahnya dari segenap penjuru yang jauh."

Di tangan ‘Antarah, kata tuṣalli berubah arti menjadi lambang tunduk secara politik. Ini adalah gerakan fisik yang merendahkan martabat manusia di depan kekuasaan raja.

Bahkan peribadatan masyarakat pagan Quraisy di sekeliling Ka'bah, sebagaimana direkam Al-Qur'an dalam Surat Al-Anfal ayat 35, hanyalah mukāan wa tașdiyah—siulan mulut dan tepukan tangan bising yang berbaur dengan pesta kesukuan.

Pada zaman itu, kata "salat" masih jauh dari makna ibadah suci. Artinya masih sangat duniawi, bergeser dari sekadar komat-kamit mantra demi upah receh hingga gestur membungkuk tunduk demi menjilat penguasa.

Filosofi Meluruskan Kayu di Atas Api

Selain urusan sosial dan politik, asal-usul kata salat ternyata punya arti fisik yang tak kalah unik. Pakar bahasa Arab klasik, Ibnu Faris, dalam kitab terkenalnya Maqāyis al-Lughah, mengungkap bahwa akar kata salat (ṣ-l-y) pada mulanya berarti menyalakan api atau memanggang.

Dalam peradaban masyarakat gurun yang bersahaja, istilah șalah al-'ud bi an-nār digunakan untuk menggambarkan keahlian memanaskan batang kayu yang melengkung di atas bara api unggun.

Kayu yang bengkok dipanaskan perlahan-lahan agar serat-seratnya melunak, sehingga sang pembuat panah dapat meluruskannya menjadi busur dan anak panah yang kokoh, tajam, dan mematikan sasaran.

Arti "memanggang" ini ternyata punya filosofi spiritual yang sangat dalam. Pada dasarnya, hati kita gampang melenceng, gampang bengkok karena nafsu dan urusan dunia.

Di sinilah salat bekerja layaknya perapian: menghangatkan hati yang mulai dingin, membakar ego yang liar, dan meluruskan kembali jiwa kita agar kembali ke jalan yang benar.

Salat bukan sekadar senam fisik hampa makna. Ia adalah proses penempaan eksistensial manusia di hadapan bara keagungan Sang Khalik.

Revolusi Makna: Cara Al-Qur'an Mengubah Kata Duniawi Jadi Ibadah Suci

Saat Al-Qur'an turun di tanah Arab pada abad ke-7, terjadilah perombakan besar-besaran. Al-Qur'an tidak membawa kosakata asing yang membingungkan masyarakat setempat.

Kitab suci ini justru memakai kata salat yang sudah akrab di telinga mereka sehari-hari, lalu mencabutnya dari makna duniawi yang dangkal dan mengangkatnya menjadi ibadah yang sangat mulia.

Al-Qur'an membersihkan kata salat dari komat-kamit mantra penjaga rumah sewaan maupun gestur menjilat para penguasa bumi. Lewat pesan tauhid yang tegas—seperti firman-Nya dalam Surat Al-Kausar ayat 2 (fa șalli li-rabbika—maka salatlah semata-mata demi Tuhanmu)—hak penyembahan dikembalikan seutuhnya kepada Allah.

Manusia tak perlu lagi merendahkan martabat di depan kaisar fana; dahi kita kini hanya boleh menyentuh tanah di hadapan Penguasa Semesta.

Ritual tepuk tangan dan siulan bising kaum musyrik di sekitar Ka'bah pun dirombak total menjadi perjumpaan hening yang tertib: rukuk yang khusyuk, sujud yang pasrah, dan lantunan ayat-ayat suci yang menyejukkan hati.

Kata yang dulunya sekadar simbol tunduk pada sesembahan patung dan materi. Kini, disulap menjadi sayap kebebasan batin yang memerdekakan manusia dari perbudakan dunia.

Mengetahui sejarah panjang kata salat menyadarkan kita betapa berharganya setiap rakaat yang kita tegakkan. Menurutmu, bagian mana dari filosofi masa lalu ini yang paling menampar rutinitas ibadah kita hari ini?