Evaluasi Diri Akhir Tahun: Apakah Kita Penggerak Perubahan atau Penonton Zaman?
Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pergantian tahun dalam kalender Islam bukan sekadar ritus perpindahan angka di atas kertas, melainkan sebuah jeda kultural untuk menguji dampak kehadiran kita di panggung sejarah. Momentum ini menuntut kita menengok kembali cakrawala peradaban yang pernah dibangun oleh generasi terdahulu. Ketika kita melintasi ambang menuju tahun baru 1448 Hijriah, sebuah pertanyaan penting menyeruak: apakah kita hari ini bertindak sebagai subjek pembuat sejarah, atau justru telah tereduksi menjadi penonton pasif yang sekadar mengapung di atas arus zaman?
Untuk menemukan jawaban yang jujur, kita harus berani membenturkan kegemilangan etos karakter masa lalu dengan realitas psikologis dan sosial yang melingkupi generasi modern saat ini.
Dari Arsitek Sistem Menuju Pengikut Tren Zaman
Ketika memetakan fondasi masyarakat Madinah pasca-peristiwa besar hijrahnya nabi, Ibnu Khaldun dalam kitabnya Muqaddimah menjelaskan bagaimana sebuah komunitas baru dapat bangkit menjadi pemenang sejarah, melalui kekuatan ikatan sosial dan kemandirian visi. Generasi awal tidak memosisikan diri sebagai pengungsi yang pasrah, melainkan sebagai perancang sistem yang andal.
Mereka memutus ketergantungan dari oligarki ekonomi Makkah dengan mendirikan pasar tandingan yang mandiri. Merumuskan aturan hukum yang adil, serta menata ruang kota baru. Semangat kemandirian ini mencapai puncaknya pada masa keemasan Islam abad pertengahan di Baghdad dan Andalusia, di mana para ilmuwan muslim bertindak sebagai produsen ilmu pengetahuan, mendirikan universitas, dan memetakan sains yang menjadi kiblat dunia.
Kontras dengan heroisme tersebut, potret generasi sekarang justru memperlihatkan ketergantungan konseptual yang akut. Kita kerap terjebak menjadi pengikut pasif dari tren global yang didikte oleh algoritma asing.
Dalam lanskap teknologi, posisi kita mayoritas hanyalah sebagai pengguna akhir yang konsumtif. Bukan pencipta atau pengendali arus inovasi. Ketidakberdayaan dalam merumuskan konsep mandiri ini membuat kita mudah terombang-ambing, kehilangan arah orisinal, dan mendewakan gagasan luar tanpa penyaringan kritis yang matang.
Ketahanan Mental Sejarah di Tengah Kerentanan Modern
Dalam catatan sejarah klasik Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, tergambar jelas bahwa perpindahan nabi ke Madinah bukanlah pelarian taktis demi kenyamanan pribadi. Melainkan sebuah keputusan radikal yang berisiko tinggi.
Para pendahulu mengorbankan stabilitas ekonomi, meninggalkan rumah, dan melepaskan seluruh aset materi demi sebuah visi jangka panjang yang abstrak namun diyakini kebenarannya. Ketahanan mental mereka dibentuk oleh keyakinan bahwa kenyamanan personal harus tunduk di bawah cita-cita besar penataan peradaban.
Sementara itu, berdasarkan berbagai riset; profesional muda Indonesia di kawasan urban saat ini memperlihatkan gejala kerentanan mental yang cukup mengkhawatirkan. Alih-alih memiliki daya tahan di tengah tekanan, kita begitu mudah merasa lelah secara psikologis oleh tuntutan rutinitas harian.
Terbawa arus scrolling tanpa henti, kita kerap meratapi keadaan di ruang publik, lalu bersembunyi di balik narasi pemulihan diri yang serba instan. Alih-alih menguat, mentalitas rapuh ini justru memenjara kita dalam egoisme, membuat kita abai pada tanggung jawab sosial karena terlalu sibuk merawat kenyamanan psikis yang kerdil.
Belajar Inklusivitas dari Piagam Madinah untuk Mengikis Polarisasi
Pakar sosiolog dan sejarawan sering kali menunjuk Piagam Madinah (Shaḥīfatul Madīnah) sebagai salah satu dokumen politik paling revolusioner di dunia. Sebagaimana dicatat dengan apik oleh Muhammad Husain Haekal dalam Ḥayāt Muḥammad, kontrak sosial ini berhasil menyatukan elemen-elemen masyarakat yang heterogen.
Mulai dari suku-suku Arab yang semula bertikai hingga komunitas Yahudi masuk ke dalam satu payung kesepakatan yang anggun. Generasi awal mampu melampaui ego kelompok demi menciptakan ruang publik yang inklusif, adil, dan menjamin perlindungan bagi setiap warga negara.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan realitas sosial hari ini, di mana generasi muda justru kerap menyuburkan polarisasi yang tajam. Gawai digital telah menggiring kita masuk ke dalam gelembung kelompok yang sehomogen.
Di mana kita hanya mendengarkan suara-suara yang sama dan memusuhi pandangan yang berbeda. Alih-alih membangun jembatan kerja sama lintas sektor. Kita lebih gemar menyebarkan sentimen kebencian dan terjebak dalam sekat-sekat kelompok yang kaku. Akibatnya, kita menjadi gagap dalam mengonsolidasikan potensi kolektif untuk menghadapi tantangan riil bangsa.
Menakar Ketepatan Amal Nyata di Tengah Riuhnya Kritik Digital
Sejarah Islam tidak dibangun di atas fondasi retorika yang mengawang-awang, melainkan lewat ketepatan tindakan para eksekutor lapangan. Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya no. 2778, meriwayatkan tindakan taktis para sahabat saat menghadapi krisis air bersih di Madinah.
Utsman bin Affan tidak memilih berdemonstrasi atau mengutuk keadaan. Ia langsung membeli sumur Raumah dari seorang saudagar dan menggratiskan aksesnya untuk seluruh warga. Karakter dasar generasi ini adalah sedikit bicara namun menghadirkan solusi yang konkret, presisi, dan berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak.
Kini, kita justru menyaksikan lahirnya generasi yang sangat bising di dunia maya namun lumpuh dalam aksi nyata. Kita terjebak dalam budaya merasa paling peduli, di mana pemenuhan kewajiban moral dianggap selesai setelah mengunggah kritik tajam atau tagar protes di media sosial.
Ruang publik digital kita penuh dengan perdebatan, kecaman, dan analisis tanpa alternatif solusi yang membumi. Ketika gawai dimatikan, kebisingan itu menguap begitu saja, meninggalkan realitas sosial yang tetap tak tersentuh oleh perbaikan konkret.
Membentang Visi Abadi untuk Keluar dari Kecemasan Hidup
Jika kita membaca biografi para ulama dan tokoh besar dalam kitab Siyār A'lām an-Nubalā’ karya Imam Adz-Dzahabi, kita akan menemukan bahwa orientasi hidup mereka melompat jauh melampaui batasan usia biologis mereka sendiri.
Skala prioritas mereka tertuju pada investasi nilai yang abadi, sehingga mereka tidak pernah cemas terhadap penilaian atau validasi manusia yang sifatnya sementara. Keyakinan akan kehidupan setelah mati membuat mereka mampu melahirkan karya-karya monumental yang tetap hidup dan memberi manfaat bahkan setelah ratusan tahun mereka wafat.
Sikap hidup ini sangat kontras dengan sindrom kecemasan fase muda (quarter-life crisis) yang menjangkiti generasi sekarang. Kita mudah mengalami kepanikan massal dan depresi eksistensial hanya karena terlalu fokus pada pencapaian materi jangka pendek.
Mulai dari target finansial di usia dua puluhan, pembuktian status sosial di mata rekan sebaya, hingga pengakuan karier yang fana. Karena tolok ukur kebahagiaan diletakkan pada standar kebendaan yang sempit, hidup kita menjadi dipenuhi kecemasan dan kehilangan jangkar spiritual yang mendalam.
Kesimpulan
Membaca kembali sejarah bukanlah untuk bernostalgia secara pasif. Melainkan untuk mengambil cermin retak dari kondisi diri kita hari ini. Kita tidak bisa terus-menerus menjadi penonton yang sekadar mengagumi kejayaan masa lalu sembari membiarkan diri kita hanyut oleh arus zaman yang mendikte.
Ambang tahun baru Islam 1448 Hijriah ini harus kita jadikan momentum untuk melakukan penataan ulang total secara mental dan spiritual. Saatnya kita beranjak dari sekadar penikmat tren dan komentator yang bising, lalu mulai melangkah dengan tegap sebagai arsitek perubahan yang membawa kemaslahatan nyata bagi dunia.

