Konten dari Pengguna
Dari Hafal Harga, Rasa, Hingga Berat Netto: Pengalaman 9 Tahun Jualan Kurma
1 Agustus 2025 11:52 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Dari Hafal Harga, Rasa, Hingga Berat Netto: Pengalaman 9 Tahun Jualan Kurma
Sudah hampir sembilan tahun saya mendampingi istri berjualan kurma. Jualan sederhana dengan laba yang pas-pasan. “Iya, kalau banyak pasti kamu diam aja,” kata temanku yang hobi maedo.Ahmad Natsir
Tulisan dari Ahmad Natsir tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Sudah hampir sembilan tahun saya mendampingi istri berjualan kurma. Jualan sederhana dengan laba yang pas-pasan. “Iya, kalau banyak pasti kamu diam aja,” kata temanku yang hobi maedo.
ADVERTISEMENT
Jualan kurma itu kami mulai secara tidak sengaja. Syahdan pada tahun 2016, istri saya memesan kurma muda kepada seseorang yang entah dari mana untuk keperluan program hamil di usia pernikahan kami yang ke-5. Karena harganya yang kelewat mahal saat itu, istri saya menawarkan sesiapa yang mungkin ingin order bareng. Cukup untuk memangkas biaya operasional, dan memaksimalkan berat pesanan 1000 gram.
Tidak dinyana, istri saya mendapatkan banyak pesanan. Sejak saat itulah kami berjualan kurma, kalau ada pesanan, ya kami cari, kalau tidak, ya kami berdoa saja. Kurma jenis apapun mulai kami tawarkan. Dari yang murah hingga yang mahal, dari kurma produksi Maroko hingga Pakistan.
Durasi waktu bergelut kurma yang cukup panjang itu membuat saya hafal jenis-jenis kurma. Ada kurma terjangkau tapi lengket di mulut, hingga ada yang mahal tapi kecil, satu butirnya saja lima ribu rupiah. Dan tentu saya jarang mencobanya. Diawasin "CCTV" soalnya.
ADVERTISEMENT
Pengetahuan ini ternyata mempunyai efek samping berarti. Jika saya bertamu kemudian disuguhi kurma saya bisa tahu jenis kurma itu apa dan berapa harga perkilonya. Hmmmm. Efek sampingnya, saya jadi ngedumel dalam hati. Ya iya lah, mana mungkin saya memberitahukannya keras pakai sound horeg.
Dulu kala, saat bapak pulang haji, bapak membawa kurma. Beliau menyebutnya ajwa. Sebuah kurma yang konon menjadi kesukaan Nabi. Bentuknya besar seukuran (maaf) jempol kaki orang dewasa. “Mahal itu,” kata Bapak. “Pantes, Nabi Muhammad sudah cukup dengan makan 3 biji kurma. Lha kurmanya segini besar,” seloroh saya.
Kini, saya tahu. Itu bukan kurma ajwa. Itu kurma medjool, kurma hitam besar, dan bukan ajwa. Tentu, saya tidak pernah mengatakan ini ke Bapak. Saya diam saja hingga saat ini. Karena bapak selalu benar. Di bawah Ibu satu strip saja.
ADVERTISEMENT
Namun, ada satu kekurangan saya yang masih saja belum saya hafal. Asal negara kurma. Kurma tidak hanya diproduksi oleh Arab Saudi saja, namun kurma diproduksi oleh banyak negara dan dari berbagai benua. Jujur ketika saya merasakan kurma saya tidak bisa hafal negara asal kurma ini. Hanya merk saja yang saya hafal, dan merk itu kemudian diproduksi di negara mana. Eh … Pokoknya gitu dah.
Ada satu hal lagi yang saya ingat tentang kurma, yaitu berat netto. Saya selalu bahagia manakala melayani pembelian kurma sukari, jenis kurma yang di produksi dari Arab Saudi. Tepatnya dari Madinah. Bukan tempat asalnya yang membahagiakan kami. Tapi beratnya sering melebihi netto yang tertulis.
Kurma sukari kami beli satu dus sebanyak 3 kilogram. Namun, jika ditimbang ulang akan selalu melebihi berat aslinya, dari lebih dari 2 ons hingga pernah menyentuh angka 3,9 kilogram. Pedagang mana yang tidak senang?
ADVERTISEMENT
Sebaliknya, kami akan murung jika pesanan berupa merk Wadi Dzahab (lembah emas)--bukan merek sebenarnya, kurma terjangkau yang sering dipesan para kastamer yang berasal dari Negeri Firaun. Pasalnya, berat netto realnya sering mengecewakan, bukan sering, selalu. Dari satu dus 10 kilogram selalu hanya berberat real 9,5 kilogram. Selalu tombok dah.
Yah, jika ini terjadi kami tidak lagi menyebutnya berdagang, kami pengabdian. Mengabdi kepada negeri di mana kita beli minyak seliter dapatnya 750 mililiter saja. Masyaallah, Tabarakallah ...

