Film Pendek Mahasiswa IKJ Masuk Balinale 2026, Kru Patungan demi Biaya Produksi
·waktu baca 3 menit

Film pendek karya mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Holy Salt, berhasil menembus ajang Bali International Film Festival (Balinale) 2026. Film tersebut menjadi salah satu karya Indonesia yang diputar dalam festival film internasional yang telah berstatus Oscar-qualified tersebut.
Sutradara film, Mirza Mazini, mengaku tak menyangka karya yang ia produksi saat masih berada di semester tiga bisa lolos ke Balinale. Saat ini, Mirza sendiri masih berstatus mahasiswa semester empat Program Studi Televisi dan Film IKJ.
“Awal mula bikin film ini sebenarnya aku sama penulis itu iseng banget. Jadi kayak kita lagi nyari ide buat film buat tugas, terus udah stuck, mentok, akhirnya kita scroll salah satu e-commerce,” kata Mirza saat kumparan temui di Balinale 2026, kawasan Sanur, Bali.
Mirza Mazini, Mahasiswa IKJ Sekaligus Sutradara, soal Penggarapan Film Pendek Holy Salt
Dari aktivitas tersebut, Mirza menemukan produk garam ruqyah yang dijual secara daring. Temuan itu kemudian memunculkan ide cerita yang akhirnya berkembang menjadi film pendek.
“Habis itu ada orang jual garam ruqyah dan kita mikir kayak lucu kali ya ketika ada orang yang jual garam ruqyah terus tetangganya kesurupan ternyata garam ruqyah itu tidak bisa mengobati tetangganya sendiri. Dan akhirnya dari situ kita kembangin,” tuturnya.
Sebelum menulis cerita, Mirza mengaku melakukan riset dengan membeli langsung produk garam ruqyah yang dijual secara online. Ia juga berdiskusi dengan sejumlah ustaz untuk memahami praktik ruqyah secara lebih mendalam.
Menurut Mirza, salah satu tantangan terbesar selama produksi justru datang dari sisi pendanaan. Sebagai proyek mahasiswa, tim produksi harus mencari cara agar film tetap bisa dibuat dengan sumber daya yang terbatas.
“Untuk funding sendiri sih sebenarnya karena ini tugas kampus jadi kampus itu mensubsidi sekitar 20 sampai 30 persen,” katanya.
Di luar bantuan kampus, anggota tim produksi turut mengeluarkan dana pribadi untuk menutupi kebutuhan produksi. Mirza menyebut setiap anggota tim harus patungan sekitar Rp 3 juta.
“(Patungan) kita di tiga juta per orang,” ujarnya.
Secara keseluruhan, biaya yang dikeluarkan untuk film tersebut mencapai sekitar Rp 35 juta. Angka itu mencakup proses produksi hingga distribusi film ke berbagai festival.
“Total-total sih kurang lebih 35 lah. Cuma ini tuh sudah termasuk distribusi, jadi bukan production doang,” kata Mirza.
Meski jumlah tersebut tergolong kecil untuk ukuran produksi film profesional, Mirza mengakui nominal itu cukup besar bagi mahasiswa.
“Itu juga lumayan gede sih. Makanya aku sebagai director tidak ingin mengecewakan teman-temanku yang sudah bayar tiga juta itu,” tuturnya.
Bagi Mirza, lolos ke Balinale menjadi pencapaian penting karena festival tersebut telah memiliki status Oscar-qualified. Menurutnya, kesempatan seperti ini dapat membuka jalan bagi sineas muda Indonesia untuk dikenal di panggung internasional.
“Ini sangat menjadi pintu yang sangat luas juga sih untuk filmmaker Indonesia,” ucapnya.
Mirza berharap semakin banyak mahasiswa film di Indonesia yang berani mengembangkan karya dan memanfaatkan momentum positif perfilman nasional yang kini semakin mendapat perhatian dunia.
“Harapannya semoga filmmaker-filmmaker Indonesia bisa punya kesempatan di panggung internasional juga dan Balinale menjadi salah satu kanalnya,” pungkasnya.
