Ngobrol Bareng Dewi Gontha soal MyBCA Java Jazz Festival 2026
ยทwaktu baca 4 menit

MyBCA Java Jazz Festival 2026 akan digelar NICE (Nusantara International Convention Exhibition) di PIK 2, Tangerang pada 29-31 Mei mendatang. Setelah lebih dari satu dekade identik dengan Kemayoran, Java Jazz Festival akhirnya memasuki babak baru.
kumparan berkesempatan ngobrol bareng Direktur Utama PT Java Festival Production, Dewi Gontha. Dalam perbincangan santai tersebut, Dewi Gontha membuka banyak hal, mulai dari kesiapan, lineup, hingga kejutan yang layak ditunggu tahun ini.
Babak Baru: Venue Baru, Tantangan Baru
Dewi menjelaskan alasan pihaknya menggelar festival musik tersebut di NICE PIK 2. Kata Dewi, bersama pihak venue, tim dari Java Jazz akan kembali banyak melakukan penyesuaian. Mengingat ini kali pertama festival itu berpindah venue selama 15 tahun belakangan digelar di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Pusat.
"Maksudnya karena kan di venue sebelumnya kita 15 tahun gitu ya. Jadi banyak melakukan penyesuaian lah untuk venue baru ini gitu," tutur Dewi dihubungi kumparan.
Meski terbilang baru, Dewi menjelaskan bahwa NICE merupakan venue yang sangat representatif untuk sebuah event internasional. Dewi mengatakan bahwa promotor ingin membuat sesuatu yang baru lagi. Oleh karena itu, promotor memutuskan untuk berpindah venue.
"Tidak ada kesalahan dari venue sebelumnya menurut kita venue sebelumnya juga baik gitu kan ya. Cuma ini mencoba berbuat sesuatu yang berbeda lagi dan mungkin memperbaiki lagi," kata Dewi.
"Karena kan challenge nya setiap tahun itu adalah bagaimana kita cara perbaikan diri gitu kan ya. Apakah challenging? Pasti lah sebuah venue baru selalu challenging, ya kan? Artinya kita belajar baru. Benar-benar nih tadi saya bilang makanya kita semua sama-sama belajar dari nol," tambahnya.
Dewi mengungkapkan bahwa transportasi menjadi salah satu tantangan dari venue yang digunakan tahun ini. Namun, dia memastikan bahwa pihaknya sudah menemukan solusi terkait moda transportasi untuk penonton maupun pekerja.
"Kami bekerja sama dengan kementerian perhubungan dan beberapa moda transportasi. Termasuk shuttle untuk memudahkan penonton dan pekerja datang dan pulang dari venue," ujar Dewi.
Informasi lengkap terkait transportasi ini rencananya akan diumumkan dalam waktu dekat.
Persiapan Teknis Hampir Rampung
Dari sisi persiapan, MyBCA Java Jazz 2026 sudah memasuki tahap akhir, terutama untuk lineup internasional. Secara teknis, Dewi mengatakan bahwa persiapan yang dilakukan semakin matang.
"Untuk artis internasional sudah hampir selesai semua. Yang Indonesia masih ada beberapa yang masuk. Secara teknis, kami juga sudah mulai technical meeting dengan venue," ujar Dewi.
Dengan rencana menghadirkan hingga 10 panggung yang tersebar di area indoor dan outdoor, tim Java Jazz juga melakukan banyak penyesuaian teknis, termasuk koordinasi intens dengan pihak venue.
Lineup: Variatif, Segar, dan Banyak Nama Baru
Salah satu kekuatan Java Jazz selalu ada di kurasi lineup-nya. Tahun ini pun tak berbeda. Dewi memastikan bahwa pihaknya akan tetap menghadirkan line up yang beragam.
"Masih tetap beragam. Jazz tetap ada, pop juga ada. Komposisinya kurang lebih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi banyak nama baru," ujar Dewi.
Dewi kemudian menjelaskan beberapa highlight menarik tahun ini antara lain, peraih 8 Grammy Awards dan Oscar winner, Jon Batiste yang debut di Java Jazz, Ella Mai, Wave to Earth, Dave Koz yang kali ini hadir dengan format Summer Horns, hingga Frank McComb.
Selain itu, akan hadir pula Big Band dari Australia dengan 18 personel, Orkestra dari Brasil hingga beragam kolaborasi lintas negara dan genre. Sementara itu, dari Indonesia, ada nama-nama seperti Maliq & D'Essentials, Yura Yunita, Ziva Magnolya, hingga Slank yang meramaikan panggung.
Kolaborasi Jadi Daya Tarik Baru
Dalam perbincangan tersebut, Dewi juga mengungkapkan bahwa Java Jazz 2026 tidak hanya soal lineup. Melainkan juga proyek kolaboratif yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
"Ada Big Band yang akan main bareng penyanyi Indonesia. Orkestra juga akan berkolaborasi dengan musisi lokal. Ini sesuatu yang baru buat kita," tutur Dewi.
Pendekatan ini, lanjut Dewi, menunjukkan bahwa Java Jazz tak hanya menghadirkan konser, tetapi juga pengalaman musikal yang lebih eksperimental.
Slank dan Elemen Kejutan
Salah satu yang paling menyita perhatian tentu penampilan Slank. Bukan sekadar tampil, ada kemungkinan mereka membawa sesuatu yang berbeda. Dewi sempat sedikit memberikan bocoran mengenai apa yang bakal Slank suguhkan di Java Jazz 2026 nanti.
"Mereka sedang menyiapkan aransemen jazz. Jadi kita lihat nanti seperti apa," ungkapnya.
Bagi Dewi, setiap musisi yang tampil di Java Jazz diharapkan bisa menunjukkan sisi berbeda dari karya mereka.
Menjaga Identitas, Sambil Terus Berevolusi
Di tengah berbagai perubahan, venue baru, lineup, hingga konsep kolaborasi, ada satu hal yang tetap dijaga oleh promotor. Yakni identitas Java Jazz sebagai festival yang inklusif secara musikal.
"Kita tetap mengakomodasi pasar yang beragam tanpa meninggalkan jazz itu sendiri," tutur
Dengan kombinasi antara tradisi dan inovasi, Java Jazz 2026 tampaknya akan menjadi salah satu edisi paling menarik dalam sejarahnya.
Dari venue baru hingga lineup segar, dari kolaborasi lintas negara hingga potensi kejutan di panggung. Festival ini bukan hanya pindah tempat, tapi juga naik level.
