Bunuh Diri Anak 10 Tahun, Ketika Pensil dan Buku Seakan Lebih Mahal dari Nyawa

Abdi Negara yang hobby nulis, Penyuluh Hukum Kanwil Kemenkum NTB, Freelancer yang doyan Web Design dan Digital Marketing. Hobby Belajar banyak hal baru.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Erniwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Namanya Yohanes Bastian Roja, Usia 10 tahun, seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Desa Naruwolo, Kabupaten ngada, Nusa Tenggara Timur.
Yang saya baca di internet, konon katanya Yohanes ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri pada 29 Januari 2026 di pondok bambu tempat tinggalnya bersama neneknya di kebun.
Sebelum kejadian, ia sempat mengeluh pusing dan tidak mau berangkat sekolah, tetapi ibunya memaksa agar ia tetap pergi ke sekolah.
Ibunya yang bernama Maria mengatakan, setelah mengirim Yohanes ke rumah nenek, ia berpikir anak bungsunya itu sudah berangkat ke sekolah. Hingga siang harinya, kabar duka itu datang.
Menurut saksi dan keluarga, Yohanes meninggalkan surat perpisahan yang ditujukan kepada ibunya, berisi kata-kata pamit dan permohonan agar ibunya tidak menangis.
Jujur, membaca tulisan tangan kecil itu membuat saya ingin menangis, entah bagaimana. Tak terbayang kalimat pendek, sederhana itu seakan mampu memberikan tamparan keras pada saya, bahkan pada jutaan orang di luar sana yang membacanya.
Bahkan, di bawah tulisan tangan itu, sebuah gambar tentang dirinya yang sedang menangis, sketsa dari sudut pandang anak 10 tahun yang rasanya-akan mampu menancapkan kenangan pada hati siapapun.
Bunuh diri Yohanes Bastian Roja, anak 10 tahun dari NTT. Saya tidak tahu bagaimana sebuah reels Instagram lewat di beranda saya. Katanya seorang siswa sekolah dasar di NTT sana bunuh diri hanya karena ingin sebatang pensil dan sebuah buku.
Penyebab Tragedi
Berdasarkan berbagai laporan media, ada beberapa faktor yang diduga kuat berkaitan dengan tragedi bunuh diri :
1. Himpitan Ekonomi Keluarga
Yohanes dan keluarganya hidup dalam kondisi sangat miskin ekstrem. Makanan sehari-hari mereka berupa hasil kebun seperti pisang dan ubi. Yohanes sendiri tak tinggal dengan ibunya, setelah ayahnya meninggal ibunya menikah lagi, sehingga ia tinggal Bersama neneknya.
Sementara keempat saudaranya tinggal Bersama ibunya dan ayah tirinya. Yohanes kerap membantu neneknya berjualan hasil kebun seperti sayur, ubi, dan kayu bakar untuk mencukupi kebutuhan makan.
2. Tidak Mampu Memenuhi Kebutuhan Sekolah Dasar
Karena sangat miskin, Yohanes tak memiliki buku dan alat tulis, yang menjadi kebutuhan dasar untuk belajar di sekolah. Ia bahkan pernah meminta ibunya agar dibelikan buku dan pena, tetapi ibunya tidak memiliki uang untuk itu. Jangankan membeli pena dan buku, untuk makan saja sudah susah.
Saya tidak tahu apakah informasi yang satu ini benar, kabarnya Ia juga dibebani uang komite sekolah yang relatif besar (sekitar Rp 1,2 juta per tahun), meskipun status sekolah negeri. Rasanya ingin memaki mendengar nya, bagaimana ceritanya sekolah negeri minta uang komite tahunan sebesar itu.
3. Program Indonesia Pintar (PIP) yang Belum Tercairkan
Meskipun Yohanes tercatat sebagai penerima Program Indonesia Pintar (PIP), bantuan pemerintah untuk pendidikan anak dari keluarga kurang mampu, namun kabarnya pencairan PIP belum bisa dilakukan.
Alasannya karena masalah administrasi kependudukan (adminduk) keluarganya, terutama karena KTP ibunya masih terdaftar di kabupaten berbeda dari tempat tinggalnya yang sebenarnya selama bertahun-tahun.
Entah apa yang salah dan mekanisme yang mana yang perlu dibenahi. Kita tidak benar-benar tahu dimana salahnya situasi keluarga ini. Namun yang jelas, konsekuensinya, keluarga Yohanes tidak masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) sehingga tidak pernah menerima bantuan sosial apa pun selama 11 tahun tinggal di Ngada.
Lagi-lagi sebuah ironi negeri ini, ketika administrasi menghalangi yang berhak menerima bantuan. Ketika petugas dan aparat setempat yang berwenang justru tak peka dengan masalah ini bahkan hingga 11 tahun lamanya.
4. Faktor Sosial dan Psikologis
Bicara soal factor sosial dan psikologi, tentunya Kondisi keluarga yang mengalami keretakan adalah asal muasalnya. Yohanes tinggal bersama neneknya, ibunya tinggal di tempat berbeda dengan lima anak lainnya, dan ayah kandung Yohanes telah meninggal sejak ia masih kecil.
Dugaan beratnya tekanan psikologis akibat kurang kasih sayang dan himpitan ekonomi, serta ketidakberdayaan memenuhi kebutuhan Pendidikan, turut memperparah kondisi emosinya.
Sudah pasti, dia baru 10 tahun tapi menghadapi situasi ekstrim. Tanpa dukungan yang memadai, tanpa cukup motivasi apalagi solusi.
Respons Pemerintah dan Bantuan?
Pemerintah dan berbagai lembaga memberikan respon setelah tragedi ini, ada yang memberikan santunan dan pendampingan bagi keluarga, tapi sudah terlambat menurut saya. Santunan dan pendampingan itu tak pernah dirasakan Yohanes.
Justru setelah ia pergi dengan cara bunuh diri, barulah mereka sadar, selama ini ia sangat butuh santunan dan pendampingan.
Lalu ada bantuan sosial dari Kemensos melalui Sentra Efata Kupang, yang memberikan bantuan total sekitar Rp 9 juta kepada keluarga. Iya, kepada keluarga, bukan kepada Yohanes. Dia sudah pergi membawa rasa kecewa.
Dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Ngada segera memproses perpindahan domisili administrasi keluarga Yohanes agar mereka dapat masuk ke DTKS dan berhak atas bantuan pemerintah.
Pertanyaannya, kenapa baru sekarang? Haruskah di desa-desa terpencil lain, salah satu anaknya bunuh diri dulu baru prosesnya di permudah dan disegerakan?
Terakhir, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menyoroti tragedi ini sebagai contoh kurangnya perhatian dan kepedulian dari aparat desa hingga pihak pemerintah daerah terhadap warga kurang mampu.
Meskipun saya masih bertanya-tanya, dimana program HAM berada ketika kasus kemiskinan seperti ini begitu banyak terlihat. Apakah programnya hanya kata-kata?
Mari Lebih Sadar dan Peduli
Ah, mungkin kita hanya perlu berkaca, berdiri dan bertanya pada diri sendiri. Sudahkah kita menengok tetangga kiri dan kanan kita sesekali. Siapa tahu ada yang butuh bantuan tapi tak bisa bersuara.
Atau sekedar bertanya ke sekeliling kita, adakah yang sekiranya miskin dan butuh bantuan meskipun tak seberapa? Agar mereka, yang memang berada di bawah garis kemiskinan, tak merasa terabaikan. Tak merasa sendiri dengan kejamnya dunia dan tantangan Nasib hidupnya.
Ataukah kita memang tanpa sadar tak pernah peduli, hanya tertampar ketika ada yang sudah mati. Semoga tak terjadi lagi, semoga kita semakin sadar diri dan lebih mudah dalam berbagi.
