Kisah Masyarakat Knasaimos Sekolahkan Anak dari Hasil Hutan

Mahasiswa S1 Perbandingan Mazhab Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ewil Manoa Woloin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SORONG SELATAN - Suara dentuman beliung yang menghantam batang pohon sagu terdengar bersahut-sahutan di celah rimbunnya hutan adat wilayah Knasaimos, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya. Di tempat ini, gemercik air sungai dan keheningan hutan bukan sekadar gambaran pemandangan alam, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat setempat.
Bagi masyarakat adat Knasaimos, hutan bukan hanya bentang alam hijau, melainkan "ibu" yang memberi makan sekaligus "bank" yang menjamin masa depan generasi penerus. Melalui hasil hutan bukan kayu. seperti pati sagu, ulat sagu, hingga hasil buruan. Orang tua di Knasaimos mampu membiayai pendidikan anak-anak mereka hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Sagu dan Hutan: Tapak Lahan Masa Depan Anak Knasaimos
Bapak Alfred Kladit, Kepala Kampung Sira sekaligus tokoh masyarakat adat Knasaimos, menegaskan bahwa hutan adat merupakan warisan tak ternilai yang harus dijaga dari ancaman kerusakan maupun alih fungsi lahan. Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak saat ini semakin tinggi, dan seluruh biayanya bersumber langsung dari kekayaan hutan yang mereka kelola secara arif.
"Hutan ini adalah tempat kami hidup, mencari makan, dan menyekolahkan anak-anak. Mulai dari sagu, hasil berburu, sampai hasil hutan lainnya, semua kami olah secara tradisional. Jika hutan ini rusak atau hilang dijual kepada perusahaan, maka hilang juga masa depan dan kesempatan anak-anak kami untuk duduk di bangku sekolah,"ujar Alfred Kladit.
Alfred menambahkan bahwa pendidikan bagi anak-anak Knasaimos bukan sekadar mencari gelar, melainkan investasi benteng pertahanan wilayah adat mereka di masa depan. Dengan lahirnya generasi muda yang terpelajar, masyarakat adat meyakini tanah dan kearifan lokal Knasaimos akan tetap terlindungi dari berbagai ancaman eksploitasi luar.
Peluh Mama-Mama Adat: Meremas Sagu Demi Lembar Rupiah dan Bangku Kuliah
Perjuangan membiayai pendidikan anak terasa kian nyata melalui ketangguhan para perempuan adat. Mama Alfonsina Sagisolo, salah satu perempuan adat Knasaimos, menceritakan rutinitas berat yang ia jalani demi mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk biaya sekolah sang buah hati.
Sejak pagi hari, Mama Alfonsina berjalan menembus lebatnya hutan menuju dusun sagu (nani). Proses panjang dimulainya dari menumbuk teras batang sagu, menampungnya di dalam goti (tempat pemerasan dari pelepah sagu), hingga meremasnya (ramas sagu) dengan mengalirkan air jernih dari sungai. Peluh yang menetes berbaur dengan pati sagu putih yang mengendap di dasar wadah.
"Setiap hari kami masuk hutan untuk ramas sagu dan cari ulat sagu. Hasil dari jual sagu di pasar itu yang kami pakai untuk beli buku, seragam sekolah, biaya kos, sampai bayar uang semester anak yang kuliah di kota. Kalau kami tidak jaga hutan sagu ini, dari mana lagi kami dapat uang untuk anak-anak punya masa depan?" tutur Mama Alfonsina Sagisolo.
Bagi Mama Alfonsina dan mama-mama adat lainnya di Knasaimos, setiap genggaman pati sagu yang diolah adalah simbol kasih sayang dan tekad pantang menyerah agar anak-anak Papua tidak tertinggal dalam pendidikan.
Menjaga Wilayah Adat untuk Kedaulatan Pendidikan
Kisah dari Knasaimos membuktikan betapa eratnya hubungan antara kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pendidikan humanis di Papua. Ketika masyarakat adat memiliki hak penuh dan akses berkelanjutan atas tanah serta hutan mereka, kemandirian ekonomi dapat tercipta tanpa harus merusak alam.
Hutan sagu yang tetap berdiri tegak bukan hanya menjaga keseimbangan ekosistem global dari ancaman krisis iklim, tetapi juga terus melahirkan anak-anak Knasaimos yang siap meraih cita-cita tinggi dari hasil keringat dan keanekaragaman hayati tanah kelahirannya sendiri.
