Konten dari Pengguna

Banpres Kemasyarakatan Idul Adha dan Kedewasaan Berbangsa

Fahmi Salim

Fahmi Salim

Direktur Baitul Maqdis Institute. Founder Al-Fahmu Institute & Dewan Pakar JATTI (Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia). Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahmi Salim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peternak memberi pakan sapi kurban yang dibeli Presiden Prabowo Subianto di salah satu sentra peternakan sapi di Kecamatan Talun, Blitar, Jawa Timur, Kamis (21/5/2026). Foto: Irfan Anshori/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Peternak memberi pakan sapi kurban yang dibeli Presiden Prabowo Subianto di salah satu sentra peternakan sapi di Kecamatan Talun, Blitar, Jawa Timur, Kamis (21/5/2026). Foto: Irfan Anshori/ANTARA FOTO

Polemik terkait Bantuan Kemasyarakatan Presiden berupa 1.098 ekor sapi kurban dengan anggaran sekitar Rp100 miliar untuk Idul Adha 2026 perlu disikapi secara jernih, proporsional, dan dewasa.

Saya memandang kebijakan Presiden tersebut sebagai bagian dari bantuan sosial-keagamaan dan kemasyarakatan yang memang ditujukan untuk membantu masyarakat Muslim dalam momentum Hari Raya Idul Adha, terutama kelompok masyarakat yang membutuhkan akses terhadap hewan kurban dan distribusi daging.

Dalam konteks negara Pancasila, kebijakan seperti ini bukanlah bentuk diskriminasi terhadap agama lain, melainkan bagian dari fasilitasi negara terhadap kebutuhan sosial-keagamaan masyarakat sesuai momentum hari besar masing-masing.

Selama ini negara juga hadir dalam berbagai bentuk dukungan terhadap perayaan dan kebutuhan umat agama lain, baik dalam bentuk pengamanan, fasilitas publik, bantuan sosial, hari libur nasional, maupun dukungan kegiatan kebudayaan dan keagamaan lainnya. Karena itu, melihat bantuan kurban semata-mata sebagai “negara hanya memihak umat Islam” adalah cara pandang yang kurang utuh terhadap praktik kehidupan berbangsa kita.

Yang sangat disayangkan adalah ketika isu ini dipelintir menjadi bahan agitasi politik, framing kebencian, atau delegitimasi terhadap pemimpin negara akibat residu polarisasi Pilpres 2024. Kritik tentu boleh dalam negara demokrasi, tetapi kritik seharusnya dibangun di atas data, akhlak publik, dan tanggung jawab moral—bukan prasangka, fitnah, atau eksploitasi sentimen antarumat beragama.

Sapi kurban sumbangan Presiden Prabowo seberat 1,1 ton tiba di Masjid Al-Akbar Surabaya, Selasa (26/5/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Terima kasih dan apresiasi kepada Presiden Prabowo yang telah meningkatkan alokasi anggaran Banpres Kemasyarakatan dalam Rangka Peringatan Hari Raya Idul Adha 1447/2026 lebih tinggi dari era presiden-presiden sebelumnya.

Idul Adha sendiri mengandung pesan pengorbanan, solidaritas sosial, dan distribusi kesejahteraan. Hewan kurban bukan simbol kemewahan elit, tetapi instrumen berbagi kepada masyarakat luas, khususnya fakir miskin dan masyarakat kecil.

Karena itu saya berharap seluruh pihak dapat melihat kebijakan ini secara objektif dan tidak membangun narasi yang memperkeruh persatuan nasional.

Kita semua memiliki tanggung jawab menjaga ruang publik tetap sehat, menjaga persaudaraan kebangsaan, dan mengedepankan kebijaksanaan dalam menyampaikan pendapat.

Bangsa ini terlalu besar untuk terus diseret ke dalam pertengkaran politik yang tidak produktif.

Semoga Idul Adha menjadi momentum memperkuat solidaritas, kepedulian sosial, dan persatuan bangsa Indonesia.

Jakarta, 28 Mei 2026/11 Dzulhijah 1447