Anak Perempuan Sulung dan Beban Ganda: Potret "Ibu Kecil" di Kampung Nelayan
Tulisan dari frendi hiranda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik ketangguhan anak sulung yang menjaga adik saat orang tua melaut, ada yang lebih menyedihkan dari sekadar putus sekolah: mereka bahkan tak sempat belajar apa itu bermimpi.
Subuh belum genap pecah ketika Mira (sebut saja begitu namanya) sudah bangun. Bukan karena mengaji atau bersiap sekolah, tapi karena adiknya yang bungsu mulai rewel minta susu. Ia menggendongnya sambil menyalakan tungku, menanak nasi untuk tiga bersaudara yang masih tertidur. Di usia sebelas tahun, tangan kecilnya sudah hafal rutinitas yang seharusnya belum jadi bebannya: memandikan adik, menyiapkan makan, mengantar ke posyandu, lalu pulang untuk memasak siang. Ayahnya sudah berlayar sejak dua hari lalu, entah kapan kembali. Ibunya ikut membantu di tempat pelelangan ikan, pulang menjelang magrib dengan tubuh yang terlalu lelah untuk mengurus rumah.
Cerita seperti Mira bukan pengecualian di kampung-kampung nelayan yang tersebar di sepanjang pesisir Indonesia. Di banyak keluarga yang bergantung sepenuhnya pada hasil laut, anak sulung (terutama anak perempuan) kerap diam-diam naik pangkat menjadi orang tua kedua begitu adiknya lahir. Dalam ilmu psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah parentifikasi: ketika anak mengambil alih tanggung jawab yang semestinya dipikul orang dewasa, baik secara fisik maupun emosional. Penelitian menunjukkan kondisi ini paling sering muncul pada anak sulung di keluarga yang menghadapi tekanan ekonomi berat, saat orang tua tak punya banyak pilihan selain berharap anak tertua bisa "menggantikan" peran mereka selama berhari-hari melaut mencari nafkah.
Kenapa yang paling sering menanggung beban ini justru anak perempuan? Alasannya sederhana sekaligus menyakitkan: budaya kita masih diam-diam menganggap urusan momong dan menjaga rumah sebagai kodrat perempuan, sekecil apa pun usianya. Anak laki-laki sulung mungkin diajak ayahnya ikut melaut sebagai bentuk kaderisasi, sementara anak perempuan sulung otomatis diserahi tanggung jawab domestik tanpa pernah benar-benar ditanya apakah ia siap. Lambat laun, peran itu dianggap wajar, bahkan membanggakan, sampai tak ada yang menyadari bahwa di baliknya ada masa kecil yang perlahan-lahan hilang.
Yang jarang disadari, beban ini tidak berhenti di urusan rumah tangga. Anak-anak seperti Mira juga memikul beban emosional: mereka jadi tempat mengadu bagi adik-adiknya, penengah saat ada pertengkaran kecil, bahkan penenang saat rumah terasa sepi karena orang tua tak kunjung pulang tepat waktu. Psikolog menyebut ini beban ganda (instrumental dan emosional sekaligus). Anak yang belum genap remaja itu dipaksa dewasa jauh sebelum waktunya, kehilangan ruang untuk sekadar menjadi anak-anak: bermain sepulang sekolah, mengeluh capek tanpa rasa bersalah, atau menangis tanpa harus buru-buru menyeka air mata karena adiknya sedang memperhatikan.
Namun yang paling menyayat sebenarnya bukan soal sekolah yang terhenti. Cobalah tanya pada anak-anak seperti Mira, apa cita-citanya kelak. Tak sedikit yang hanya terdiam lama bukan karena malu, tapi karena pertanyaan itu terasa asing, sesuatu yang tak pernah sempat mereka pikirkan. Bagaimana mungkin membayangkan masa depan, jika hari ini saja habis dipikirkan untuk siapa yang menjaga adik dan apa yang bisa dimasak dari sisa beras kemarin? Anak-anak yang seharusnya bebas berandai-andai jadi dokter, guru, atau pelaut hebat, tumbuh tanpa pernah diberi ruang untuk sekadar bermimpi. Generasi yang tak pernah diizinkan bermimpi, pada akhirnya, tumbuh tanpa hasrat untuk mengejar apa pun, bukan karena mereka tak mampu, tapi karena realita sudah lebih dulu mengajarkan bahwa berharap itu mewah, dan kecewa jauh lebih menyakitkan daripada tidak berharap sama sekali.
Data dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia mencatat delapan dari sepuluh nelayan kecil hanya mengenyam pendidikan di bawah tingkat SMP, dan tingkat kemiskinan ekstrem di wilayah pesisir tercatat lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Ketika anak sulung harus memilih antara duduk di bangku sekolah atau menjaga adik yang tak ada lagi yang mengurus, pilihan itu nyaris selalu berakhir sama: bangku sekolah yang kosong.
Situasi ini kian pelik karena lokasi. Banyak kampung nelayan berada di daerah tertinggal, wilayah yang menurut definisi pemerintah memang kurang berkembang dari sisi ekonomi, sumber daya manusia, hingga akses layanan dasar. Sekolah lanjutan sering kali hanya ada di pulau atau kecamatan lain, butuh biaya transportasi dan tempat tinggal yang tak terjangkau keluarga nelayan. Ketika kemiskinan struktural bertemu beban pengasuhan yang jatuh ke pundak anak, hasilnya adalah lingkaran yang sulit diputus: anak yang tak sekolah tumbuh menjadi orang tua yang juga tak punya banyak pilihan selain menitipkan beban serupa ke anak sulungnya kelak.
Namun ketangguhan anak-anak ini bukan sesuatu yang seharusnya dirayakan tanpa syarat. Kekuatan yang mereka tunjukkan sering kali lahir dari ketiadaan pilihan, bukan dari kebebasan memilih. Mira, dan ribuan anak sulung lain di kampung-kampung pesisir, tidak butuh pujian karena "kuat dan mandiri sejak kecil." Mereka butuh sistem yang memastikan bahwa menjaga adik tak harus berarti kehilangan masa kecil, masa depan, dan hak untuk bermimpi sekaligus—entah lewat akses pendidikan yang lebih dekat, tempat penitipan anak berbasis komunitas saat orang tua melaut, atau sekadar pengakuan bahwa beban yang mereka pikul memang berat.
Karena pada akhirnya, anak-anak seperti Mira tidak sedang belajar menjadi kuat. Mereka sedang kehilangan kesempatan untuk sekadar menjadi anak, dan yang paling menyedihkan, kehilangan kesempatan untuk sekadar bermimpi.

