Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.99.1
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Februari 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna
Ramadan 2025: Senyap di Langit, Riuh di Bumi
28 Februari 2025 17:07 WIB
·
waktu baca 5 menitTulisan dari Firdaus Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Langit tetap biru. Matahari terbit dan tenggelam seperti biasa. Tak ada yang berubah di langit, tapi di bumi, kalender kembali penuh perdebatan. Ramadan datang, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, pertanyaan yang sama bergema: kapan puasa dimulai?.
ADVERTISEMENT
Di kantor-kantor ormas Islam, para ulama memeriksa angka-angka. Hisab telah berbicara, bulan sudah dihitung, orbit telah diperkirakan. Di tempat lain, para perukyat menyiapkan teleskop mereka. Mereka tak mencari bintang, hanya hilal yang samar. Mata terlatih menunggu, tangan mencatat. Pemerintah menunggu laporan. Lalu sidang isbat pun digelar, seperti ritual tahunan yang tak pernah absen.
Sementara itu, di rumah-rumah, perdebatan lain terjadi. Di grup WhatsApp keluarga, seorang keponakan bertanya: “Besok kita puasa atau lusa?” Seorang paman yang Muhammadiyah menjawab tegas: “Besok.” Seorang bibi yang Nahdlatul Ulama berkata hati-hati: “Tunggu keputusan Kemenag.” Seorang cucu yang baru belajar agama membaca, diam-diam bingung.
Di Antara Dua Waktu
Ramadan di negeri ini memang tidak hanya tentang ibadah. Ia adalah juga kalender sosial, ruang identitas, bahkan medan tafsir. Dalam banyak hal, ini bukan lagi sekadar soal kapan mulai berpuasa. Ini soal bagaimana kita memahami tradisi, otoritas, dan, lebih dari itu, bagaimana kita menyikapi perbedaan.
ADVERTISEMENT
Tahun ini, Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1446 H jatuh pada 1 Maret 2025. Pemerintah, melalui sidang isbatnya, menunggu laporan rukyat. Kemungkinan sama, kemungkinan berbeda.
Perbedaan ini bukan hal baru. Sejak dulu, langit yang satu ditafsirkan berbeda-beda. Sains dan tradisi berkelindan, tafsir astronomi dan kesaksian mata bertarung dalam batas-batas keyakinan. Dalam sejarah Islam, metode penentuan awal bulan selalu menjadi perdebatan—bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia.
Di satu sisi, ada hisab, perhitungan matematis yang akurat dan prediktif. Di sisi lain, ada rukyat, pengamatan visual yang memberi kepastian berbasis fakta empiris. Hisab adalah ilmu yang berkembang maju, rukyat adalah tradisi yang dipegang erat.
Kita bisa bertanya: dalam era digital ini, haruskah kita tetap mengandalkan penglihatan mata ketika perhitungan astronomi sudah begitu akurat? Ataukah, justru di tengah kecanggihan teknologi, kita masih perlu menghidupkan tradisi rukyat sebagai warisan Islam yang lestari?
ADVERTISEMENT
Bulan di Langit, Ego di Bumi
Tapi mungkin, pertanyaannya bukan lagi kapan kita mulai berpuasa. Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa kita masih saja terpecah dalam hal yang begitu rutin?
Setiap tahun, perbedaan ini terjadi. Dan setiap tahun, kita ribut. Ada yang menyambutnya sebagai keniscayaan, ada yang jengah, ada yang menjadikannya bahan lelucon. Tapi mungkin, ini bukan lagi sekadar soal metode. Mungkin ini tentang otoritas.
Siapa yang lebih berhak menentukan kapan kita mulai berpuasa? Apakah negara, dengan sidang isbatnya, harus menjadi pemutus final? Apakah ormas-ormas Islam boleh berbeda dan tetap berjalan dengan keputusannya sendiri? Ataukah kita sebaiknya menyeragamkan segalanya, demi persatuan yang lebih besar?
Pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan teknis. Ia adalah juga soal politik agama. Sebab di balik perdebatan hisab dan rukyat, ada sesuatu yang lebih dalam: tentang siapa yang lebih dipercaya. Tentang siapa yang lebih berhak berbicara atas nama umat.
ADVERTISEMENT
Di negara lain, persoalan ini nyaris tak ada. Arab Saudi, misalnya, menetapkan awal Ramadan untuk seluruh negeri. Turki dan Malaysia melakukan hal yang sama. Tapi Indonesia, dengan pluralitasnya yang kompleks, tak bisa sesederhana itu.
Sejarahnya panjang. Di negeri ini, Islam datang dengan banyak wajah. Ada Islam yang tumbuh dalam tradisi pesantren, ada Islam yang berkembang dalam modernitas perkotaan. Ada Islam yang berbasis tarekat, ada Islam yang lebih rasional. Perbedaan ini sudah ada sejak berabad-abad lalu, dan ia tak akan mudah hilang hanya karena kalender ingin seragam.
Tradisi yang Terus Berulang
Di warung kopi, seorang pria paruh baya bertanya: “Jadi, kapan kita puasa?”
Seorang lainnya menjawab: “Lihat sidang isbat.”
Yang lain menyahut: “Kalau Muhammadiyah sudah pasti.”
ADVERTISEMENT
Obrolan ringan seperti ini terjadi di mana-mana. Seolah tak ada yang benar-benar peduli, tapi juga tak ada yang benar-benar mengabaikan. Kita sudah terbiasa dengan perbedaan ini, tapi kita juga selalu mengulang debat yang sama.
Tahun lalu, seorang teman berkata, “Kenapa kita tak bisa satu kalender saja? Bukankah Islam mengajarkan persatuan?”
Tapi tahun berikutnya, ia tetap bertanya hal yang sama.
Dan begitulah Ramadan di negeri ini. Diulang setiap tahun, diperdebatkan setiap kali, tapi tetap dijalani dengan penuh keikhlasan.
Esensi yang Terlupakan
Mungkin, di tengah semua perdebatan ini, kita lupa sesuatu yang lebih penting: bahwa Ramadan bukan tentang kapan ia dimulai, tetapi tentang bagaimana kita menjalaninya.
Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan spiritual, ujian kesabaran, dan ajang refleksi. Tapi dalam banyak hal, kita lebih sibuk dengan kalender ketimbang esensi ibadah itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Kita ribut soal awal puasa, tapi tak banyak yang bertanya bagaimana kita bisa menjadikan Ramadan sebagai momen memperbaiki diri. Kita sibuk menunggu sidang isbat, tapi lupa bertanya apakah kita sudah siap menyambut bulan suci ini dengan hati yang bersih.
Ramadan, sejatinya, bukan tentang angka. Ia adalah soal makna.
Akhir yang Selalu Sama
Dan pada akhirnya, seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadan akan berjalan seperti biasa. Ada yang mulai puasa lebih dulu, ada yang belakangan. Ada yang merayakan Idul Fitri lebih awal, ada yang sedikit terlambat.
Tapi toh, masjid tetap ramai. Jalanan tetap dipenuhi pedagang takjil. Anak-anak tetap bermain petasan. Orang-orang tetap berbuka dengan bahagia.
Dan barangkali, di situlah letak keindahan Islam di negeri ini. Perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, tapi justru ruang untuk merayakan keberagaman. Kita tak perlu seragam dalam segalanya, cukup dalam hal yang paling hakiki: bahwa puasa adalah jalan kembali pada yang suci.
ADVERTISEMENT
Maka tak apa jika ada yang berpuasa lebih awal, tak apa jika ada yang memulai sedikit belakangan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menyambutnya, menjalaninya, dan menutupnya dengan hati yang lebih bersih.
Sebab langit tetap biru, matahari tetap terbit dan tenggelam. Yang berubah bukan Ramadan, tapi bagaimana kita memahami maknanya.