Dari Mobil ke Militer, Renault Garap Drone Tempur dan Rantis

Renault Group memperluas bisnisnya di luar industri otomotif sipil dengan masuk ke sektor pertahanan. Pabrikan asal Prancis itu kini berkolaborasi dengan Thales untuk mengembangkan teknologi militer, termasuk drone tempur dan kendaraan taktis.
Dalam ajang Eurosatory 2026 di Paris, keduanya memperkenalkan dua produk utama, yakni sistem drone Toutatis dan kendaraan taktis 4 Troop yang berfungsi sebagai pusat komando bergerak di medan operasi.
Toutatis merupakan munisi loitering jarak pendek yang dirancang untuk operasi militer berintensitas tinggi. Sistem ini dikembangkan untuk mendukung kebutuhan angkatan bersenjata dalam skenario pertempuran modern.
Drone ini dapat digunakan dalam berbagai skenario operasi, baik diluncurkan dari kendaraan darat, pesawat, maupun kapal laut. Sistemnya juga dirancang tahan terhadap gangguan elektromagnetik dan dapat dioperasikan dalam formasi swarm.
Meski memiliki kemampuan ofensif, Renault menegaskan bahwa pengambilan keputusan tetap berada di tangan operator manusia dalam setiap penggunaan sistem.
Selain drone, Renault juga memperkenalkan 4 Troop, kendaraan taktis berbasis SUV sipil yang dimodifikasi menjadi pusat komando lapangan.
Model ini mengusung konsep kendaraan multi-peran berbasis platform sipil (VCMR), yang mengintegrasikan sistem komunikasi aman, sensor, serta pengendalian drone dan kendaraan tanpa awak.
“Kolaborasi strategis ini menyatukan kekuatan dua perusahaan Prancis untuk mendukung industri drone nasional sekaligus memperkuat kapabilitas pertahanan,” ujar CEO Renault Group, François Provost, dalam keterangan resminya.
Senada, Chairman dan CEO Thales, Patrice Caine, menyebut kerja sama ini sebagai langkah penting. Ia menilai kombinasi teknologi Thales dan kekuatan industri Renault mampu menjawab kebutuhan militer modern.
Secara basis, 4 Troop disebut menggunakan platform Renault Rafale, bukan Renault 4 listrik seperti namanya.
Di atas kertas, kendaraan ini mampu mengoperasikan dan mengoordinasikan drone udara (UAV) hingga kendaraan darat tanpa awak (UGV). Semua sistem tersebut terintegrasi dalam platform digital milik Thales.
Secara tampilan, mobil ini masih menyerupai SUV coupe pada umumnya. Namun detail seperti warna matte, ban off-road, pelindung lampu, serta roof rack penuh perangkat menjadi pembeda utamanya.
Perubahan paling signifikan ada di balik bodi. Sistem Combat Digital Platform dari Thales mengubah SUV ini menjadi ‘mothership’ drone yang mampu mengendalikan berbagai unit tanpa awak.
Dari sisi teknis, Renault menyebut 4 Troop sebagai kendaraan 4x4 dengan sistem hybrid. Konfigurasi ini memungkinkan operasi lebih senyap sekaligus memiliki jangkauan lebih jauh.
Indikasinya mengarah ke basis Renault Rafale E-Tech 4x4 dengan tenaga sekitar 300 hp. Model tersebut juga didukung baterai 22 kWh yang mampu menempuh hingga 100 km dalam mode listrik.
Fitur Vehicle-to-Load (V2L) turut disematkan. Artinya, kendaraan ini bisa menjadi sumber daya listrik untuk berbagai perangkat di lapangan.
Renault menyebut konsep ini lebih efisien dibanding kendaraan militer khusus. Selain biaya produksi lebih rendah, perawatan juga bisa memanfaatkan jaringan servis kendaraan sipil yang sudah ada.
