Konten dari Pengguna

Pembangunan Kota, Pembangunan Manusia

Gabriel Kristiawan Suhassatya

Gabriel Kristiawan Suhassatya

Staf Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi (PRISMA). Research Assistant di Penabulu Foundation-Jakarta Selatan, Sektor Sosial-Pembangunan. Minat pada Filsafat Politik, Filsafat Nusantara, Ideologi Nasionalisme, Politik Indonesia, & Pembangunan Kota.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gabriel Kristiawan Suhassatya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah kendaraan melintas di dekat proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2 di kawasan Taman Sari, Jakarta, Rabu (16/7/2025). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah kendaraan melintas di dekat proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2 di kawasan Taman Sari, Jakarta, Rabu (16/7/2025). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Ada kecenderungan menarik dalam cara kita memaknai pembangunan. Kita lebih mudah mengagumi gedung yang menjulang daripada kualitas hidup yang meningkat. Kita lebih cepat merayakan proyek yang diresmikan daripada manusia yang dimampukan. Padahal, ukuran paling mendasar dari pembangunan bukanlah seberapa megah kota yang berhasil dibangun, melainkan seberapa jauh pembangunan itu memperluas martabat dan kualitas hidup manusia. Pertanyaan tentang pembangunan pada akhirnya bukan sekadar apa yang dibangun, melainkan untuk siapa pembangunan itu dilakukan?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia bergerak menjadi bangsa urban. Data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) yang dikutip Harian Kompas menunjukkan bahwa pada 2020 sebanyak 56,4 persen penduduk Indonesia telah tinggal di kawasan perkotaan dan proporsinya diproyeksikan meningkat menjadi 67,1 persen pada 2045 (Kompas, 7/12/2022). Pada saat yang sama, Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2025 mencapai 75,90, meningkat dari 75,02 pada tahun sebelumnya (Badan Pusat Statistik, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia 2025, 2025). Data tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kota dan pembangunan manusia sama-sama mengalami kemajuan.

Di tengah laju urbanisasi dan pembangunan perkotaan yang demikian pesat, muncul sebuah pertanyaan, apakah pertumbuhan kota yang kita rayakan hari ini benar-benar berjalan seiring dengan pertumbuhan kualitas manusia? Sebab sejarah pembangunan modern menunjukkan bahwa kota dapat berkembang semakin besar tanpa menjadi semakin manusiawi. Di sinilah pembangunan kota dan pembangunan manusia tidak boleh dipandang sebagai dua agenda yang terpisah, melainkan sebagai satu kesatuan yang menentukan arah peradaban Indonesia di masa depan.

Kota sebagai Ruang Kehidupan Manusia

Sejarah pemikiran pembangunan menunjukkan bahwa kota bukan sekadar kumpulan bangunan atau pusat aktivitas ekonomi. Kota pada hakikatnya adalah ruang kehidupan manusia. Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan kota tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan dan kemajuan infrastruktur, melainkan juga oleh kualitas kehidupan warganya.

Henri Lefebvre dalam The Right to the City (1968) menegaskan bahwa kota bukan hanya objek pembangunan, melainkan ruang sosial yang harus memungkinkan setiap warga berpartisipasi dalam membentuk kehidupan bersama. Kota yang baik adalah kota yang memberikan hak kepada manusia untuk hidup, berinteraksi, dan berkembang secara bermartabat.

Dalam konteks Indonesia, banyak kota berlomba membangun pusat perbelanjaan, kawasan bisnis, atau proyek properti prestisius, tetapi kurang memperhatikan kualitas ruang publik, aksesibilitas kelompok rentan, serta keberlanjutan lingkungan. Akibatnya, pembangunan sering kali menghasilkan kota yang modern secara fisik, tetapi tidak selalu ramah bagi manusia lainnya.

Setidaknya terdapat tiga persoalan. Pertama, pembangunan kota masih sering dipahami sebagai pembangunan infrastruktur semata. Kedua, kebijakan perkotaan kerap lebih mengutamakan investasi daripada kesejahteraan warga. Ketiga, dimensi sosial dan ekologis sering ditempatkan sebagai pelengkap, bukan fondasi pembangunan.

Pembangunan sebagai Pembebasan Manusia

Pembangunan kita sering kali direduksi menjadi urusan infrastruktur, sementara dimensi kemanusiaan perlahan tersisih dari percakapan publik. Padahal, berbagai kota di Indonesia masih menghadapi ketimpangan sosial, keterbatasan ruang publik, krisis lingkungan, kemacetan, hingga meningkatnya keterasingan sosial di tengah kehidupan urban yang semakin padat.

Soedjatmoko dalam Dimensi Manusia dalam Pembangunan (1983) telah lama mengingatkan bahwa pembangunan bukan semata-mata persoalan pertumbuhan ekonomi, melainkan persoalan manusia. Keberhasilan pembangunan tidak diukur dari seberapa besar kekayaan yang dihasilkan, melainkan dari sejauh mana pembangunan mampu memperluas martabat, kebebasan, dan kapasitas manusia untuk menentukan masa depannya sendiri. Dalam konteks urbanisasi Indonesia hari ini, tantangan terbesar pembangunan bukan lagi sekadar membangun kota yang lebih besar, melainkan memastikan bahwa kota yang berkembang tetap menjadi ruang yang memanusiakan manusia.

Menurut Soedjatmoko, pembangunan sejatinya berpusat kepada manusia. Jika pembangunan kota hanya berorientasi pada pertumbuhan fisik, maka pembangunan berisiko kehilangan tujuan dasarnya. Ia menolak pandangan yang mengidentikkan pembangunan dengan pertumbuhan infrastruktur fisik semata. Menurutnya, pembangunan harus dipahami sebagai upaya memperluas kapasitas manusia untuk menentukan masa depannya sendiri. Sebab pembangunan adalah sarana pembebasan manusia dari berbagai ketidakbebasan seperti kemiskinan, struktur yang menindas, dan ketergantungan.

Bagi Soedjatmoko, manusia bukan alat pembangunan, melainkan tujuan pembangunan. Keberhasilan suatu bangsa tidak cukup diukur dari peningkatan produk domestik bruto, melainkan dari kemampuan masyarakat mengembangkan kreativitas, kebebasan, pengetahuan, dan martabat kemanusiaannya.

Pandangan ini memiliki kedekatan dengan gagasan Amartya Sen dalam Development as Freedom (1999). Sen menegaskan bahwa pembangunan pada hakikatnya adalah perluasan kebebasan substantif manusia. Infrastruktur, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi hanyalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Pembangunan kota tidak boleh berhenti pada pembangunan jalan, gedung, atau kawasan industri. Pembangunan kota harus menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi warga untuk memperoleh pendidikan yang baik, layanan kesehatan yang memadai, pekerjaan yang layak, lingkungan yang sehat, serta ruang partisipasi dalam kehidupan publik.

Kota yang berhasil bukanlah kota yang memiliki gedung tertinggi atau pusat bisnis terbesar, melainkan kota yang mampu menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh warganya.

Menata Ulang Arah Pembangunan Kota

Tantangan pembangunan Indonesia ke depan adalah memastikan bahwa pembangunan kota berjalan beriringan dengan pembangunan manusia. Keduanya tidak boleh dipertentangkan, tetapi harus saling memperkuat. Hal tersebut dapat dituntaskan dengan tiga hal.

Pertama, orientasi pembangunan perlu bergeser dari pembangunan yang berpusat pada proyek menuju pembangunan yang berpusat pada manusia. Setiap kebijakan perkotaan perlu dievaluasi berdasarkan dampaknya terhadap kualitas hidup warga, bukan semata-mata berdasarkan nilai investasi atau pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan.

Kedua, kota perlu dikembangkan sebagai ruang inklusif yang memberikan akses setara bagi semua kelompok masyarakat. Ketersediaan transportasi publik, ruang terbuka hijau, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, dan ruang partisipasi warga harus menjadi prioritas pembangunan.

Ketiga, pembangunan kota harus mengintegrasikan keberlanjutan ekologis sebagai bagian dari pembangunan manusia. Krisis iklim menunjukkan bahwa kualitas hidup manusia tidak dapat dipisahkan dari kualitas lingkungan hidup. Kota yang sehat membutuhkan udara yang bersih, tata ruang yang berkelanjutan, dan kebijakan yang berpihak pada generasi mendatang.

Pembangunan kota adalah pekerjaan teknis sekaligus pekerjaan moral. Ia tidak hanya menata ruang, tetapi juga menentukan arah peradaban. Jalan-jalan yang kita bangun sesungguhnya sedang menghubungkan harapan-harapan manusia; taman-taman yang kita rawat sedang menyediakan ruang bagi kehidupan untuk saling menyapa; dan setiap kebijakan yang kita putuskan sedang membentuk wajah kemanusiaan masa depan.

Ketika manusia bertumbuh dalam kebebasan, kreativitas, solidaritas, dan harapan, kota-kota akan menjelma menjadi rumah bersama yang memuliakan kehidupan. Pembangunan bukan sekadar mengubah wajah bumi, melainkan menumbuhkan jiwa kemanusiaan yang membuat peradaban tetap layak diperjuangkan.

Sejarah tidak akan mengingat berapa banyak beton yang kita tuangkan atau berapa tinggi menara yang kita dirikan. Sejarah akan mencatat apakah pembangunan yang kita wariskan berhasil menghadirkan kehidupan yang lebih adil, lebih bermakna, dan lebih manusiawi. Karena sejatinya, kemajuan sebuah kota terlihat nyata pada cahaya kemanusiaan yang tetap menyala di hati setiap warganya.