Festival Payung Indonesia (FESPIN) : Ruang Budaya Tradisional Tampil dan Dikenal

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Gracia Kasih Novariescha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Surakarta - Ratusan payung warna-warni dengan motif yang berbeda terlihat memenuhi Taman Balekambang, Solo saat Festival Payung Indonesia (FESPIN) 2026 kembali digelar pada tanggal 4-6 September 2026. Keragaman dan kemegahan budaya Indonesia mampu disampaikan melalui berbagai aspek dalam festival ini. Dengan mengangkat tema “Catra Padi - Sepayung Dewi Sri”, FESPIN memaknai padi sebagai lambang kemakmuran, sekaligus pengingat untuk menjaga lingkungan dan hubungan yang selaras antara manusia dan alam.
Berbagai jenis payung hadir sebagai dekorasi dan properti, melibatkan ribuan seniman dan pengrajin dari berbagai daerah.. Tak hanya itu, pengunjung juga dapat menikmati pertunjukan seni yang selaras dengan tema serta mengikuti beragam workshop yang terbuka untuk umum. Lebih dari sekadar ajang hiburan, festival ini menjadi ruang bagi seni tradisional untuk tetap tampil dan dikenal.
Salah satu seni tradisional yang tampil dalam festival ini adalah tari Dewi Sri Re-Imagined - Mother of Life yang dibawakan oleh sanggar Moi Community. Tarian tersebut menggambarkan padi yang sedari benih hingga menunduk saat berisi, seorang perempuan juga menjalani perjalanan serupa sebagai seorang ibu dan berjuang demi masa depan anak-anaknya. Sosok ibu menjadi lambang kehidupan yang juga berkaitan dengan tema "Catra Padi – Sepayung Dewi Sri".
Bagi Milla, penari dari Moi Community, tampil di panggung festival menjadi pengalaman yang berarti. "Festival ini memberi kesan yang terasa sampai saat ini, berbagai penampilan yang beragam serta cerita dibalik setiap penampilannya membawa keunikan yang dapat tersampaikan ke hati penonton," ujarnya. Ruang seperti inilah yang dapat membuat seni tradisional tetap hidup dan dikenal generasi muda.
Menurutnya, festival seperti ini punya peran penting dalam pelestarian seni tradisional. Berbagai masyarakat datang bukan hanya dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri seperti Thailand, Jepang, dan lainnya. "Melalui festival ini, kita bisa mempertahankan budaya Indonesia bahkan mengenalkannya pada kontingen luar tentang budaya Indonesia" tutur Milla.
Dalam rangka melestarikan budaya dan kesenian Nusantara, festival ini berhasil menyampaikan pesan-pesan budaya yang dibungkus dengan rapi serta menarik terlebih bagi anak muda. Berbagai tarian tradisional dan pertunjukan dilakukan guna mengenalkan budaya Indonesia ke masyarakat luas. Sebulan setelah gelaran usai, payung-payung warna-warni itu mungkin sudah kembali disimpan. Namun, semangat untuk menjaga seni tradisional tetap tampil dan dikenal masih terus hidup di panggung-panggung berikutnya. (Gracia)
