Sering Flashback Mantan Tengah Malam? Mungkin Kamu Terjebak 'Soul Tie'

Mahasiswa Psikologi semester 1 di UIN Jakarta yang memiliki minat besar pada bidang leadership, organisasi, dan human development.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hafsah Azmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah enggak sih, kamu sudah merasa 100% move on? Sudah ganti gaya hidup, hangout sama teman-teman baru, bahkan mungkin sudah punya gebetan baru. Tapi entah kenapa, di waktu-waktu tertentu seperti saat tengah malam atau bahkan saat sedang bersama teman-teman, flashback datang tanpa diundang. Seolah ada benang tak kasat mata yang tiba-tiba menarikmu kembali ke kenangan si mantan, padahal kamu lagi enggak mikirin dia sama sekali.
Perasaan aneh ini dikenal sebagai "Soul Tie" atau Ikatan Jiwa. Konsep ini populer karena berhasil menjelaskan kenapa beberapa hubungan meninggalkan bekas luka yang lebih dalam, membuatmu merasa terikat dan susah lepas, bahkan jika kamu tahu hubungan itu toxic dan seharusnya sudah selesai.
Soul Tie: Ikatan Jiwa atau Keterikatan Emosional?
Dalam perspektif spiritual, soul tie sering dipahami sebagai ikatan energi yang menyatukan dua jiwa akibat interaksi yang sangat intens. Seolah ada bagian dari dirimu yang tertinggal pada orang itu, dan sebaliknya.
Namun dari sudut pandang psikologi, fenomena ini bukanlah hal mistis. Ini adalah respons manusiawi terhadap keterikatan emosional (emotional attachment) yang terbentuk terlalu dalam. Hubungan tersebut pernah menjadi sumber rasa aman, validasi, dan makna hidupmu. Jadi, wajar jika otakmu butuh waktu lama untuk "memutus" kabel-kabel emosional tersebut.
Istilah soul tie akhirnya menjadi nama populer untuk kondisi keterikatan emosional yang tidak sehat. Ikatan yang tetap bertahan meskipun hubungan itu sendiri sudah berakhir atau bahkan masih terasa menyakitkan.
Akar Keterikatan: Bagaimana Soul Tie Terbentuk?
Ikatan yang terasa begitu dalam tidak muncul dari obrolan basa-basi. Ia terbentuk dari pengalaman emosional dan kedekatan yang intens, yang secara langsung memengaruhi tubuh dan pikiran. Beberapa hal berikut sering menjadi pemicu kuat terbentuknya soul tie.
Hormon Rasa Nyaman: Saat kita dekat secara fisik dan emosional, tubuh melepaskan oksitosin yaitu hormon yang membuat kita merasa aman dan terhubung. Tanpa sadar, tubuh mulai mengasosiasikan sosok tersebut sebagai sumber kenyamanan utama.
Berbagi 'Core Memories': Saat kamu membuka rahasia, ketakutan, dan mimpi terbesar, kamu sedang menyerahkan bagian paling rapuh dari diri. Kehilangan sosok tersebut bukan sekadar kehilangan pasangan, tapi kehilangan seseorang yang benar-benar memahami isi kepala kita.
Siklus Trauma Bonding: Hubungan yang penuh drama, sering bertengkar lalu diakhiri dengan momen baikan yang manis, bisa membuat candu. Pola naik-turun emosi ini memicu hormon stres dan rasa lega secara bergantian, yang dalam psikologi dikenal sebagai trauma bonding. Inilah alasan mengapa hubungan yang paling menyakitkan justru sering kali menjadi yang paling sulit dilepaskan.
Ketika Ikatan Itu Harus Dilepas: Langkah Kecil Untuk Mulai Pulih
Jika ikatan ini terasa seperti belenggu yang membuatmu berhenti bertumbuh, proses melepaskannya tidak harus dramatis atau ekstrem. Yang terpenting adalah mengembalikan kendali emosional ke dirimu sendiri, pelan-pelan tapi konsisten.
1. Akui bahwa hubungan itu memang sudah berakhir
Ini bukan soal menyalahkan siapa pun, tapi soal kejujuran pada diri sendiri. Mengakui bahwa hubungan tersebut tidak lagi sehat adalah langkah awal untuk berhenti berharap pada sesuatu yang sudah tidak ada.
2. Beri jarak agar hati bisa bernapas
Mengurangi atau menghentikan kontak bukan berarti membenci. Ini adalah cara memberi ruang bagi diri sendiri untuk pulih. Selama kamu masih terus terpapar pesan, unggahan, atau kabarnya, ikatan emosional itu akan sulit mereda.
3. Lepaskan hal-hal yang memicu kenangan
Foto, hadiah, atau benda kecil sering kali menyimpan muatan emosi. Menyimpannya jauh atau menyingkirkannya sementara bisa membantu pikiran berhenti kembali ke pola lama.
4. Kembalikan fokus ke hidupmu sendiri:
Alihkan energi yang dulu habis untuk hubungan ke hal-hal yang membangun dirimu: rutinitas baru, relasi yang lebih sehat, atau tujuan personal yang sempat tertunda. Bila terasa terlalu berat, berbicara dengan profesional adalah langkah yang sangat wajar dan membantu.
Melepaskan bukan proses yang instan. Ada hari di mana kamu merasa baik-baik saja, dan ada hari di mana kenangan kembali muncul tanpa aba-aba. Itu wajar. Yang terpenting, kamu tetap berjalan. Sedikit demi sedikit, benang yang dulu terasa mengikat akan kehilangan cengkeramannya. Dan suatu hari nanti, kamu akan menyadari bahwa kamu tidak lagi berjalan sambil menoleh ke belakang.
