QRIS Terhubung ke Seluruh Dunia: Disrupsi atau Ilusi?
Tulisan dari Hari Suciono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hari Suciono : Penulis adalah Pegawai di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah
Transformasi sistem pembayaran Indonesia sedang bergerak dalam arah yang tak lagi bisa disebut domestik. Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), yang awalnya dirancang untuk merapikan fragmentasi QR code di dalam negeri, kini berkembang menjadi instrumen integrasi ekonomi lintas negara. Apa yang dulunya sekadar solusi teknis, perlahan berubah menjadi game changer.

Bank Indonesia (BI) secara konsisten memperluas implementasi QRIS lintas negara melalui kerja sama bilateral dan regional. Hingga 2026, QRIS telah terhubung dengan Thailand sejak Agustus 2022, disusul Malaysia dan Singapura pada 2023, serta Jepang pada 2025. Ekspansi terus berlanjut ke Korea Selatan dan China pada 2026, dengan rencana tambahan ke India dan Arab Saudi. BI bahkan menargetkan konektivitas dengan delapan negara dalam waktu dekat sebagai bagian dari langkah strategis untuk memperluas sistem pembayaran nasional ke tingkat global.
Langkah ini diperkuat oleh inisiatif Regional Payment Connectivity (RPC) di ASEAN. QRIS tidak berdiri sendiri, melainkan dihubungkan dengan sistem pembayaran negara lain seperti PromptPay, DuitNow, dan PayNow. Dengan satu kali pindai, transaksi lintas negara dapat dilakukan secara real-time, sementara konversi mata uang berlangsung secara otomatis di belakang sistem.
Ketika QRIS Mengubah Cara Ekonomi Bergerak
Di dalam negeri, perkembangan QRIS menunjukkan fondasi yang semakin matang. Hingga 2025, jumlah pengguna telah mencapai sekitar 57 juta dengan 39,3 juta merchant, di mana lebih dari 93% merupakan UMKM. Volume transaksi bahkan telah menembus lebih dari 6 miliar transaksi dengan nilai sekitar Rp579 triliun. Angka ini bukan hanya statistik, tetapi mencerminkan perubahan perilaku ekonomi masyarakat secara luas.
Efisiensi yang dihadirkan QRIS menjadi pintu masuk utama perubahan tersebut. Transaksi menjadi lebih cepat, biaya lebih rendah, dan proses pembayaran semakin sederhana. Dalam konteks UMKM, hal ini berarti tidak hanya kemudahan bertransaksi, tetapi juga peningkatan daya saing. Akses terhadap sistem keuangan formal yang sebelumnya terbatas kini menjadi lebih terbuka.
Lebih jauh, digitalisasi sistem pembayaran ini juga berdampak pada struktur ekonomi. Bank Indonesia menunjukkan bahwa inovasi pembayaran digital berkontribusi terhadap peningkatan kecepatan peredaran uang (velocity of money), yang pada akhirnya mendorong konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, QRIS tidak hanya mempercepat transaksi, tetapi juga mempercepat ekonomi itu sendiri.
Fenomena ini menegaskan satu hal, sistem pembayaran bukan lagi sekadar infrastruktur pendukung, melainkan salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi. QRIS membuktikan bahwa inovasi sederhana sebuah kode QR dapat menghasilkan dampak luas ketika diadopsi secara masif.
Dalam konteks ini, langkah membawa QRIS ke ranah internasional bukan sekadar ekspansi, melainkan kelanjutan logis dari keberhasilan domestik. Ketika basis pengguna kuat, merchant luas, dan ekosistem matang, dorongan untuk menghubungkannya dengan dunia menjadi hampir tidak terelakkan.
Di titik inilah pembahasan menjadi lebih menarik, tidak hanya soal adopsi, tetapi juga arah masa depan sistem pembayaran global.
Menuju Era Baru Pembayaran Global
Apa yang terjadi jika QRIS benar-benar digunakan hampir di seluruh dunia?
Dalam skenario tersebut, sistem pembayaran global berpotensi bergeser dari model berbasis kartu dan jaringan perbankan tradisional menuju model berbasis QR yang lebih terbuka dan interoperabel. Transaksi lintas negara tidak lagi memerlukan konversi berlapis atau perantara kompleks, sehingga biaya transaksi internasional dapat ditekan secara signifikan. Lebih jauh, meningkatnya penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) dalam jaringan pembayaran regional membuka peluang berkurangnya dominasi mata uang tertentu dalam transaksi global.
Bagi Indonesia, peluang ini sangat besar. QRIS berpotensi menjadi “ekspor kebijakan” yang memperkuat posisi Indonesia dalam arsitektur keuangan global. Jika standar QRIS semakin luas diadopsi, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna sistem pembayaran global, tetapi juga berperan sebagai penentu standar. Dampaknya dapat menjalar ke sektor perdagangan, pariwisata, hingga penguatan UMKM yang lebih mudah mengakses pasar internasional tanpa hambatan pembayaran.
Peluang tersebut bukan tanpa dasar. Secara teknis, QRIS dibangun menggunakan standar global (EMVCo) yang memungkinkan interoperabilitas lintas sistem. Dukungan melalui RPC di ASEAN juga menunjukkan adanya komitmen kolektif untuk membangun sistem pembayaran yang terintegrasi dan efisien. Dengan fondasi ini, ekspansi QRIS ke tingkat global tidak lagi sekadar wacana, melainkan proses yang terus bergerak secara bertahap.
Di titik ini, dukungan negara dan masyarakat menjadi krusial. Pemerintah perlu memastikan kesiapan infrastruktur digital, kerangka regulasi yang adaptif, serta penguatan keamanan siber. Di sisi lain, masyarakat sebagai pengguna perlu terus meningkatkan literasi digital agar adopsi tidak hanya luas, tetapi juga berkualitas.
QRIS lintas negara pada dasarnya bukan sekadar cerita tentang teknologi pembayaran, melainkan tentang bagaimana sebuah negara membangun kedaulatan digitalnya. Indonesia sedang berada dalam momentum penting di mana inovasi domestik mulai memperoleh pengakuan di tingkat global.
Jika konsistensi kebijakan, kesiapan infrastruktur, dan kolaborasi internasional terus terjaga, QRIS tidak hanya akan menjadi alat transaksi. Ia berpotensi menjadi simbol transformasi ekonomi Indonesia di era digital sekaligus jembatan yang menghubungkan ekonomi lokal dengan sistem global.HARI
***

