Konten dari Pengguna

Stabilitas Harga Lebih Penting daripada Harga Murah?

Ketika harga kebutuhan pokok turun, masyarakat tentu merasa senang. Sebaliknya, ketika harga melonjak, keresahan cepat muncul. Tidak heran jika banyak orang beranggapan bahwa harga murah merupakan kondisi terbaik bagi perekonomian. Padahal, dalam perspektif ekonomi, yang lebih penting bukanlah harga yang selalu murah, melainkan harga yang stabil.

Gambar Ilustrasi Senyum Hangat dalam Transaksi Pasar Tradisional dengan Harga yang Stabil, Sumber Foto: AI Generated
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi Senyum Hangat dalam Transaksi Pasar Tradisional dengan Harga yang Stabil, Sumber Foto: AI Generated

Harga yang terlalu tinggi memang dapat menurunkan daya beli masyarakat. Namun, harga yang terlalu rendah dan berlangsung lama juga dapat menimbulkan persoalan bagi pelaku usaha maupun produsen. Petani, nelayan, dan pelaku UMKM membutuhkan kepastian agar dapat merencanakan produksi, investasi, serta pengelolaan usahanya. Ketika harga bergerak terlalu tajam, baik naik maupun turun, ketidakpastian akan meningkat dan aktivitas ekonomi menjadi kurang sehat.

Stabilitas harga merupakan kondisi ketika perubahan harga terjadi secara wajar dan terkendali. Dalam kondisi ini, masyarakat dapat menyusun rencana keuangan dengan lebih baik, dunia usaha memiliki kepastian untuk berproduksi, dan pemerintah dapat menjalankan program pembangunan secara lebih efektif. Karena itu, stabilitas harga menjadi salah satu fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Bayangkan seorang petani cabai yang mendapati harga hasil panennya melonjak hingga beberapa kali lipat. Sekilas, kondisi tersebut terlihat menguntungkan. Namun, jika beberapa bulan kemudian harga jatuh drastis akibat pasokan berlebih, pendapatan petani menjadi tidak menentu. Situasi yang sama juga dirasakan oleh pedagang dan konsumen. Harga yang bergejolak menciptakan ketidakpastian bagi seluruh pihak dalam rantai ekonomi.

Kondisi serupa kerap terjadi pada berbagai komoditas pangan strategis seperti cabai, bawang merah, dan beras. Ketika pasokan terganggu akibat cuaca ekstrem, gangguan produksi, atau distribusi yang tidak lancar, harga dapat meningkat dalam waktu singkat. Sebaliknya, ketika produksi melimpah tanpa didukung sistem distribusi yang baik, harga dapat merosot tajam. Fluktuasi seperti ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi bukan sekadar harga tinggi atau rendah, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen.

Di sinilah pentingnya pengendalian inflasi. Inflasi sering dipahami sebagai kenaikan harga secara umum dan terus-menerus. Yang menjadi perhatian utama bukan hanya tingkat inflasi itu sendiri, tetapi juga bagaimana menjaga inflasi tetap rendah, stabil, dan sesuai sasaran. Inflasi yang terkendali menciptakan lingkungan ekonomi yang kondusif bagi investasi, konsumsi, dan penciptaan lapangan kerja.

Dalam konteks Indonesia, Bank Indonesia memiliki mandat untuk menjaga kestabilan nilai rupiah, salah satunya tercermin dari stabilitas harga atau inflasi. Peran ini sangat penting karena inflasi yang terlalu tinggi dapat menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Ketika harga berbagai kebutuhan meningkat lebih cepat dibandingkan dengan pendapatan, kesejahteraan masyarakat akan menurun.

Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia menjalankan berbagai kebijakan moneter. Salah satunya melalui pengaturan suku bunga kebijakan yang disesuaikan dengan kondisi perekonomian. Ketika tekanan inflasi meningkat, penyesuaian kebijakan moneter dapat dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga. Langkah ini bertujuan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa memicu lonjakan harga yang berlebihan.

Peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga tidak berhenti pada kebijakan moneter. Bank Indonesia juga aktif memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Kolaborasi ini menjadi penting karena sumber inflasi tidak selalu berasal dari sisi permintaan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor pasokan, distribusi, dan kondisi cuaca.

Salah satu bentuk nyata sinergi tersebut diwujudkan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Strategis (GPIPS). Melalui gerakan ini, Bank Indonesia bersama pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan mendorong penguatan ketahanan pangan melalui peningkatan produktivitas, penguatan distribusi, perluasan kerja sama antardaerah, serta pemanfaatan teknologi dan digitalisasi. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meredam gejolak harga dalam jangka pendek, tetapi juga membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Berbagai komoditas pangan strategis yang sering menjadi penyumbang inflasi menjadi fokus dalam GPIPS. Melalui peningkatan produktivitas, penguatan ekosistem pangan, dan kelancaran distribusi, risiko kenaikan harga yang berlebihan dapat ditekan. Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian inflasi tidak cukup dilakukan melalui kebijakan moneter semata, tetapi juga membutuhkan langkah konkret di sektor riil agar stabilitas harga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Bagi daerah yang memiliki basis pertanian kuat seperti Jember dan wilayah sekitarnya, stabilitas harga memiliki arti yang sangat strategis. Sebagian besar masyarakat menggantungkan pendapatan pada sektor pertanian, perdagangan, dan usaha mikro. Ketika harga pangan berfluktuasi secara ekstrem, dampaknya tidak hanya dirasakan pada konsumsi rumah tangga, tetapi juga pada keberlangsungan usaha dan pendapatan para pelaku ekonomi lokal.

Karena itu, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak dapat diukur hanya dari murahnya harga suatu komoditas. Harga yang terlalu murah dapat menekan kesejahteraan produsen, sedangkan harga yang terlalu tinggi membebani konsumen. Keseimbangan menjadi kunci agar seluruh pelaku ekonomi memperoleh manfaat secara adil.

Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa harga kebutuhan pokok tetap terjangkau. Di sisi lain, produsen juga membutuhkan kepastian bahwa hasil usahanya memberikan keuntungan yang layak. Stabilitas harga menjembatani kedua kepentingan tersebut sehingga aktivitas ekonomi dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.

Harga murah memang terasa menyenangkan dalam jangka pendek. Namun, bagi perekonomian yang ingin tumbuh kuat dan berdaya tahan, stabilitas harga memiliki nilai yang jauh lebih penting. Stabilitas harga memungkinkan masyarakat merencanakan pengeluaran dengan lebih baik, memberikan kepastian bagi dunia usaha untuk berinvestasi, serta menciptakan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Melalui sinergi antara kebijakan moneter, TPIP, TPID, dan GPIPS, Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas harga sebagai fondasi kesejahteraan masyarakat dan ketahanan ekonomi nasional.HARI

***