Paradox Perempuan Modern dan Tantangan Menjadi Segalanya

Hayari is a Public Relations Strategist focused on strategic communication, brand reputation, and the evolution of narratives within the modern digital ecosystem.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Hayari Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu ironi besar dalam kehidupan perempuan modern yang jarang kita sadari. Dulu, perempuan berjuang untuk memiliki lebih banyak pilihan.
Mereka ingin bisa mengenyam pendidikan tinggi, membangun karier, menentukan masa depan sendiri, memilih pasangan, atau bahkan memilih untuk tidak mengikuti jalan hidup yang selama ini dianggap "wajib". Banyak dari perjuangan itu berhasil.
Hari ini, perempuan memiliki kesempatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Namun justru di situ paradoksnya.
Jika dulu tantangannya adalah keterbatasan pilihan, kini tantangannya adalah terlalu banyak pilihan yang semuanya terasa harus diambil sekaligus.
Karier harus berkembang. Keuangan harus stabil. Tubuh harus sehat. Mental harus terjaga. Hubungan harus harmonis. Rumah harus tertata. Diri sendiri harus terus bertumbuh.
Seolah-olah hidup bukan lagi tentang menjalani pilihan, melainkan tentang mengoptimalkan seluruh aspek kehidupan dalam waktu yang bersamaan. Tanpa disadari, banyak perempuan modern kini memiliki tantangan untuk menjadi segalanya.
Ketika Kesuksesan Tidak Lagi Memiliki Garis Akhir
Pagi hari kita membuka media sosial dan melihat seseorang membagikan promosi jabatan. Beberapa menit kemudian, muncul video tentang investasi dan kebebasan finansial. Lalu konten tentang pilates, pola makan sehat, skincare, mindfulness, membaca buku satu bulan sekali, hingga cara membangun personal branding di LinkedIn.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Masalahnya adalah ketika semua pesan tersebut datang bersamaan, setiap hari, tanpa jeda. Sedikit demi sedikit, kita mulai menyerap gagasan bahwa perempuan yang berhasil adalah perempuan yang mampu melakukan semuanya.
Ia produktif. Ia sehat. Ia cantik. Ia cerdas secara finansial. Ia memiliki hubungan yang sehat. Ia terus belajar. Entah bagaimana, ia tetap terlihat tenang menjalani semuanya.
Standar ini terdengar inspiratif. Tetapi ada satu masalah besar. Kehidupan manusia tidak pernah berjalan seefisien algoritma media sosial.
Fenomena "That Girl" dan Lahirnya Kesempurnaan Versi Baru
Beberapa tahun terakhir, media sosial melahirkan sosok yang nyaris menjadi simbol perempuan ideal masa kini: That Girl.
Ia bangun pukul lima pagi. Berolahraga sebelum bekerja. Minum matcha atau smoothie sehat setiap hari. Memiliki kamar yang rapi. Produktif sepanjang hari. Rajin membaca. Rajin journaling. Rajin merawat diri. Rajin mengembangkan karier. Dan selalu tampak memiliki hidup yang terkendali. Awalnya fenomena ini terlihat positif. Namun, diam-diam ia mengubah standar perempuan modern.
Jika generasi sebelumnya dibebani tuntutan untuk menjadi perempuan yang "baik", generasi sekarang sering kali dibebani tuntutan untuk menjadi perempuan yang terus berkembang. Tidak boleh diam. Tidak boleh stagnan. Tidak boleh tertinggal. Selalu ada versi diri yang lebih baik untuk dikejar. Dan perlombaan itu tidak pernah benar-benar selesai.
Lelah yang Tidak Selalu Terlihat
Banyak perempuan hari ini tidak merasa gagal karena tidak memiliki pencapaian. Mereka merasa gagal karena pencapaian mereka terasa tidak pernah cukup.
Bayangkan seorang perempuan berusia 29 tahun. Pagi hari ia berangkat bekerja sambil memikirkan target presentasi yang harus selesai minggu depan. Saat makan siang, ia membuka LinkedIn dan melihat teman kuliahnya baru dipromosikan menjadi general manager. Sore hari, Instagram memperlihatkan teman lain yang baru membeli rumah. Malam harinya, TikTok menyarankan video mengenai pentingnya memiliki bisnis sampingan sebelum usia 30 tahun.
Di sela-sela itu, ia masih harus membalas pesan keluarga, mengatur tagihan bulanan, memikirkan kesehatan orang tuanya, menjaga kesehatannya sendiri, dan berusaha menyediakan sedikit waktu untuk beristirahat.
Dari luar, hidupnya terlihat baik-baik saja. Namun di dalam dirinya ada satu pertanyaan yang terus berulang:
"Apa aku sudah cukup?"*
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi bagi banyak perempuan, itulah sumber kelelahan yang sebenarnya.
Mental Load dan Beban yang Tidak Selalu Memiliki Nama
Menariknya, tantangan pada perempuan modern tidak hanya datang dari pekerjaan yang terlihat. Banyak yang datang dari pekerjaan yang bahkan tidak dianggap sebagai pekerjaan. Mengingat jadwal kontrol orang tua. Memastikan stok kebutuhan rumah tersedia. Mengingat ulang tahun anggota keluarga. Mengatur agenda keluarga. Menjadi tempat curhat pasangan, anak, maupun orang-orang terdekat.
Dalam kajian sosial modern, beban ini sering disebut sebagai mental load, yaitu beban kognitif dan emosional untuk terus mengingat, mengatur, dan memastikan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perempuan secara konsisten menanggung porsi lebih besar dari beban mental dan tanggung jawab pengelolaan rumah tangga dibandingkan dengan laki-laki, bahkan ketika keduanya sama-sama bekerja penuh waktu.
Beban ini sering tidak terlihat. Tidak masuk dalam laporan kinerja. Tidak menghasilkan promosi jabatan. Namun, justru sering menjadi alasan mengapa banyak perempuan merasa lelah bahkan ketika mereka sedang tidak melakukan apa-apa. Karena pikirannya tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.
Budaya Upgrade Diri yang Tidak Pernah Selesai
Dalam beberapa tahun terakhir, kita hidup di tengah budaya yang membuat hampir segala hal terasa seperti proyek pengembangan diri. Hobi harus menghasilkan uang. Olahraga harus menghasilkan bentuk tubuh ideal. Liburan harus menghasilkan konten. Waktu luang harus menghasilkan keterampilan baru. Bahkan istirahat pun sering dianggap sah hanya jika dilakukan secara produktif.
Tanpa sadar, banyak perempuan hidup dalam tekanan untuk terus memperbaiki diri mereka. Masalahnya, manusia bukan aplikasi yang harus diperbarui setiap saat. Tidak semua hal perlu dioptimalkan. Tidak semua waktu harus menghasilkan sesuatu. Tidak semua kesenangan harus dimonetisasi. Ada nilai dalam melakukan sesuatu hanya karena kita menikmatinya. Ada nilai dalam beristirahat tanpa tujuan. Dan ada nilai dalam hidup yang tidak selalu bergerak cepat.
Ketika Perempuan Bekerja Dua Shift Sekaligus
Meski perempuan semakin banyak hadir di dunia kerja, kenyataan di rumah sering kali tidak berubah secepat itu.
Data global menunjukkan perempuan masih menghabiskan jauh lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan perawatan yang tidak dibayar dibandingkan dengan laki-laki. Secara global, perempuan menyumbang miliaran jam kerja perawatan setiap hari yang tidak tercatat dalam sistem ekonomi formal.
Artinya, banyak perempuan tidak hanya menjalani satu pekerjaan. Mereka menjalani dua shift. Shift pertama di kantor. Shift kedua terjadi ketika pulang ke rumah. Dan sering kali, shift kedua itulah yang tidak pernah mendapatkan pengakuan.
Memilih Sebuah Pilihan, Bukan Memenuhi Semua
Mungkin pertanyaan yang perlu diajukan perempuan modern bukanlah: "Bagaimana caranya melakukan semuanya?"
Melainkan:
"Apa yang sebenarnya penting bagiku?"
Karena kesuksesan tidak selalu berbentuk jabatan tinggi. Kebahagiaan tidak selalu terlihat seperti kehidupan yang estetik di media sosial. Dan hidup yang baik tidak selalu berarti hidup yang membuat orang lain terkesan.
Dulu, perempuan berjuang agar memiliki lebih banyak pilihan. Kini tantangannya bukan lagi bagaimana mendapatkan pilihan, melainkan bagaimana berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua pilihan harus diambil.
Karena kebebasan sejatinya bukan kemampuan untuk menjadi segalanya. Kebebasan adalah keberanian untuk memilih apa yang paling bermakna, lalu melepaskan sisanya tanpa rasa bersalah.
Dan di tengah dunia yang terus meminta lebih banyak pencapaian, lebih banyak produktivitas, dan lebih banyak kesempurnaan, mungkin keberanian terbesar perempuan hari ini bukanlah menjadi superwoman. Melainkan berani berkata bahwa hidup tidak harus sempurna untuk tetap bernilai.
Perempuan modern tidak kekurangan ambisi. Mereka sering kali hanya kekurangan ruang untuk merasa cukup." - Hayari Putri
