3 Penyebab Warna Air Sungai Berubah Saat Musim Hujan yang Paling Utama

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena perubahan warna air sungai menjadi keruh dan kecoklatan saat musim hujan merupakan pemandangan yang sangat umum dijumpai di berbagai wilayah. Air sungai yang biasanya tampak jernih dan biru tiba-tiba berubah menjadi coklat keruh bahkan hampir seperti lumpur setelah hujan deras mengguyur. Perubahan warna ini bukan sekadar masalah estetika, namun mencerminkan proses alami yang kompleks yang melibatkan erosi, sedimen, dan dinamika aliran air. Artikel ini akan menguraikan beberapa faktor utama yang menjadi penyebab warna air sungai berubah saat musim hujan.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Erosi Tanah dan Limpasan Permukaan
Perubahan warna air sungai saat musim hujan umumnya disebabkan oleh erosi tanah dan limpasan air hujan yang membawa banyak partikel tanah ke dalam sungai. Ketika hujan turun, air mengalir di permukaan tanah dan menyeret debu, pasir, serta lumpur menuju aliran sungai.
Menurut National Geographic Education, air merupakan salah satu penyebab utama erosi di Bumi. Hujan, sungai, banjir, dan perairan lainnya secara perlahan mengikis tanah dan membawa partikel tanah serta pasir dari daratan. Partikel-partikel inilah yang kemudian masuk ke sungai dan membuat air tampak keruh atau berubah warna.
Sedimen sendiri adalah partikel tanah yang terlepas akibat erosi. Dalam informasi yang sama dijelaskan bahwa sedimen merupakan polutan air permukaan terbesar berdasarkan volumenya.
Ketika sedimen terbawa ke sungai dalam jumlah besar, warna air bisa berubah menjadi cokelat atau keruh. Perubahan ini bisa bersifat sementara setelah hujan deras, tetapi bisa juga terjadi terus-menerus jika sungai selalu menerima banyak sedimen.
Intensitas Hujan dan Peningkatan Aliran Sungai
Seberapa deras hujan sangat memengaruhi jumlah sedimen yang masuk ke sungai. Menurut Environmental Protection Agency (EPA), hujan yang lebih sering dan lebih intens dapat meningkatkan erosi tanah. Akibatnya, lebih banyak sedimen yang mengalir ke sungai, danau, dan badan air lainnya.
Badai yang kuat menyebabkan volume air sungai meningkat dan alirannya menjadi lebih cepat. Aliran yang deras ini mampu mengangkat lebih banyak partikel tanah, sehingga kandungan sedimen di dalam air meningkat. Kondisi ini dikenal sebagai peningkatan kekeruhan air (turbiditas).
Hal serupa dijelaskan oleh Environmental Measurement Systems, yang menyebutkan bahwa curah hujan dapat menaikkan tinggi air sungai dan mempercepat pergerakan sedimen.
Ketika air sungai bertambah, tekanan pada dasar sungai juga meningkat. Jika aliran air cukup kuat, partikel tanah di dasar sungai akan terangkat dan terbawa arus. Semakin cepat aliran air, semakin besar pula daya kikisnya terhadap tanah dan sedimen.
Erosi Tebing Sungai dan Aktivitas Manusia
Hujan deras tidak hanya membawa tanah dari daratan sekitar, tetapi juga bisa langsung mengikis tebing dan dasar sungai. Dikutip dari Penn State Extension, erosi tebing sungai terjadi ketika air yang dalam dan mengalir cepat memiliki daya kikis yang besar. Air tersebut menggerus dasar dan sisi sungai, lalu membawa material tanah ke arah hilir.
Ketika bagian dasar dan tebing sungai terus terkikis, bentuk sungai pun berubah. Dasar sungai bisa menjadi lebih dalam, dan tebingnya menjadi semakin curam. Kondisi ini justru membuat aliran air semakin cepat, sehingga erosi pun terus berlanjut.
Selain faktor alam, aktivitas manusia juga sangat berpengaruh terhadap banyaknya sedimen di sungai. Penggunaan lahan seperti kawasan perkotaan, pertanian, dan area konstruksi dapat meningkatkan jumlah sedimen yang masuk ke sungai, terutama saat hujan.
Pembangunan menyebabkan semakin banyak permukaan keras dan kedap air, seperti jalan dan atap bangunan. Permukaan ini tidak menyerap air hujan, sehingga air langsung mengalir ke sungai. Akibatnya, sungai menerima volume air yang lebih besar dibandingkan kondisi alaminya.
Gabungan antara limpasan yang meningkat dan saluran sungai yang telah dimodifikasi membuat aliran sungai menjadi lebih deras dan lebih cepat, sehingga erosi dan pengangkutan sedimen semakin parah.
Baca juga: Ciri-Ciri Pencemaran Air di Sungai dan Danau yang Bisa Diperhatikan
(NDA)
