Konten dari Pengguna

4 Bahaya Ruam Popok Jika Dibiarkan, Jangan Anggap Sepele!

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi popok bayi. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi popok bayi. Foto: Shutterstock

Bahaya ruam popok jika dibiarkan, menurut American Academy of Pediatrics (AAP), yakni dapat memicu infeksi bakteri atau jamur, bahkan bisa menyebabkan luka terbuka dan nyeri yang mengganggu perkembangan bayi.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberitahukan bahwa ruam popok pada bayi dapat terjadi karena kombinasi kelembapan, gesekan, dan paparan urin atau feses dalam waktu lama.

Daftar isi

Apa Saja Bahaya Ruam Popok bagi Bayi Jika Tidak Segera Diobati?

Ruam popok pada bayi sering dianggap masalah ringan, padahal jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius. Dikutip dari Journal of Pediatric Health Care, Berikut beberapa risiko kesehatan yang bisa muncul jika ruam popok bayi terus dibiarkan:

  1. Infeksi sekunder oleh bakteri atau jamur. Ruam yang terbuka dapat menjadi pintu masuk bagi bakteri (seperti Staphylococcus atau Streptococcus) dan jamur (Candida albicans). Gejalanya berupa kulit melepuh, bernanah, berbau, dan disertai demam ringan.

  2. Dermatitis popok kronis. Kulit bayi bisa terus mengalami iritasi dalam waktu lama, menyebabkan peradangan menahun dan penebalan kulit (lichenifikasi). Efek jangka panjangnya, yakni bisa mengganggu kenyamanan, tidur, dan perkembangan bayi.

  3. Nyeri saat buang air kecil atau besar. Jika area genital mengalami iritasi parah, bayi akan merasa nyeri saat buang air, yang membuatnya menahan buang air dan bisa menimbulkan sembelit fungsional.

  4. Perubahan perilaku bayi. Bayi menjadi lebih rewel, susah tidur, atau enggan makan karena rasa tidak nyaman di area popok.

Apa Penyebab Utama Ruam Popok pada Bayi?

Berdasarkan informasi dari Cleveland Clinic, beberapa penyebab utama ruam popok, antara lain:

  • Popok jarang diganti. Hal ini bisa membuat paparan urin dan feses pada kulit bayi terlalu lama.

  • Kulit bayi sensitif. Reaksi alergi bisa timbul jika menggunakan popok bayi berbahan deterjen atau mengandung bahan kimia lainnya.

  • Infeksi jamur. Biasanya terjadi setelah bayi mengalami diare atau efek samping obat seperti antibiotik.

  • Popok terlalu ketat. Bisa menyebabkan kulit iritasi akibat gesekan.

  • Penggunaan sabun atau tisu berbahan keras. Ruam popok bisa makin parah jika bayi juga dipakaikan sabun atau tisu yang mengandung bahan kimia tertentu.

Bagaimana Cara Mencegah Bahaya Ruam Popok?

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Berikut langkah sederhana yang bisa dilakukan orang tua sebagaimana diterangkan oleh Kids Health:

  1. Ganti popok setiap 2–3 jam atau segera setelah bayi buang air.

  2. Gunakan krim pelindung kulit yang mengandung zinc oxide.

  3. Biarkan kulit bayi kering sebelum memasang popok baru.

  4. Pilih popok yang bebas pewangi dan hypoallergenic.

  5. Biarkan bayi tanpa popok beberapa jam setiap hari.

  6. Gunakan air hangat dan kapas lembut untuk membersihkan area genital.

Kesimpulan

Ruam popok pada bayi yang dibiarkan tanpa penanganan dapat menimbulkan risiko kesehatan serius. Ruam popok yang parah dapat berkembang menjadi infeksi bakteri atau jamur, menimbulkan luka terbuka, serta menyebabkan nyeri saat buang air.

Penyebab utama ruam popok antara lain popok yang jarang diganti, kulit bayi yang sensitif, infeksi jamur, popok terlalu ketat, serta penggunaan sabun atau tisu yang mengandung bahan kimia keras.

Untuk mencegahnya, orang tua disarankan mengganti popok setiap 2–3 jam, menggunakan krim pelindung, memastikan kulit bayi kering sebelum memakai popok, dan memberikan waktu tanpa popok agar kulit bisa bernapas.

Baca juga: 7 Jenis Bahan Makanan yang Tidak Boleh untuk MPASI, Para Orang Tua Harus Tahu!

(NDA)