Konten dari Pengguna

6 Ciri-Ciri Iklan Scam di Media Sosial yang Harus Dihindari

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi media sosial. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi media sosial. Foto: Pexels

Media sosial kini menjadi salah satu platform paling populer untuk pemasaran digital. Sayangnya, popularitas ini juga dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan iklan scam. Iklan semacam ini dirancang untuk menipu pengguna, baik dengan menjual produk palsu, mencuri data pribadi, hingga merugikan secara finansial. Agar lebih waspada, berikut akan diuraiakan ciri-ciri iklan scam di media sosial yang harus dihindari sebelum kita terjebak.

Daftar isi

1. Klaim yang Terlalu Bagus untuk Jadi Kenyataan

Salah satu tanda paling umum dari iklan scam adalah klaim yang terdengar terlalu bagus untuk dipercaya. Contohnya seperti menjanjikan penghasilan besar dalam waktu singkat, diskon ekstrem, atau produk ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah.

Menurut Federal Trade Commission (FTC), iklan dengan klaim berlebihan biasanya sengaja dibuat untuk menarik perhatian dan menimbulkan rasa ingin tahu, padahal tujuannya hanya untuk memancing korban agar melakukan klik.

2. Permintaan Data Pribadi yang Tidak Relevan

Ciri lain yang patut dicurigai adalah iklan yang meminta data pribadi seperti nomor KTP, detail kartu kredit, atau kata sandi. Norton Security menekankan bahwa iklan resmi biasanya hanya mengarahkan pengguna ke situs resmi tanpa meminta data sensitif secara langsung.

Jika sebuah iklan menuntut informasi pribadi sebelum kita bisa melihat detail produk atau layanan, itu bisa menjadi tanda kuat bahwa iklan tersebut adalah scam.

3. Desain Visual yang Terlihat Tidak Profesional

Banyak iklan scam menggunakan desain visual yang buruk, seperti gambar buram, tata bahasa berantakan, atau logo perusahaan yang terlihat palsu.

Cybersecurity & Infrastructure Security Agency (CISA) menyebutkan bahwa tanda-tanda visual ini sering diabaikan oleh pengguna karena fokus pada tawaran menariknya.

Padahal, kualitas desain bisa menjadi indikator penting apakah iklan tersebut dibuat oleh perusahaan resmi atau hanya scammer amatir.

Iklan scam biasanya menyertakan link yang tidak mengarah ke situs resmi perusahaan. Jika diperhatikan, alamat situs sering menggunakan domain aneh atau mirip dengan domain asli tetapi ada sedikit perbedaan huruf.

Kaspersky Lab mengingatkan bahwa mengecek URL adalah langkah sederhana namun penting untuk menghindari jebakan iklan palsu. Jika link tampak mencurigakan, lebih baik tidak diklik dan langsung dilaporkan.

5. Testimoni Palsu dengan Foto Generik

Banyak iklan scam menampilkan testimoni atau review palsu yang disertai foto generik dari internet. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesan seolah-olah produk mereka sudah banyak dipakai orang.

Journal of Cybersecurity (Oxford) menemukan bahwa penggunaan testimoni palsu adalah salah satu taktik paling sering digunakan scammer untuk membangun kepercayaan palsu. Jika testimoni terdengar terlalu positif dan tidak masuk akal, kemungkinan besar itu palsu.

6. Mendesak Pengguna untuk Segera Bertindak

Scammer sering menggunakan taktik urgensi, seperti “promo hanya berlaku hari ini” atau “stok terbatas, segera beli sekarang”. Tujuannya adalah membuat korban tidak sempat berpikir rasional.

Europol Internet Organised Crime Threat Assessment (IOCTA) mencatat bahwa sense of urgency adalah strategi umum dalam berbagai penipuan online karena bisa menekan psikologis korban agar segera mengambil tindakan.

Baca juga: Cara Menghilangkan Iklan di HP Android yang Tiba-Tiba Muncul Secara Permanen

(NDA)