Konten dari Pengguna

6 Penyebab Tanah Menjadi Retak Saat Musim Kemarau Panjang

Hendro Ari Gunawan
Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
4 Desember 2025 14:27 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
6 Penyebab Tanah Menjadi Retak Saat Musim Kemarau Panjang
Cari tahu penyebab tanah menjadi retak saat musim kemarau panjang dan penjelasannya di sini.
Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi tanah yang retak saat musim kemarau. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tanah yang retak saat musim kemarau. Foto: Unsplash
ADVERTISEMENT
Tanah yang mengering dan retak saat kemarau panjang sering dianggap sekadar tanda kekeringan biasa, padahal fenomena ini merupakan proses geologi–hidrologi yang kompleks. Banyak studi internasional menjelaskan bahwa perubahan sifat fisik tanah akibat kehilangan kelembapan dapat memicu kerusakan struktural. Menurut United States Department of Agriculture (USDA), tanah tertentu dapat mengalami penyusutan ekstrem ketika kadar airnya menurun drastis. Artikel ini akan menguraikan beberapa penyebab tanah menjadi retak saat musim kemarau panjang.
ADVERTISEMENT

1. Penyusutan Tanah Liat (Clay Shrinkage)

Faktor paling utama penyebab tanah retak adalah kandungan tanah liat yang tinggi. Clay memiliki sifat shrink-swell, yakni mengembang saat basah dan menyusut saat kering. Riset dalam Geoderma Journal berjudul Shrink-Swell Behavior of Expansive Soils oleh Nelson & Miller menjelaskan bahwa mineral montmorillonite, yang banyak terdapat pada tanah liat tropis, mengalami kontraksi ekstrem saat kehilangan air.
Ketika air menguap selama kemarau panjang, partikel tanah saling mendekat dan menciptakan tegangan internal. Tegangan ini kemudian pecah menjadi retakan besar di permukaan tanah.

2. Evaporasi Tinggi Akibat Suhu Panas

Musim kemarau panjang identik dengan suhu permukaan tanah yang meningkat tajam. Menurut artikel Heat-Induced Soil Moisture Loss dalam jurnal Hydrology and Earth System Sciences oleh A. Berg, tanah kehilangan air jauh lebih cepat ketika paparan radiasi matahari meningkat.
ADVERTISEMENT
Evaporasi yang tinggi membuat lapisan atas tanah cepat kering. Ketika lapisan ini tidak mampu lagi menahan perubahan volume, retak-retak besar pun terbentuk.

3. Penurunan Kadar Air Tanah di Bawah Permukaan

Tanah tidak hanya menerima air dari hujan, tetapi juga dari cadangan air bawah tanah. Dalam buku Soil Physics karya William A. Jury dan Robert Horton, dijelaskan bahwa penurunan soil moisture di subsoil menyebabkan lapisan tanah di atasnya ikut kehilangan keseimbangan struktural. Kekosongan rongga air membuat tanah makin mudah mengalami penyusutan.
Selama kemarau panjang, air tanah turun drastis sehingga seluruh kolom tanah dari bawah hingga ke permukaan mengering dan semakin rentan retak.

4. Hilangnya Tekanan Pori (Pore-Water Pressure)

Tanah yang basah memiliki tekanan pori, yaitu tekanan air yang membantu menjaga tanah tetap stabil. Saat kemarau panjang, tekanan pori itu berkurang karena air menguap.
ADVERTISEMENT
Riset dalam Journal of Soil Mechanics and Foundation Engineering berjudul Influence of Pore-Water Pressure on Soil Stability oleh Terzaghi menegaskan bahwa hilangnya tekanan pori membuat tanah kehilangan daya kohesi.
Akibatnya, tanah lebih mudah pecah dan retak karena partikel-partikel tanah tidak lagi memiliki “penyangga” cairan di antaranya.

5. Vegetasi Mengering dan Akar Kehilangan Fungsi Penahan Tanah

Vegetasi membantu menjaga tanah tetap lembap dan stabil melalui akar yang mengikat partikel tanah. Ketika kemarau panjang tiba, tanaman mengalami stres air, layu, bahkan mati.
Dalam buku Plant–Soil Interactions Under Drought Conditions oleh B. Chaves, dijelaskan bahwa akar tanaman kehilangan kemampuan menahan struktur tanah ketika pasokan air berkurang.
Tanah tanpa akar aktif menjadi lebih rapuh sehingga mudah retak, terutama pada lapisan permukaan.
ADVERTISEMENT

6. Perubahan Struktur Mikro Tanah

Penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Soil Science berjudul Microstructural Changes in Soil During Drying oleh V. Tuller mengungkap bahwa saat tanah mengering, struktur mikro seperti pori-pori kecil berubah bentuk dan mengecil. Perubahan ini menimbulkan rongga-rongga kosong baru yang akhirnya membentuk pola retakan.
Proses ini sangat umum terjadi pada tanah dengan tekstur halus, terutama di daerah tropis yang memiliki musim kemarau panjang.
(NDA)