Konten dari Pengguna

7 Ciri-Ciri Hewan Amfibi yang Membedakannya dengan Hewan Lain

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hewan amfibi. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hewan amfibi. Foto: Unsplash

Hewan amfibi merupakan kelompok vertebrata yang unik karena memiliki kemampuan hidup di dua alam, yakni air dan darat. Kemampuan adaptasi ini membuat mereka menjadi jembatan evolusi antara ikan dan hewan darat. Banyak orang mengenal katak sebagai contoh paling populer dari hewan amfibi, namun sebenarnya kelompok ini juga mencakup salamander dan caecilia. Artikel ini akan kami uraikan lebih lanjut mengenai ciri-ciri hewan amfibi selengkapnya.

Daftar isi

1. Hidup di Dua Alam (Air dan Darat)

Salah satu ciri paling khas dari hewan amfibi adalah kemampuannya hidup di dua lingkungan. Menurut National Geographic, sebagian besar amfibi menghabiskan fase awal hidupnya di air sebagai larva yang bernapas menggunakan insang, kemudian bertransformasi menjadi individu dewasa yang dapat hidup di darat dengan paru-paru.

Misalnya, kecebong (larva katak) hidup di air dan bernapas melalui insang sebelum mengalami metamorfosis menjadi katak dewasa yang bisa bernapas di udara.

2. Kulit Tipis dan Lembap

Kulit amfibi tidak dilapisi oleh sisik seperti pada reptil atau ikan. Sebaliknya, mereka memiliki kulit yang lembap dan permeabel, memungkinkan pertukaran gas secara langsung dengan lingkungan.

Menurut Britannica, kulit amfibi mengandung banyak kelenjar lendir yang menjaga kelembapan tubuh, sangat penting agar proses respirasi kulit berjalan baik. Karena sifat ini pula, amfibi sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan dan sering dijadikan indikator kesehatan ekosistem.

3. Bernapas dengan Insang, Paru-Paru, dan Kulit

Sistem pernapasan amfibi sangat fleksibel. Pada fase larva, mereka bernapas menggunakan insang layaknya ikan. Namun setelah dewasa, amfibi mengembangkan paru-paru sederhana dan memanfaatkan kulit sebagai alat bantu pernapasan tambahan.

Penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Experimental Biology menjelaskan bahwa kemampuan pertukaran gas melalui kulit dapat mencapai hingga 70% dari total kebutuhan oksigen pada beberapa spesies katak.

4. Mengalami Metamorfosis

Metamorfosis adalah perubahan bentuk tubuh yang drastis dari fase larva menuju fase dewasa. Pada amfibi, proses ini melibatkan hilangnya insang, pertumbuhan kaki, serta perkembangan paru-paru.

Menurut ScienceDirect, proses metamorfosis dikontrol oleh hormon tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Hormon ini memicu perubahan fisiologis dan morfologis yang memungkinkan hewan amfibi beralih dari kehidupan air ke darat.

5. Reproduksi Umumnya di Air

Sebagian besar hewan amfibi bertelur di air, dan telurnya tidak memiliki cangkang pelindung keras. Telur amfibi dilapisi oleh lapisan gelatin yang lembut dan mudah kering, sehingga memerlukan lingkungan lembap atau berair untuk berkembang.

Menurut National Wildlife Federation, setelah menetas, larva hidup di air hingga mengalami metamorfosis. Namun, beberapa spesies seperti katak darat tropis dapat berkembang biak langsung di tanah lembap tanpa melalui fase larva di air.

6. Berdarah Dingin (Ektoterm)

Hewan amfibi termasuk ektoterm, artinya suhu tubuh mereka bergantung pada suhu lingkungan. Saat suhu lingkungan rendah, aktivitas tubuhnya menurun drastis, dan beberapa spesies dapat berhibernasi. Sebaliknya, pada suhu tinggi mereka menjadi lebih aktif.

Fakta ini dijelaskan oleh The American Museum of Natural History, yang menyebutkan bahwa kemampuan amfibi menyesuaikan diri dengan suhu lingkungan membantu mereka bertahan di berbagai kondisi iklim tropis dan subtropis.

7. Punya Tiga Ruang di Jantung

Sistem peredaran darah amfibi bersifat ganda, dengan jantung yang terdiri dari tiga ruang, yakni dua serambi (atrium) dan satu bilik (ventrikel). Struktur ini memungkinkan darah yang kaya oksigen dan miskin oksigen bercampur sebagian, meskipun sistemnya cukup efisien untuk mendukung kehidupan amfibi di darat maupun air.

Menurut University of California Museum of Paleontology, struktur ini merupakan bentuk transisi antara ikan (dua ruang) dan reptil (hampir empat ruang).

Baca juga: Ciri Hewan Mamalia, Reptil, Amfibi, dan Burung beserta Contoh Hewannya

(NDA)