7 Ciri-Ciri Masjid Tua Peninggalan Wali Songo

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masjid-masjid peninggalan Wali Songo di Pulau Jawa tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol akulturasi budaya dan dakwah Islam yang adaptif. Arsitekturnya menampilkan perpaduan harmonis antara tradisi lokal dan ajaran Islam. Berikut beberapa ciri khas arsitektur masjid peninggalan Wali Songo yang dapat ditemukan di berbagai daerah Jawa.
Atap Tajug Bertumpang Tiga
Mengutip buku Wujud Moderasi Beragama pada Masjid di Nusantara susunan Linda Setiawati, salah satu ciri khas utama dari masjid-masjid peninggalan Wali Songo adalah bentuk atap tajug bertumpang tiga. Atap ini terdiri dari tiga lapisan yang semakin mengecil ke atas, menyerupai piramida.
Setiap lapisan atap ini memiliki makna simbolis. Lapisan pertama melambangkan Islam, lapisan kedua iman, dan lapisan ketiga ihsan. Bentuk atap ini tidak hanya menciptakan kesan megah, tetapi juga mencerminkan ajaran Islam yang mendalam.
Soko Guru (Tiang Utama)
Di dalam ruang utama masjid, tredapat empat tiang utama yang disebut soko guru. Keempat tiang tersebut berfungsi untuk menopang atap dan memberikan stabilitas pada bangunan.
Salah satu saka guru terkenal disebut Saka Tatal. Diyakini, Saka Tatal dibuat dari potongan-potongan kayu yang disatukan oleh Sunan Kalijaga, karena keterbatasan bahan baku kayu yang cukup besar.
Denah Persegi
Masjid-masjid peninggalan Wali Songo umumnya memiliki denah berbentuk persegi. Denah ini mencerminkan kesederhanaan dan keseimbangan. Selain itu, penataan ruang ini memudahkan jamaah dalam beribadah dan berinteraksi sosial.
Mihrab dan Mimbar: Penanda Arah Kiblat dan Alat Dakwah
Mihrab merupakan ceruk kecil pada dinding masjid yang menunjukkan arah kiblat. Pada masjid-masjid peninggalan Wali Songo, mihrab umumnya dibuat sederhana, tanpa hiasan berlebihan.
Masjid Menara Kudus, misalnya, menurut buku Sejarah Wali Songo karya Zulham Farobi, di atas mihrab terdapat hiasan piringan keramik, sementara di depannya terpasang dua bendera hijau bergaris yang dibuat dari benang sutra keemasan. Detail ini menambahkan nilai estetika keseluruhan masjid.
Sama halnya dengan mimbar atau tempat imam menyampaikan khutbah. Mimbar dirancang fungsional namun tetap sederhana, biasanya terbuat dari kayu dengan desain yang tidak mencolok.
Serambi Masjid
Serambi masjid merupakan ruang terbuka yang berfungsi sebagai tempat berkumpul, diskusi, dan kegiatan sosial keagamaan lainnya. Serambi ini biasanya beratap limasan dan ditopang oleh beberapa tiang.
Fungsinya sebagai ruang peralihan antara luar dan dalam masjid, serta sebagai tempat untuk kegiatan non-ritual seperti pengajian dan musyawarah.
Material Bangunan Masjid
Masjid-masjid peninggalan Wali Songo umumnya dibangun menggunakan material alami seperti kayu dan batu bata merah. Penggunaan material ini tidak hanya mencerminkan kearifan lokal, tetapi juga menunjukkan adaptasi terhadap lingkungan sekitar.
Jika kayu umunya digunakan untuk tiang-tiang utama (soko guru) dan atap, sementara batu bata merah digunakan untuk dinding dan struktur lainnya.
Gaya Arsitektur Tradisional Jawa
Mengutip jurnal Bentuk dan Ruang Arsitektur Masjid Agung Demak oleh Anita Rahma Fauziah dkk., arsitektur masjid-masjid ini banyak dipengaruhi oleh gaya arsitektur tradisional Jawa, yang merupakan hasil akulturasi antara budaya Hindu-Buddha dan Islam.
Elemen-elemen yang sebelumnya telah disebutkan seperti atap tumpang tiga, soko guru, dan serambi terbuka merupakan ciri khas arsitektur Jawa yang diadopsi dalam desain masjid. Perpaduan ini mencerminkan proses Islamisasi yang berlangsung secara damai dan harmonis.
Baca Juga: Cara Mengenali Artefak Peninggalan Kerajaan Majapahit
