Asal Usul Becak di Indonesia: Transportasi Tradisional yang Bertahan hingga Kini

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Becak adalah salah satu ikon transportasi tradisional Indonesia yang tetap eksis hingga kini meskipun zaman telah berubah. Kendaraan roda tiga ini bukan sekadar alat angkut penumpang, tetapi juga bagian dari sejarah dan budaya masyarakat urban di Tanah Air. Merujuk pada laman Pilot Guiedes serta buku Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa karya Ratna Saptari, berikut asal usul becak di Indonesia.
Awal Mula Becak Dunia
Sebelum hadir di Indonesia, becak telah berkembang di Jepang dan beberapa negara Asia lainnya. Berikut beberapa fakta pentingnya:
Kata becak berasal dari dialek Hokkian, yaitu be chia, yang berarti “kereta kuda”.
Becak diciptakan di Jepang sekitar tahun 1865 oleh Goble, seorang warga Amerika yang bertugas di Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Ide muncul karena Goble ingin berjalan-jalan dengan istrinya tanpa membuatnya lelah. Ia mendesain kereta kecil tanpa atap yang cukup ditarik seorang manusia, yang kemudian dikenal sebagai Jinrikisha di Jepang.
Sekitar tahun 1900-an, Jinrikisha juga dikenal di China sebagai kendaraan bangsawan dan kendaraan umum.
Masuknya Becak ke Indonesia
Becak hadir di Indonesia melalui proses adaptasi dan pengembangan dari versi yang dibawa imigran dan pedagang. Berikut perjalanan masuknya:
Becak diperkirakan masuk Batavia (sekarang Jakarta) dari Singapura dan Hongkong pada 1930-an.
Makassar menjadi salah satu kota pertama yang mengenalkan becak di Indonesia. Seorang pengusaha sepeda bernama Seiko-san mengubah sepeda menjadi kendaraan roda tiga untuk mengurangi stok sepeda yang tidak laku.
Pada 1937, becak mulai dikenal sebagai “roda tiga” di Indonesia, dan istilah betjak baru digunakan pada 1940 ketika menjadi kendaraan umum.
Becak dalam Kehidupan Kolonial dan Pasca-Kolonial
Becak tidak selalu diterima secara mudah oleh pemerintah kolonial, namun tetap bertahan hingga era modern. Beberapa fakta penting tentang peran becak yaitu:
Masa kolonial Belanda awalnya menerima becak, tapi kemudian dilarang karena dianggap menimbulkan kemacetan dan membahayakan penumpang.
Selama pendudukan Jepang (1942), becak menjadi transportasi utama karena pembatasan kendaraan bermotor.
Pemerintah Jepang bahkan memobilisasi tukang becak untuk pelatihan pemuda dan kepentingan perang.
Pasca perang, becak tetap bertahan, menyebar ke kota-kota besar, dan jumlahnya meningkat pesat di Jakarta hingga 1970-an.
Manfaat Penggunaan Becak
Becak memiliki manfaat ekologis dan sosial yang beragam. Berikut beberapa keunggulannya:
Ramah Lingkungan: Menggunakan tenaga manusia atau sepeda, yang bebas polusi udara.
Mendorong Ekonomi Lokal: Pendapatan pengemudi sering kembali ke komunitas setempat, sehingga mendukung perekonomian lokal.
Mengurangi Kemacetan: Ukurannya yang kecil membuat becak mampu melewati gang sempit di kota besar.
Tantangan dan Evolusi Modern
Becak tetap bertahan meski menghadapi persaingan dari kendaraan bermotor dan layanan digital. Beberapa becak modern bahkan dilengkapi GPS dan sistem pemesanan online untuk meningkatkan kenyamanan.
Selain itu, variasi unik juga muncul di beberapa daerah, seperti bento di Gorontalo (becak bermotor di belakang) atau becak motor di Sumatra. Meski kalah cepat dibanding kendaraan modern, becak tetap menawarkan pengalaman budaya yang berbeda dan autentik.
Baca Juga: Sejarah Keris yang Berkembang Pesat di Wilayah Jawa
