Konten dari Pengguna

Asal Usul Benteng Rotterdam di Makassar yang Mengubah Wajah Sulawesi Selatan

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana di sekitar Benteng Rotterdam, Makassar. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di sekitar Benteng Rotterdam, Makassar. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Benteng Rotterdam adalah salah satu peninggalan bersejarah paling ikonik di Makassar yang menyimpan jejak panjang perlawanan Kerajaan Gowa-Tallo terhadap ekspansi kolonial. Berdiri kokoh di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, benteng berbentuk penyu ini telah menjadi saksi bisu pergolakan politik dan militer yang mengubah wajah Sulawesi Selatan. Dari awalnya sebagai benteng pertahanan kerajaan lokal hingga menjadi pusat kekuasaan VOC di Indonesia Timur, perjalanan sejarah benteng ini mencerminkan dinamika hubungan antara kekuatan lokal dan kolonial yang penuh gejolak. Untuk mengetahui asal usul Benteng Rotterdam di Makassar, simak terus uraian ini.

Daftar isi

Pembangunan Awal oleh Kerajaan Gowa

Dalam buku Bangunan Bersejarah di Kota Makassar karya Andi Muhammad Said dkk, dijelaskan bahwa Benteng Rotterdam awalnya bernama Benteng Ujung Pandang atau Benteng Jumpandang yang dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna.

Benteng ini merupakan salah satu dari 17 benteng yang dibangun Kerajaan Gowa untuk memperkuat sistem pertahanan di sepanjang pantai Makassar dalam menghadapi ancaman VOC yang terus berekspansi.

Pada awalnya, benteng ini berbentuk segi empat mengikuti gaya arsitektur Portugis dengan bahan dasar campuran batu dan tanah liat yang dibakar hingga kering. Nama Jumpandang atau Ujung Pandang diperkirakan berasal dari nama pohon pandan yang tumbuh di sekitar lokasi benteng, yang kemudian menjadi asal muasal nama kota Ujung Pandang.

Renovasi di Era Sultan Alauddin

Menurut jurnal Candrasangkala yang ditulis Jumardi dan Suswandari dengan judul Situs Benteng Fort Rotterdam Sebagai Sumber Belajar Dan Destinasi Pariwisata Kota Makasar, pada tanggal 9 Agustus 1634, Sultan Gowa XIV I Mangerangi Daeng Manrabbia atau Sultan Alauddin melakukan renovasi besar dengan mengganti konstruksi benteng menjadi batu padas hitam. Batu ini didatangkan khusus dari Pegunungan Karst di daerah Maros dan Takalar untuk memberikan kekuatan ekstra pada struktur benteng.

Pada 23 Juni 1635, dibangun lagi dinding tembok kedua di dekat pintu gerbang untuk memperkuat sistem pertahanan. Renovasi ini menunjukkan keseriusan Kerajaan Gowa dalam menghadapi ancaman militer dari VOC yang semakin agresif.

Perang Makassar dan Perjanjian Bongaya

Dalam jurnal yang ditulis Andi Hildayanti dan Wasilah tentang Karakteristik Benteng Fort Rotterdam Sebagai Urban Artefact Kota Makassar dijelaskan bahwa antara tahun 1655-1669, Benteng Ujung Pandang mengalami kerusakan parah akibat Perang Makassar. VOC yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Admiral Cornelis Janszoon Speelman menyerang Kesultanan Gowa dengan kekuatan besar.

Sultan Hasanuddin yang memimpin perlawanan akhirnya terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Perjanjian ini memaksa Kerajaan Gowa menyerahkan Benteng Ujung Pandang kepada VOC, dan sebagian besar benteng-benteng pertahanan lainnya dihancurkan oleh Belanda. Hanya Benteng Ujung Pandang yang dibiarkan berdiri karena akan dijadikan markas VOC.

Transformasi Menjadi Fort Rotterdam

Setelah menguasai benteng, Cornelis Speelman segera melakukan pembangunan kembali secara menyeluruh dengan gaya arsitektur Belanda. Benteng yang rusak akibat perang dibangun ulang dengan material berkualitas tinggi, termasuk batu kapur dari Selayar dan kayu dari Tanete dan Bantaeng. Speelman kemudian mengganti nama benteng menjadi Fort Rotterdam, sesuai dengan nama kota kelahirannya di Belanda.

Sejak saat itu, Benteng Fort Rotterdam menjadi pusat kekuasaan kolonial Belanda di Sulawesi dan Indonesia Timur. Benteng ini difungsikan sebagai markas komando pertahanan, kantor perdagangan, kediaman pejabat tinggi, dan pusat pemerintahan. Bahkan di sekitar benteng tumbuh permukiman penduduk yang kemudian berkembang menjadi pusat Kota Makassar dengan tata ruang kolonial.

Filosofi Bentuk Penyu

Dalam Jurnal Teknik Arsitektur UIN Alauddin Makassar dijelaskan bahwa site plan Benteng Fort Rotterdam dibangun menyerupai bentuk penyu. Penyu dipilih karena memiliki filosofi yang mencerminkan karakter masyarakat Kerajaan Gowa.

Penyu sebagai makhluk yang mampu hidup di darat dan di laut dianggap merepresentasikan kondisi Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan. Bentuk penyu ini juga menjadi ciri khas benteng kolonial Belanda di Nusantara.

Fungsi Pasca Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan Indonesia, Benteng Rotterdam tetap menjadi markas militer hingga tahun 1970-an. Pada tahun 1970, benteng diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemugaran besar-besaran dilakukan dan pada 27 April 1977 diresmikan Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar yang kini menjadi Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan. Berdasarkan keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, benteng ini ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya pada tahun 2010.

Baca juga: Pengaruh Hindu dalam Kesenian Bali terhadap Tarian, Ukiran, dan Arsitektur

(NDA)