Konten dari Pengguna

Asal Usul Kesultanan Demak sebagai Kerajaan Islam Pertama di Jawa

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kerajaan Demak. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kerajaan Demak. Foto: Unsplash

Kesultanan Demak adalah kerajaan Islam pertama yang berdiri kokoh di Pulau Jawa, menggantikan kekuasaan Majapahit yang mulai melemah pada akhir abad ke-15. Asal usul Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa berawal dari Raden Fatah, seorang keturunan raja Majapahit yang memeluk Islam dan dibantu Wali Songo untuk sebarkan ajaran agama baru. Kerajaan ini bukan hanya simbol perubahan politik, tapi juga pusat perdagangan dan dakwah yang cepat kuasai Jawa Tengah hingga Timur. Artikel ini akan mengulas informasi lebih lanjut seputar Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa.

Daftar isi

Pengaruh Perdagangan dan Islam di Pesisir Utara Jawa

Sebelum Kerajaan Demak berdiri, pesisir utara Jawa sudah menjadi tempat berkumpulnya banyak pedagang Muslim dari berbagai wilayah. Dalam buku Islamic States in Java karya Theodore G.Th. Pigeaud dijelaskan bahwa armada Laksamana Zheng He dari Cina pada tahun 1405–1433 turut membawa pengaruh Islam ke pelabuhan-pelabuhan penting seperti Tuban, Gresik, dan Demak.

Selain itu, pedagang dari Gujarat dan Arab juga mengenalkan Islam kepada masyarakat setempat melalui hubungan dagang rempah dan kain—semuanya dilakukan secara damai, tanpa paksaan.

Raden Fatah, yang disebut sebagai putra Brawijaya V dari Majapahit dan putri Campa, disebutkan tumbuh di Palembang. Di sana ia mempelajari Islam dari Sunan Ampel sebelum akhirnya kembali ke Jawa.

Menurut artikel The Fortress of Islamic Greatness in the Middle Ages Java Island yang diterbitkan di DOAJ, wilayah Demak pada awalnya hanyalah desa kecil di bawah kekuasaan Majapahit. Namun karena lokasinya yang aman dan subur, Demak kemudian berkembang menjadi pusat dakwah Wali Songo.

Raden Fatah Didukung Wali Songo Mendirikan Kerajaan Islam

Setelah Majapahit melemah akibat perang saudara, Demak memisahkan diri dan Raden Fatah naik takhta pada 1478 M. Dalam jurnal Growth and Development of Islamic Kingdoms in Java dari Larisma Journal dijelaskan bahwa Sunan Ampel, guru Raden Fatah, mendorongnya untuk membangun Masjid Agung Demak sebagai pusat dakwah.

Masjid yang dibuat dari satu batang kayu jati besar itu menjadi simbol kerajaan Islam pertama di Jawa, dengan perpaduan arsitektur Jawa dan Islam agar masyarakat Majapahit mudah menerimanya.

Wali Songo, seperti Sunan Kalijaga, turut berperan dalam penyebaran Islam dengan menggunakan seni tradisional seperti wayang dan gamelan. Berkat strategi ini, kekuasaan Demak meluas hingga Jepara, Pati, dan Kudus.

Di sisi lain, Raden Fatah juga mengutus Fatahillah untuk menaklukkan Sunda Kelapa (Jayakarta) dan Banten pada 1527 M, yang kemudian menjadi wilayah bawahan Demak.

Demak Menaklukkan Sisa Majapahit dan Menyebarkan Islam ke Seluruh Jawa

Demak kemudian bergerak menaklukkan wilayah-wilayah bekas Majapahit, termasuk Trowulan pada 1478 M dan Blambangan antara 1478–1510.

Pigeaud melalui bukunya yang bertajuk Islamic States in Java menjelaskan bahwa penyebaran pengaruh Demak tidak hanya dilakukan dengan kekuatan militer, tetapi juga melalui cara damai, yaitu membangun masjid-masjid cabang dan mengirim ulama yang mengajar Al-Qur’an sambil berdagang.

Sunan Giri dari Gresik menyebarkan Islam ke Madura hingga Maluku, sedangkan Sunan Kudus menggunakan gamelan untuk menarik minat masyarakat.

Demak juga menguasai jalur perdagangan di pesisir utara Jawa, sehingga para sultannya semakin kuat, bahkan mampu menghadapi ancaman Portugis yang menaklukkan Malaka pada 1511 M.

Akhir Kerajaan Demak dan Warisannya untuk Mataram

Kesultanan Demak berakhir pada 1554 M akibat konflik internal. Kekuasaan kemudian berpindah ke Kerajaan Pajang, lalu Mataram Islam. Dalam jurnal THE EMERGENCE AND DEVELOPMENT HISTORY OF DEMAK SULTANATE dari UNY Journal dijelaskan bahwa warisan terbesar Demak adalah model penyebaran Islam khas Jawa, yang mana menggabungkan budaya lokal, sikap toleran, serta perdagangan halal.

Raden Fatah wafat pada 1518 M dan digantikan oleh Sultan Trenggana, yang berhasil menaklukkan Tuban dan Surabaya. Namun masa kejayaan Demak mulai pudar karena perselisihan internal, termasuk konflik berdarah yang melibatkan Arya Penangsang.

Kendati begitu, Demak tetap menjadi contoh penting bagi kerajaan-kerajaan Islam selanjutnya, seperti Mataram dan Banten, tentang bagaimana cara menguasai Jawa tanpa menghilangkan identitas budaya Hindu-Jawa yang sudah lama mengakar.

Baca juga: Peran Masjid Kuno Demak dalam Penyebaran Islam di Jawa

(NDA)