Konten dari Pengguna

Peran Masjid Kuno Demak dalam Penyebaran Islam di Jawa

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Masjid Kuno Demak. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Masjid Kuno Demak. Foto: kumparan

Peran Masjid Kuno Demak dalam penyebaran Islam di Jawa sangat besar, mulai dari jadi markas bagi para Wali Songo dalam berdakwah, hingga simbol kerajaan Islam pertama yang gantikan Majapahit. Bangunan sederhana dengan saka guru dari jati tunggal ini lahir 1479 M, mewakili cara halus Wali Songo dalam mengabungkan budaya Jawa dengan ajaran Islam. Menurut jurnal bertajuk Pragmatic-Semantic Analysis of the Demak Great Mosque di ISVS e-journal, masjid ini simbol akulturasi yang membuat Islam cepat nyebar dari Demak ke Blambangan dan Mataram. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut mengenai peran masjid Kuno Demak dalam penyebaran agama Islam di Jawa.

Daftar isi

Masjid Demak Jadi Pusat Dakwah Wali Songo

Wali Songo memilih Demak sebagai tempat membangun masjid pertama di Jawa karena lokasinya dekat dengan masyarakat pesisir yang sudah akrab dengan para pedagang muslim.

Menurut buku Islamic States in Java karya Theodore G. Th. Pigeaud, Sunan Kalijaga dan Raden Fatah membangun masjid ini menggunakan kayu jati dari hutan sekitar. Bentuknya dibuat seperti rumah joglo Jawa agar masyarakat merasa nyaman masuk tanpa takut.

Masjid ini kemudian menjadi tempat belajar agama, shalat berjamaah, dan merancang cara berdakwah menggunakan wayang, gamelan, dan kesenian lokal.

Dalam artikel The Fortress of Islamic Greatness in Java di DOAJ dijelaskan bahwa masjid ini menjadi pusat dakwah ke Jepara, Tuban, dan Madura. Sunan Ampel mengirim murid-muridnya untuk mengajarkan baca Quran di wilayah tersebut.

Empat tiang utama atau saka guru melambangkan kokohnya ajaran Islam yang dibawa Wali Songo, sedangkan atap tiga tingkat menggambarkan tiga nilai, yakni iman, Islam, dan ihsan.

Arsitektur Masjid: Perpaduan Jawa dan Islam

Masjid Demak memiliki bentuk seperti rumah limasan Jawa dengan empat tiang saka guru dari satu pohon jati besar. Pintu utamanya, yang disebut lawang bledheg, dipenuhi ukiran bunga sebagai simbol surga.

Menurut jurnal Saka Guru dan Atap Tumpang Tiga oleh A Ifrochah, desain ini sengaja dibuat agar masyarakat Hindu–Buddha pada masa itu tidak merasa asing, sehingga mereka lebih mudah diajak shalat bersama. Mihrab dan mimbar kayunya dibuat sederhana sebagai pengingat bahwa ajaran Islam menekankan kesederhanaan, berbeda dengan kemewahan istana Majapahit.

Jurnal The Emergence and Development History of Demak Mosque yang diterbitkan dalam Journal UNY mencatat bahwa Masjid Demak menjadi masjid pertama di Jawa yang menggunakan atap bertingkat, memadukan unsur Majapahit tetapi berisi ajaran tauhid. Renovasi pada tahun 1704 dan 1934 tetap mempertahankan bentuk aslinya, sehingga nilai sejarahnya tetap terjaga.

Kesultanan Demak, Kerajaan Islam Pertama di Jawa

Masjid Demak juga menjadi simbol berdirinya Kesultanan Demak pada tahun 1475 M di bawah Raden Fatah, menggantikan Majapahit yang mulai melemah.

Menurut jurnal Growth and Development of Islamic Kingdoms in Java dari Larisma Journal, kerajaan ini menyebarkan Islam ke Jawa Tengah dan Timur melalui pembangunan masjid-masjid di Kudus, Pati, dan Gresik. Sunan Giri dari Gresik bahkan mengirim kelompok dakwah sampai ke Maluku berkat dukungan kuat dari Demak.

Dalam jurnal Glocalization of Wali Songo Islamization karya Nurul, N disebutkan bahwa masjid ini menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat agama. Para pedagang dari Cina, India, dan Arab belajar Islam sambil berdagang di Demak. Kerajaan Demak juga memperluas pengaruhnya hingga Pajajaran dan Blambangan tanpa banyak peperangan, melainkan melalui dakwah dan jaringan masjid.

Peran Masjid di Masa Perang dan Penjajahan

Ketika VOC datang, Masjid Demak menjadi tempat berlindung rakyat dan tempat menyusun strategi melawan Belanda. Jurnal Politics of Heritage in the Conservation of Demak Mosque dalam UI Scholar menyebutkan bahwa masjid ini bahkan selamat dari serangan bom Portugis pada 1624.

Masjid ini kemudian terlibat dalam perjuangan rakyat, termasuk dalam gerakan Pangeran Diponegoro. Pada era Orde Baru tahun 1980-an dilakukan renovasi besar dengan bantuan dana dari Arab Saudi, tetapi saka guru asli tetap dipertahankan.

Menurut jurnal Javanese Muslim Local Culture dari UIN Suka, masjid ini sejak dulu mengajarkan nilai toleransi dan menjadi tempat ibadah berbagai etnis. Kini, Masjid Demak menjadi salah satu destinasi sejarah terpopuler, dengan sekitar 500.000 pengunjung setiap tahun.

Baca juga: Sejarah Kerajaan Demak: Kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa

(NDA)