Konten dari Pengguna

Asal Usul Lontong Balap, Kuliner Legendaris Khas Surabaya Sejak Awal Abad ke-20

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Lontong Balap. Foto: Shutterstock/Tridrian
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Lontong Balap. Foto: Shutterstock/Tridrian

Asal usul lontong balap selalu dikaitkan dengan hiruk-pikuk pasar tradisional Surabaya pada awal abad ke-20. Hidangan nasi gepeng kenyal disiram kuah tauge pedas, ditaburi lentho kacang goreng, tahu bacem, dan sambal petis ini jadi makanan rakyat yang murah meriah tapi mengenyangkan. Merujuk buku 45 Makanan Khas Surabaya yang Lezat dan Legendaris karya Jemmy Tanod, S.Kom., lontong balap lahir dari "balapan" pedagang kemaron berat agar tak ketinggalan pembeli di Pasar Wonokromo. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut seputar lontong balap dari Surabaya.

Daftar isi

Sejarah Munculnya Lontong Balap di Wonokromo

Lontong balap sudah ada sejak awal abad ke-20 dan pertama kali dijual sekitar tahun 1913 di kawasan Pasar Wonokromo, Surabaya. Makanan ini awalnya dijajakan oleh pedagang keliling yang membawa dagangan dengan cara dipikul menggunakan kemaron (wadah dari tanah liat).

Menurut buku Resep Istimewa Kuliner Surabaya Disertai Sejarahnya karya Christina Mumpuni Erawati, dkk., para pedagang tersebut sering berjalan setengah berlari agar cepat sampai ke calon pembeli dan mendahului penjual lain. Dari kejadian inilah muncul istilah “balap” karena terlihat seperti saling berlomba.

Kata “balap” sendiri berasal dari bahasa Jawa Timur yang berarti adu cepat. Istilah ini kemudian melekat sebagai nama makanan karena menjadi ciri khas cara para pedagang menjajakan lontong balap sambil berteriak menawarkan dagangan.

Bahan dan Teknik Masak Lontong Balap Asli

Lontong balap dibuat dari bahan-bahan sederhana, tetapi prosesnya cukup panjang. Lontong dibuat dari beras biasa yang dibungkus daun pisang dengan rapat, lalu direbus selama 4–6 jam hingga teksturnya padat dan kenyal.

Kuahnya berasal dari air rebusan tauge segar, lalu disiram dengan bumbu petis yang rasanya gurih, manis, dan sedikit pedas. Di atasnya ditambahkan bawang goreng dan irisan daun bawang agar aromanya semakin sedap.

Pelengkap paling khas adalah lentho, yaitu gorengan dari kacang tanah yang telah direndam bersama bumbu seperti bawang dan kemiri sejak malam hari. Kacang kemudian ditumbuk kasar, dibentuk bulat, dan digoreng hingga renyah di luar namun tetap lembut di dalam.

Selain itu, lontong balap biasanya disajikan bersama tahu goreng, mi kuning, kerupuk udang, sate kerang, dan sambal cabai rawit. Pedagang tradisional menjaga lontong tetap hangat dengan menutupnya menggunakan kain, lalu menyiramkan kuah panas saat akan disajikan agar nikmat dimakan langsung.

Ciri Khas dan Perbedaan Lontong Balap Surabaya

Ciri utama yang membedakan lontong balap dengan lontong tauge biasa adalah lentho. Jemmy Tanod, S.Kom. dalam buku 45 Makanan Khas Surabaya menjelaskan bahwa lentho harus memiliki tekstur kriuk di luar dan lembut di dalam, dengan bumbu bawang putih dan ketumbar yang meresap sempurna.

Kuah lontong balap juga berbeda karena tidak menggunakan santan, melainkan kuah bening dengan rasa petis ikan teri yang gurih dan sedikit pedas. Penyajiannya umumnya menggunakan daun pisang atau piring stainless, lalu ditaburi bawang goreng dalam jumlah banyak dan ditambah emping atau kerupuk.

Beberapa penjual legendaris seperti Pak Gendut dan Bu Wirjolastuti dikenal masih mempertahankan resep asli yang diwariskan secara turun-temurun sejak tahun 1930-an, sehingga cita rasa lontong balap tetap terjaga hingga kini.

Perkembangan Lontong Balap di Era Modern

Seiring perkembangan zaman, lontong balap tidak lagi hanya dijual oleh pedagang pikul, tetapi juga hadir di warung tenda, rumah makan, hingga restoran modern. Meski begitu, makanan ini tetap menjadi ikon kuliner khas Surabaya, terutama untuk menu sarapan.

Dalam buku Resep Istimewa Kuliner Surabaya karangan Christina Mumpuni Erawati, dkk., disebutkan bahwa banyak penjual lontong balap generasi keempat mulai beradaptasi dengan zaman, misalnya menggunakan kemasan styrofoam untuk layanan pesan antar serta menambahkan variasi topping seperti bakso atau ayam suwir agar diminati anak muda.

Pemerintah Kota Surabaya juga rutin mengadakan festival kuliner yang menampilkan lomba lontong balap autentik sebagai upaya melestarikan penggunaan kemaron dan lentho asli.

Dengan harga yang masih terjangkau, sekitar Rp10.000–15.000 per porsi, lontong balap tetap menjadi makanan rakyat yang digemari buruh, pelajar, hingga wisatawan, sekaligus bukti ketahanan kuliner tradisional di tengah gempuran makanan cepat saji global.

Baca juga: Sejarah Lemang, Ketan dalam Bambu Khas Sumatera

(NDA)