Sejarah Lemang, Ketan dalam Bambu Khas Sumatera

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah lemang berkaitan erat dengan kebiasaan memasak beras ketan di dalam bambu yang sudah dikenal di Sumatra dan Semenanjung Melayu sejak abad ke-9. Berdasarkan buku Ragam Kuliner Aceh oleh Murdijati Gardjito, dkk., lemang awalnya diciptakan sebagai bekal tahan lama bagi para perantau dan pejuang dakwah. Artikel ini akan menguraikan informasi lebih lanjut mengenai lemang, mulai dari asal usul hingga penyebarannya di Nusantara.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Asal Usul Lemang di Minangkabau
Di wilayah Minangkabau, Sumatra Barat, lemang atau lamang dipercaya pertama kali diperkenalkan oleh Syekh Burhanuddin saat menyebarkan agama Islam di Pariaman.
Menurut jurnal Lamang dan Tradisi Malamang pada Masyarakat Minangkabau karya Refisrul dalam Garuda Kemendikbud, Syekh Burhanuddin mengganti beras biasa dengan beras ketan agar makanan lebih tahan lama selama perjalanan dakwah di daerah pesisir. Ketan tersebut kemudian dimasak dalam bambu yang dilapisi daun pisang.
Teknik Masak Tradisional Lemang
Proses memasak lemang dimulai dengan memotong bambu sepanjang 30–50 cm, lalu dibersihkan dan dilapisi daun pisang muda. Beras ketan direndam sekitar dua jam, kemudian dicampur santan kental, garam, dan kadang daun pandan. Bambu diisi adonan ketan lalu disusun miring di dekat bara api selama 4–6 jam dan diputar secara berkala.
Buku Ragam Kuliner Aceh karya Murdijati Gardjito, dkk menjelaskan bahwa api kecil dan stabil membuat santan meresap sempurna, menghasilkan aroma khas bambu bakar. Kini, lemang juga memiliki variasi seperti lemang pisang, lemang ubi, dan lemang manis dengan gula merah.
Fungsi Ritual dan Sosial Lemang
Lemang bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari tradisi adat. Pada masyarakat Besemah Bengkulu, lemang digunakan dalam upacara pernikahan sejak abad ke-15.
Menurut Kajian Etnosains Tradisi Malamang Sebagai Sumber Belajar IPA karya Risna Avrilla, lemang melambangkan ketahanan dan kebersamaan dalam rumah tangga.
Di Minangkabau, tradisi malamang saat Ramadan menjadi simbol kesabaran dan rasa syukur, sekaligus sarana berbagi dengan tetangga sebagai bentuk sedekah sosial.
Penyebaran Lemang di Nusantara
Lemang berasal dari budaya Minangkabau, Sumatra Barat, lalu menyebar ke Aceh dan berbagai daerah lain di Sumatra. Makanan ini kemudian menjadi sajian khas saat Lebaran, biasanya dimakan bersama rendang atau gulai.
Menurut catatan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, Tebing Tinggi di Sumatra Utara bahkan dikenal sebagai “Kota Lemang” karena memiliki puluhan varian rasa. Daerah ini juga pernah mencetak rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada tahun 2013 berkat keunikan dan jumlah produksi lemangnya.
Tidak hanya di Indonesia, lemang juga dikenal luas di Malaysia dan Brunei. Di sana, lemang diolah dengan cita rasa lokal, misalnya menggunakan gula aren sebagai pemanis, yang menunjukkan kuatnya penyebaran budaya Melayu di kawasan Asia Tenggara.
Sementara itu, pendampingan yang dilakukan oleh STITPN sebagaimana dipublikasikan dalam ejournal.stitpn.ac.id menyebutkan bahwa penggunaan alat modern dalam pembuatan lemang dapat membantu melestarikan makanan tradisional ini sekaligus meningkatkan perekonomian UMKM di desa-desa.
Baca juga: Asal Usul Nasi Padang, Kuliner Minangkabau yang Digemari Banyak Orang
(NDA)
