Konten dari Pengguna

Asal Usul Nasi Liwet, Kuliner Khas Jawa yang Gurih dan Penuh Filosofi

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi nasi liwet. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi nasi liwet. Foto: Unsplash

Asal usul nasi liwet menjadi cerita menarik dalam kuliner Nusantara karena hidangan ini telah lama hadir dalam kehidupan masyarakat Jawa. Nasi liwet adalah nasi yang dimasak menggunakan santan, daun salam, dan serai sehingga menghasilkan aroma gurih yang khas. Bagi masyarakat Jawa, nasi liwet bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa syukur. Artikel ini akan menguraikan informasi lebih lanjut tentang nasi liwet yang menarik untuk disimak.

Daftar isi

Sejarah Nasi Liwet di Keraton Solo

Nasi liwet memiliki kaitan erat dengan tradisi Keraton Surakarta. Dalam ritual Kamisan, nasi liwet dimasak setiap Kamis malam sebagai hidangan persembahan untuk leluhur, lalu dibagikan kepada masyarakat sekitar. Tradisi ini memperlihatkan nilai berbagi yang kuat dalam budaya Jawa.

Berdasarkan catatan dalam jurnal Repositori Kemendikdasmen berjudul Pencatatan Kekayaan Budaya Takbenda Indonesia, penjual nasi liwet mulai muncul di Desa Menuran, Sukoharjo, pada abad ke-19. Saat itu, nasi liwet dipercaya sebagai makanan penolak bala ketika terjadi bencana alam seperti gempa bumi.

Buku Etnografi Kuliner: Makanan dan Identitas karya Adzkiyak menjelaskan bahwa nasi liwet kemudian digemari kalangan bangsawan Mangkunegaran karena rasanya yang gurih, mirip nasi samin yang dikenal dalam tradisi Islam Jawa.

Teknik Memasak Tradisional Nasi Liwet

Proses memasak nasi liwet dilakukan dengan cara perlahan. Beras pilihan dicuci bersih lalu dimasak bersama santan encer, serai, daun salam, dan cabai. Api kecil dari kayu bakar digunakan agar nasi matang merata dan bumbunya meresap sempurna.

Menurut buku Ensiklopedia Kesukuan di Indonesia karya Drs. Alfiandra, M.Si., Mariyani, S.Pd., M.Pd., istilah “liwet” berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti dimasak perlahan hingga bumbu menyatu. Teknik ini diwariskan turun-temurun oleh petani karena hemat bahan, tetapi menghasilkan rasa yang kaya.

Nasi liwet biasanya disajikan dengan lauk seperti ayam suwir, telur pindang, sayur labu siam, dan sambal, serta dialasi daun pisang.

Makna Filosofis dan Ritual Nasi Liwet

Dalam berbagai upacara adat, nasi liwet memiliki makna mendalam. Di beberapa daerah seperti Parangtritis, nasi liwet disajikan saat bersih desa sebagai tanda syukur atas hasil panen dan permohonan keselamatan.

Pada tradisi ini, menurut Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, nasi liwet sering disajikan bersama ingkung ayam dan tumpeng untuk menghormati leluhur.

Vanesa Adisa dalam buku Filosofi Kuliner Nasi Liwet Khas Solo juga menyebut nasi liwet sebagai bagian dari sedekah nasi atau “nasi golong” yang dibagikan kepada warga, mencerminkan nilai gotong royong.

Rasa gurih dari santan melambangkan kehidupan yang penuh rasa, sementara daun pisang dipercaya menjaga kesucian makanan sesuai nilai Islam Jawa.

Variasi dan Penyebaran Nasi Liwet

Setiap daerah memiliki ciri khas nasi liwet. Nasi liwet Solo dikenal dengan tambahan areh atau santan kental, sedangkan versi Yogyakarta biasanya dilengkapi opor ayam. Di Gunungkidul, nasi liwet hadir dalam bentuk nasi among untuk acara syukuran panen.

Kemenparekraf melalui platform Jadesta bahkan mengklaim nasi liwet sebagai ikon wisata kuliner Jawa Tengah. Meski kini dikemas lebih modern, nilai tradisi, kebersamaan, dan rasa autentik nasi liwet tetap dijaga hingga sekarang.

Baca juga: Asal Usul Nasi Uduk, Kuliner Betawi Hasil Percampuran Budaya

(NDA)