Konten dari Pengguna

Asal Usul Nasi Uduk, Kuliner Betawi Hasil Percampuran Budaya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi nasi uduk. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi nasi uduk. Foto: Unsplash

Asal usul nasi uduk tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang pertemuan berbagai budaya di Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta. Di balik kelezatannya, nasi uduk menyimpan cerita tentang identitas orang Betawi dan pengaruh kuliner Melayu. Merujuk buku Etnografi Kuliner: Makanan dan Identitas Nasional karya Pudentia MPSS dkk., nasi uduk dipahami sebagai simbol percampuran budaya yang kemudian diterima sebagai bagian dari identitas kuliner Betawi modern.​ Artikel ini akan menguraikan sejarah dari lahirnya makanan nasi uduk selengkapnya.

Daftar isi

Sejarah Nasi Uduk dalam Budaya Betawi

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui dokumen Warisan Budaya Takbenda Provinsi DKI Jakarta mencatat bahwa nasi uduk diakui sebagai salah satu makanan tradisional Betawi yang menjadi bagian penting dalam tradisi dan perayaan lokal.

Nasi uduk lahir di lingkungan masyarakat kota pelabuhan Batavia yang menjadi “melting pot” berbagai etnis, seperti Melayu, Jawa, Arab, Tionghoa, dan Eropa, sebagaimana digambarkan dalam penelitian Kemdikbud tentang makanan Betawi yang menekankan peran makanan sebagai penanda sosial suatu etnik.

Dalam konteks ini, nasi uduk diposisikan sebagai hidangan sehari-hari sekaligus sajian istimewa pada acara keagamaan dan hajatan keluarga.

Pengaruh Melayu terhadap Asal Usul Nasi Uduk

Situs resmi Pemprov DKI Jakarta menjelaskan bahwa nasi uduk dipengaruhi kuat oleh budaya Melayu dan memiliki kemiripan dengan nasi lemak, baik dari sisi bahan maupun cara memasaknya dengan santan.

Para perantau Melayu yang datang ke Batavia membawa tradisi nasi lemak, lalu berbaur dengan masyarakat setempat yang sudah mengenal nasi gurih, sehingga muncul varian baru yang kemudian dikenal sebagai nasi uduk.

Pudentia dalam buku Etnografi Kuliner: Makanan dan Identitas Nasional menegaskan bahwa proses akulturasi inilah yang membuat nasi uduk tidak sekadar makanan, tetapi juga penanda identitas orang Betawi sebagai komunitas hasil percampuran banyak budaya.​

Bahan, Teknik Memasak, dan Cita Rasa Khas Nasi Uduk

Menurut kajian Kemdikbud tentang Makanan: wujud, variasi, dan fungsinya serta cara penyajian pada masyarakat Betawi, nasi uduk dimasak dari beras yang terlebih dahulu direndam dan diaron dengan santan, daun salam, serai, serta daun jeruk sebelum kemudian dikukus hingga tanak.

Teknik memasak ini menghasilkan nasi yang pulen, beraroma harum, dan kaya rasa gurih, berbeda dari nasi putih biasa yang hanya dimasak dengan air.

Nasi uduk Betawi sendiri biasanya disajikan dengan lauk pendamping seperti semur jengkol, empal, ayam goreng, bihun, telur dadar, serta taburan bawang goreng yang memperkuat karakter gurihnya.

Nasi Uduk sebagai Identitas Kuliner dan Warisan Budaya

Dalam buku Etnografi Kuliner: Makanan dan Identitas Nasional, Pudentia menjelaskan bahwa makanan tradisional seperti nasi uduk berperan penting dalam membangun narasi kebangsaan karena menghadirkan memori kolektif tentang kehidupan urban orang Betawi.

Dokumen Warisan Budaya Takbenda DKI Jakarta juga menempatkan nasi uduk dalam daftar unsur budaya yang perlu dilestarikan, sejajar dengan tari, upacara, dan bentuk ekspresi budaya lainnya.

Baca juga: Sejarah Bubur Manado: Makanan Khas Sulawesi Utara yang Bergizi

(NDA)