Konten dari Pengguna

Asal Usul Pakaian Adat Sasando dari Nusa Tenggara Timur

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pakaian adat dari Nusa Tenggara Timur. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pakaian adat dari Nusa Tenggara Timur. Foto: Unsplash

Pakaian adat Sasando merupakan salah satu warisan budaya dari masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Nama “Sasando” sebenarnya merujuk pada alat musik dawai tradisional khas Pulau Rote yang dimainkan dengan cara dipetik. Dengan demikian, istilah pakaian adat Sasando digunakan untuk menyebut busana tradisional masyarakat Rote. Artikel ini akan membahas asal usul pakaian adat Sasando dari Nusa Tenggara Timur serta bentuknya.

Daftar isi

1. Asal Usul Pakaian Adat Sasando

Baju adat Pulau Rote dikenal pula dengan sebutan Sasando, sama seperti nama alat musik khas daerah tersebut. Mengutip dari buku Alat Musik Tradisional Nusantara karya Akhmalul Khuluq, secara harfiah “Sasando” berasal dari bahasa Rote “sasandu”, yang berarti alat yang bergetar atau berbunyi. Alat musik ini biasanya dimainkan untuk mengiringi nyanyian, tarian tradisional, hingga upacara adat.

Sama halnya dengan alat musiknya, pakaian adat Sasando mencerminkan keindahan dan makna filosofis yang dalam. Kain tenun khas Rote menjadi unsur utama busana tradisional ini.

Ragam motif tenun masyarakat Rote menampilkan berbagai bentuk, mulai dari tokoh mitologis, hewan, tumbuhan, hingga pola geometris abstrak. Dalam kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur, kain tenun memiliki banyak fungsi, antara lain sebagai pelindung tubuh, busana upacara adat, mas kawin, simbol status sosial, dan lambang kehormatan suku.

Setiap motif memiliki maknanya sendiri. Ada yang melambangkan kesempurnaan dan kecantikan perempuan Rote, ada pula yang menggambarkan keindahan alam Pulau Rote.

2. Pakaian Adat Pria

Berdasarkan buku Seri Ensiklopedia untuk Anak Indonesia: Indahnya Pulau Nusa Tenggara karya Slamet Riyanto dan Hidmi Gramatolina Ramdhayani, pakaian adat pria Rote terdiri dari kemeja putih berlengan panjang sebagai atasan dan sarung tenun ikat berwarna gelap sebagai bawahan. Sehelai selendang bermotif sama diselempangkan di bahu sebagai penutup dada, sementara sebilah golok diselipkan di bagian depan pinggang.

Ciri khas paling menonjol dari busana pria Rote adalah penutup kepala berbentuk bulat dengan bagian tengah meruncing ke atas, yang terbuat dari daun lontar kering. Penutup kepala ini disebut Ti’i Langga. Selain sebagai pelengkap penampilan, Ti’i Langga juga melambangkan jati diri seorang pria Rote. Untuk melengkapi tampilan, pria biasanya juga mengenakan kalung manik-manik dan ikat pinggang.

3. Pakaian Adat Wanita

Dalam buku Mengenal Seni dan Budaya Indonesia karya R. Rizky dan T. Wibisono, dijelaskan bahwa pakaian adat wanita Rote terbuat dari kain tenun tradisional dan sehelai kain tenun lain biasanya diselempangkan di bahu yang menutupi dari dada hingga kaki.

Kepala wanita Rote biasanya disanggul dan dihiasi dengan ornamen khas berbentuk “Bula Molik”, yaitu hiasan menyerupai bulan sabit. Selain itu, mereka juga mengenakan gelang, kalung susun, dan aksesori pelengkap lainnya.

Baca Juga: Ciri-Ciri Pakaian Adat Betawi pada Masa Penjajahan, Apa Saja?

(SA)