Konten dari Pengguna

Ciri-Ciri Pakaian Adat Betawi pada Masa Penjajahan, Apa Saja?

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pakaian Adat Betawi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pakaian Adat Betawi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Ada banyak jenis baju adat Betawi, mengingat perkembangannya turut dipengaruhi budaya yang dibawa para pendatang, seperti Melayu, Arab, Tionghoa hingga Belanda. Lantas, bagaimana ciri-ciri pakaian adat Betawi pada masa penjajahan?

Dikutip dari buku Pakaian Adat Tradisional Daerah Propinsi DKI Jakarta yang dirilis Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, di masa lalu, Belanda sengaja menciptakan stratifikasi sosial di antara masyarakat Betawi. Pribumi yang diberi pangkat atau jabatan khusus mengenakan pakaian berbeda dari masyarakat biasa.

Ada sekitar dua pangkat yang disandang pribumi pada masa penjajahan, yakni Mandor dan Potiah atau Juragan. Seperti apa ciri-ciri pakaiannya?

Pakaian Adat Betawi yang Dipakai Mandor

Pakaian mandor terbuat dari kain sepe/pepe berwarna cokelat muda. Bentuknya berlengan panjang dan memiliki kerah. Biasa dipadukan dengan celana panjang dan memakai tutup kepala yang disebut liskol (sejenis blangkon).

Di bagian dada, ada simbol kekuasaan berupa lencana yang disebut kroon. Sebagai pelengkap, sering juga dipadukan dengan dasi kupu-kupu hitam, sepatu, dan kaos kaki panjang yang disebut stiwel.

Di masa kini, sebagian pelengkap pakaian Mandor dapat ditemukan pada pakaian adat Abang Jakarta. Bisa dibilang, pakaian Abang Jakarta diadaptasi dari pakaian Mandor zaman penjajahan.

Pakaian Adat Betawi yang Dipakai Potiah

Pakaian Potiah atau Juragan juga terbuat dari kain sepe/pepe, tapi berwarna putih. Bentuknya lengan panjang yang dipadukan dengan celana panjang. Perlengkapan lain yang sepaket dengan pakaian ini adalah topi putih atau yang disebut tudung gabusan oleh penduduk setempat pada waktu itu.

Juragan juga memakai simbol atau lencana di dada berupa kroon. Tambahan lainnya adalah dasi kupu-kupu hitam, sepatu hitam, kaos kaki, serta sering membawa tongkat.

Pakaian yang Sering Dipakai Perempuan Betawi di Zaman Dulu

Merujuk buku Gado-Gado Betawi: Masyarakat Betawi dan Ragam Budayanya oleh Emot Rahmat Taendiftia, pakaian sehari-hari perempuan Betawi pada masa itu saat hendak bekerja di sawah adalah kain yang menjuntai hingga betis, yang ipadukan dengan baju biasa dan tudung atau topi lebar.

Sedangkan untuk acara resmi, perempuan Betawi akan memakai kebaya lengan panjang dan kain yang panjangnya mencapai mata kaki. Dipadukan dengan selop serta kerudung.

Pakaian yang Sering Dipakai Lelaki Betawi di Zaman Dulu

Saat akan bekerja di sawah, laki-laki Betawi zaman dulu akan mengenakan celana panjang yang longgar. Dipadukan dengan baju biasa dan kadang melilitkan sarung di pinggang.

Untuk acara resmi, ada beberapa jenis pakaian yang biasanya dipakai pria Betawi, yakni:

  • Pakaian Sadariyah: Terdiri dari baju koko sadariyah atau disebut juga baju gunting cina. Dipadukan dengan terompah serta peci hitam atau merah.

  • Pakaian Ujung Serong: Biasanya dipakai oleh demang atau kepala wilayah. Terdiri dari jas berkerah dan celana pantalon yang berhias rantai kuku macan.

  • Pakaian Abang Jakarta: Terdiri dari jas berkerah model baju cina, liskol, hiasan kuku macan, arloji gantung, pisau raut, dan sepatu pantofel.

Baca Juga: Pakaian Adat Betawi Cowok dari Keseharian hingga Baju Pengantin