Konten dari Pengguna

Asal Usul Perahu Tradisional Jukung di Kalimantan

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perahu tradisional jukung. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perahu tradisional jukung. Foto: Pexels

Asal usul perahu tradisional jukung di Kalimantan berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat sungai yang bergantung pada air sebagai jalur utama transportasi dan perdagangan. Menurut buku Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi karya Koentjaraningrat dkk., perahu seperti jukung digolongkan sebagai bagian penting sistem peralatan hidup karena menentukan cara manusia beradaptasi dengan lingkungan sungai yang luas dan berarus tenang di Kalimantan.​ Artikel ini akan mengulas lebih lanjut seputar perahu tradisional jukung di Kalimantan.

Daftar isi

Jukung sebagai Perahu Sungai Tertua di Kalimantan

Jukung adalah perahu tradisional yang sangat dikenal di Kalimantan, terutama oleh masyarakat Banjar dan juga digunakan luas oleh suku Dayak di Kalimantan Selatan serta wilayah sekitarnya. Sejak dahulu, jukung menjadi alat transportasi utama di sungai-sungai besar yang membelah wilayah ini.

Menurut penjelasan Museum Bahari Kementerian Kebudayaan, jukung merupakan perkembangan dari perahu lesung atau canoe kuno. Perahu jenis ini dibuat dari satu batang kayu besar yang dilubangi bagian tengahnya untuk tempat duduk penumpang atau barang. Cara pembuatan yang sederhana ini menunjukkan bahwa jukung sudah dikenal sejak masa sangat lama.

Bukti arkeologi di Kalimantan Selatan juga memperkuat hal tersebut. Temuan seperti Jukung Patai dan Jukung Bakapih menunjukkan bahwa bentuk awal jukung telah digunakan sejak berabad-abad lalu.

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia mencatat bahwa teknologi pembuatan jukung berkembang dari teknik lama berupa perahu ikat dan penggunaan pasak kayu, sebelum akhirnya dikenal sebagai perahu papan khas Banjar.

Selain itu, penelitian Kosnowihardjo yang dikutip oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menjelaskan bahwa bentuk jukung juga mendapat pengaruh dari kebudayaan prasejarah dataran Cina Selatan (Yunnan). Pengaruh ini masuk ke Asia Tenggara melalui jalur migrasi yang melewati Kalimantan, sehingga memperkaya perkembangan teknologi perahu tradisional di wilayah ini.

Bahan, Bentuk, dan Teknik Pembuatan Jukung

Bakal jukung dibuat dari satu batang kayu keras seperti ulin, mersawa, atau kayu besi yang dikerok bagian tengahnya menggunakan belayung (kapak tradisional), sehingga terbentuk ruang memanjang untuk penumpang atau muatan.

Tahap berikutnya adalah pemekaran lambung, bagian dalam perahu diisi air, sedangkan bagian luar dipanaskan dengan api selama beberapa hari untuk memuaikan kayu, lalu dipasang balok penahan agar lambung melebar dan stabil di air.

Catatan bertajuk Jukung Barito di situs resmi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menunjukkan bahwa pada tahap akhir, lambung diperkuat dengan tataban (papan melintang), plat logam atau pasak kayu, serta tambahan papan pada haluan dan buritan agar perahu sanggup mengarungi sungai-sungai besar seperti Barito, Nagara, dan Amandit.

Fungsi Jukung dalam Ekonomi dan Mobilitas Masyarakat Sungai

Sejarah sosial Sungai Barito yang dikaji BRIN menggambarkan jukung sebagai alat utama perpindahan penduduk Dayak dari hilir ke pedalaman, mengikuti alur sungai yang tenang.

Kemendikdasmen dalam buku Perahu Tradisional Kalimantan Selatan menyebut bahwa sebelum jalan darat dibuka, jukung dan kelotok menjadi moda transportasi paling populer untuk mengangkut hasil pertanian, kayu, ikan, hingga kebutuhan sehari-hari.

Di lingkungan masyarakat Banjar, jenis jukung pun sangat beragam yang dibedakan berdasarkan fungsinya. Berikut beberapa di antaranya yang dikutip dari buku Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi: Seri Pengantar Studi Kebudayaan karangan Prof. Dr. Alo Liliweri:

  • Jukung Palambakan untuk mengangkut bibit cabai dan sayuran.

  • Jukung Pambarasan untuk beras karung.

  • Jukung Gumbili untuk ubi.

  • Jukung Rombong khusus berjualan kue dan soto.

  • Perahu Undaan yang lebih besar untuk membawa barang dagangan dari Banjarmasin ke hulu sungai.

Di pasar terapung, jukung menjadi “lapak bergerak” tempat pedagang perempuan Banjar menjajakan hasil kebun dan makanan tradisional di atas air.

Makna Budaya dan Pelestarian Jukung Tradisional

Dalam kerangka antropologi Koentjaraningrat, jukung termasuk unsur “sistem peralatan hidup dan teknologi” yang bukan hanya benda fungsional, tetapi juga simbol kebudayaan sungai masyarakat Kalimantan.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui berbagai lomba dan festival balap jukung, seperti Gubernur Cup dan kejuaraan balap jukung Mantuil, mendorong pelestarian perahu tradisional ini sekaligus memperkuat identitas masyarakat Banjar sebagai “urang sungai”.

Dinas Kebudayaan DKI Jakarta bahkan menjadikan Jukung Barito sebagai koleksi edukatif di museum untuk menunjukkan bagaimana teknologi perahu tradisional Kalimantan berkembang dari satu batang kayu menjadi armada transportasi yang menopang perdagangan dan mobilitas di Nusantara.

Baca juga: Awal Mula Perahu Pinisi Menjadi Ikon Pelaut Bugis dan Legenda Laut Nusantara

(NDA)