Konten dari Pengguna

Awal Mula Perahu Pinisi Menjadi Ikon Pelaut Bugis dan Legenda Laut Nusantara

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perahu Pinisi. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perahu Pinisi. Foto: Unsplash

Perahu Pinisi bukan hanya kapal kayu biasa, tapi simbol keberanian pelaut Bugis yang mengarungi samudra dengan layar tanja megahnya. Awal mula perahu Pinisi menjadi ikon pelaut Bugis berasal dari Tanah Beru, Bulukumba Sulawesi Selatan, di mana panrita lopi atau tukang kapal ahli membangunnya tanpa paku modern. Kapal ini lahir dari legenda epik La Galigo dan kebutuhan perdagangan Bugis-Makassar abad ke-14, menaklukkan rute Australia hingga Madagaskar. Untuk informasi lebih lanjut mengenai sejarah Perahu Pinisi hingga menjadi ikon Pelaut Bugis, simak terus uraian ini.

Daftar isi

Legenda Sawerigading dan Asal Mula Pinisi

Menurut cerita rakyat, asal-usul kapal Pinisi berhubungan dengan tokoh epik bernama Sawerigading dari kisah La Galigo. Ia digambarkan membangun kapal ajaib dari pohon Welenreng untuk pergi mencari jodoh ke Tiongkok.

Dalam buku Boats of Indonesia karya Eric W. Rudd, diceritakan bahwa kapal Pinisi yang dibuat Sawerigading pernah hancur diterjang badai. Potongan-potongan kayunya kemudian terdampar di daerah Ara dan Lemo-Lemo di Bulukumba. Dari sinilah masyarakat Konjo belajar cara membuat kapal besar.

Walaupun ini hanyalah legenda, kisah tersebut menggambarkan kuatnya budaya maritim masyarakat Bugis sejak masa Kerajaan Luwu pada abad ke-15, ketika kapal padewakang akhirnya berkembang menjadi kapal Pinisi dengan 7–8 layar.

Menurut Ocean Earth Travels, kapal Pinisi pertama baru benar-benar dibuat pada tahun 1906 di Tanah Beru. Namun teknologinya sudah mulai terbentuk sejak abad ke-19, ketika para pelaut Sulawesi menggabungkan layar tanja tradisional dengan model layar fore-and-aft milik kapal Portugis.

Keahlian membuat kapal kemudian diwariskan para panrita lopi, seperti Haji Dollah dan La Ode Makkasar, secara turun-temurun, tanpa gambar atau rancangan, hanya mengandalkan ukuran tangan dan ketelitian mata.

Teknik Bangun Pinisi dengan Ritual Sakral

Para panrita lopi (ahli pembuat perahu) membuat perahu Pinisi dari kayu ulin, jati, bitti, dan kandole. Mereka memakai teknik penyambungan tradisional dengan pasak kayu dan ikatan rotan yang tahan air laut.

Dalam jurnal The Process of Making a Pinisi Boat in Bantobahari karya M.Y. Ali dijelaskan bahwa pembuatan perahu ini juga melalui serangkaian ritual sakral, mulai dari sompe’ (selamatan pohon) hingga sompe ma’bunga (upacara peluncuran perahu).

Ritual ini dilakukan sebagai bentuk permohonan izin kepada roh penjaga hutan dan laut. Kayunya pun dipotong mengikuti fase bulan, karena dipercaya membuat kayu lebih kuat, dan prosesnya dilakukan tanpa mesin, hanya memakai gergaji kayu dan kampak.

UNESCO ICH menjelaskan bahwa Pinisi dapat tahan terhadap badai karena bentuk lambungnya yang lebar dan stabil serta layarnya yang lentur. Keunggulan ini membuat Pinisi mampu melaju hingga 20 knot meski tanpa mesin.

Peran Pinisi dalam Perdagangan Bugis-Makassar

Pelaut Bugis menggunakan kapal Pinisi untuk menjelajahi banyak wilayah, termasuk Australia (dalam sejarah disebut Macassan History), Filipina, dan bahkan sampai Madagaskar. Mereka membawa berbagai barang seperti rempah-rempah, kain, dan tradisi budaya seperti upacara siri'.

Dalam artikel Makassar: A Living Maritime Heritage di Travel Writer, pelabuhan Paotere di Makassar digambarkan sangat ramai pada abad ke-19, dipenuhi kapal Pinisi yang sedang bongkar muat secara manual karena belum ada alat berat seperti crane modern. Pinisi menjadi terkenal karena kuat, biaya operasinya murah, dan dianggap sebagai simbol kebebasan pelaut dari monopoli laut VOC.

Rangkaian layar (rigging) Pinisi muncul pada abad ke-19, hasil gabungan antara layar tradisional tanja milik Bugis dan gaya layar schooner dari Eropa. Namun bagian badan kapal tetap dibuat dengan cara tradisional.

Jurnal Sustainable Strategies for Preserving Pinisi di IJETT menjelaskan bahwa ketika mesin mulai dipasang di kapal pada tahun 1970-an, tradisi pembuatan Pinisi hampir saja hilang. Beruntung, tren wisata kapal Pinisi yacht kemudian membantu menghidupkan kembali industri dan tradisi ini.

Pinisi Jadi Yacht Mewah dan Diakui UNESCO

Pinisi kini banyak dibuat sebagai kapal wisata mewah seperti yacht modern, misalnya Club Med 2. Namun, para pembuat kapal di Tanah Beru tetap mempertahankan cara membangun Pinisi secara tradisional.

Dalam buku The Development Prospect of the Pinisi Vessel Industry karya Darmiyati dan tim dari UNM, diperkirakan akan ada sekitar 100 kapal Pinisi baru setiap tahun untuk kebutuhan wisata, dan semuanya tetap dibuat dengan ritual adat yang lengkap. Di Indonesia, Pinisi juga dijadikan sebagai ikon maritim Indonesia dan warisan budaya yang sangat berharga.

UNESCO mengakui seni pembuatan Pinisi pada tahun 2017, sehingga keberadaan sekitar 300 ahli pembuat kapal di Bulukumba semakin terlindungi. Merujuk Kemenpar.go.id, Pinisi pertama kali muncul di Luwu pada abad ke-15, tetapi Bulukumba kemudian menjadi pusat pembuatan Pinisi karena tradisinya yang kuat dan ketersediaan kayu berkualitas.

Baca juga: Cara Membedakan Perahu Tradisional Pinisi Asli Bugis-Makassar

(NDA)