Konten dari Pengguna

Asal Usul Reog Ponorogo dan Kisah di Balik Topengnya yang Penuh Misteri

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah anggota kelompok kesenian Reog Ponorogo melakukan atraksi di pelataran Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Sabtu (11/01/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah anggota kelompok kesenian Reog Ponorogo melakukan atraksi di pelataran Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Sabtu (11/01/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Reog Ponorogo merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional paling terkenal dari Jawa Timur, tepatnya dari Kabupaten Ponorogo. Pertunjukan ini tidak hanya menampilkan tarian yang megah, tetapi juga menyimpan kisah sejarah, simbolisme, dan nilai-nilai budaya yang kuat. Ciri khas Reog adalah topeng besar berbentuk singa dengan hiasan bulu merak di atasnya, simbol kekuatan dan keberanian. Di balik kemegahan pertunjukan tersebut, tersimpan kisah asal usul yang menarik dan makna mendalam yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Ponorogo. Artikel ini akan mengulas asal usul Reog Ponorogo dan kisah di balik topengnya.

Daftar isi

Asal Usul Reog Ponorogo dari Legenda dan Sejarah

Menurut cerita rakyat yang berkembang di Ponorogo, Reog berakar dari kisah legenda Kerajaan Bantarangin dan Prabu Kelana Sewandana. Dikisahkan bahwa sang raja ingin meminang Dewi Ragil Kuning, putri cantik dari Kediri.

Untuk menaklukkan hati sang putri, Prabu Kelana Sewandana membuat pertunjukan spektakuler dengan membawa seekor singa besar yang dihiasi bulu merak, kini dikenal sebagai Singa Barong.

Dalam versi lain yang dikutip dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Reog juga dianggap sebagai bentuk sindiran terhadap pemerintahan Majapahit pada masa itu.

Kepala singa melambangkan raja, sedangkan bulu merak menggambarkan pengaruh besar sang permaisuri yang dianggap terlalu mencampuri urusan kerajaan. Dari situlah muncul simbol perlawanan rakyat terhadap penguasa yang lalim, namun disampaikan melalui seni pertunjukan yang halus.

Kisah di Balik Topeng Singa Barong

Topeng Singa Barong adalah ikon utama dalam pertunjukan Reog Ponorogo. Terbuat dari kayu dadap dan dihiasi bulu merak asli, topeng ini bisa memiliki berat hingga 50 kilogram.

Pemain yang mengenakan topeng disebut Warok atau Dadak Merak, dan mereka harus memiliki kekuatan fisik serta spiritual luar biasa agar mampu menari sambil menggigit penyangga topeng di mulutnya.

Menurut Smithsonian Folklife Journal, topeng ini bukan sekadar properti, melainkan simbol dari keseimbangan antara kekuatan manusia dan alam.

Kepala singa menggambarkan kekuasaan dan keberanian, sedangkan merak di atasnya melambangkan keindahan serta kebijaksanaan. Dalam tradisi lama, seorang Warok harus menjalani pantangan tertentu, tidak boleh berbuat dosa besar, harus menjaga spiritualitas, dan memiliki kesucian niat agar mampu menarikan Reog dengan sempurna.

Tokoh-Tokoh dalam Pertunjukan Reog

Pertunjukan Reog Ponorogo terdiri dari beberapa tokoh utama, yaitu Warok, Jathil, Prabu Kelana Sewandana, dan Patih Bujang Ganong. Berikut informasi lengkapnya

  • Warok melambangkan kekuatan, keberanian, serta pelindung masyarakat dari kejahatan.

  • Jathil, yang awalnya dimainkan oleh laki-laki namun kini sering diperankan oleh perempuan, menggambarkan pasukan berkuda sang raja yang gagah dan setia.

  • Prabu Kelana Sewandana, memerankan seorang raja dari Kerajaan Bantarangin yang gemar berkelana dan bertapa.

  • Bujang Ganong menjadi simbol kecerdikan dan kelincahan dalam menghadapi masalah.

Kehadiran setiap tokoh ini memperkuat narasi bahwa Reog bukan sekadar tari, melainkan drama simbolik tentang perjuangan, cinta, dan kehormatan.

Perkembangan dan Pelestarian Reog Ponorogo

Kini, Reog Ponorogo tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga di kancah internasional. Setiap tahun, Pemerintah Kabupaten Ponorogo menyelenggarakan Festival Nasional Reog Ponorogo yang menarik ribuan wisatawan lokal dan mancanegara.

UNESCO bahkan telah memasukkan Reog Ponorogo dalam daftar usulan Warisan Budaya Takbenda Dunia. Menurut laporan dari UNESCO Intangible Heritage Division, kesenian ini dinilai sebagai salah satu bentuk ekspresi budaya yang mencerminkan identitas lokal, kreativitas, serta solidaritas sosial masyarakat Indonesia.

Selain itu, banyak sekolah dan sanggar seni di Ponorogo mengajarkan Reog kepada generasi muda agar tradisi ini tidak punah. Pemerintah daerah juga mendorong program digitalisasi seni Reog agar lebih mudah diakses dan dikenal secara global.

Baca juga: Sejarah Reog Ponorogo: Warisan Budaya yang Menjadi Ikon Jawa Timur

(NDA)